Penyederhanaan Rupiah Angkat Citra Negara

RupiahBENGKULU, Bengkulu Ekspress – Masyarakat diminta bersiap menghadapi penerapan rencana redenominasi uang rupiah, dimana redenominasi ini akan mengurangi 3 digit angka 0 dari uang rupiah, misalnya Rp 100 ribu Jadi Rp 100 rupiah. Kebijakan ini dilakukan menyusul rupiah yang sering dianggap tidak berharga oleh negara lain lantaran nominalnya yang sangat besar.

Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan Negara (Kanwil-DJPBN) Provinsi Bengkulu, Rinardi SE mengungkapkan, Kementerian Keuangan saat ini sedang mengawal rencana redenominasi ini. “Saat ini tengah dalam proses pengawalan dan rencananya akan segera diterapkan,” ujar Rinardi, kemarin (27/9).

Diungkapkan Rinardi, Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) saat ini sudah menyetujui program redenominasi rupiah pada 2017 ini dan masa transisinya akan dilakukan hingga 10 tahun kedepan dimana uang redenominasi akan berbaringan dengan uang keluaran Tahun Emisi (TE) yang lama. “Uang lama tetap bisa diterima sampai pemerintah secara resmi menarik mata uang TE yang lama,” ungkap Rinardi.

Lebih lanjut dijelaskan Rinardi, redenominasi ini tidak sama dengan sanering, kebijakan sanering adalah pemotongan nilai rupiah. Sedangkan redenominasi bukan memotong nilai rupiah tetapi hanya memotong 3 digit angka 0 dibelakang uang rupiah. “Jika tadinya Rp 100 ribu maka menjadi Rp 100 rupiah tetapi nilai uang Rp 100 rupiah setara dengan Rp 100 ribu,” jelas Rinardi.

Ditambahkan Rinardi, Indonesia selama ini termasuk negara yang sering di hina negara lain karena mata uang rupiah dianggap tidak berharga dimana nilainya banyak, bahkan ada beberapa negara menganggap nilai rupiah terlalu besar nilainya jika di negaranya.

“Seperti Malaysia angka 0 nya sedikit, masyarakat dunia menganggap uang rupiah adalah uang mainan, katanya negara berkembang tetapi nilai uangnya sangat besar,” tambah Rinardi.

Lebih lanjut dikatakan Rinardi, jika 1 Dolar Amerika setara dengan Rp 13.300 maka nanti jika sudah di redenominasi nilainya menjadi Rp 13.3, hal ini nanti akan meningkatkan derajat mata uang kita di dunia. “Redenominasi uang rupiah ini sangat membantu Indonesia agar tak lagi dipandang sebelah mata,” lanjut Rinardi.

Diakui Rinardi, sudah banyak Industri baik perusahaan dagang maupun ritel yang mengarah ke redenominasi, seperti di toko-toko penjual pakaian maupun kafe-kafe sudah banyak yang menggunakan list harga dengan singkatan seperti 10K, 20K, dan seterusnya. “Itu sebenarnya mengarah kesana karena kita sebenarnya sudah siap ke arah redenominasi. Masyarakat sudah mulai kearah sana,” tutur Rinardi.

Disisi lain banyak manfaat dari redenominasi ini diantaranya perbankan dan sistem keuangan lainnya akan lebih mudah dalam menginput nilai uang karena jumlah digit nolnya menjadi sedikit dan mampu menghemat penyimpanan hardisk karena tidak terlalu banyak nilai nol di mata uang rupiah. “Jelas manfaatnya sangat banyak, sehingga redenominasi sangat penting,” imbuh Rinardi.

Dikatakan Rinardi, syarat untuk melakukan redenominasi yaitu situasi ekonomi haruslah stabil. Memang rencana redenominasi sudah sejak 2013 tetapi pada 2014 adanya pemilihan Presiden sehingga kondisi ekonomi Indonesia saat itu baru bangkit dari krisis ekonomi pada 2008. “Rencananya memang sudah lama, namun DPR RI belum menyetujui waktu itu karena posisi ekonomi Indonesia sedang bangkit kembali dari keterpurukan krisis ekonomi global 2008,” sambung Rinardi.

Terakhir Rinardi mengungkapkan, saat ini DPR RI sudah setuju dan kementerian keuangan tengah menyiapkan berbagai hal untuk melakukan redenomisasi mata uang rupiah. “Masyarakat harus mengetahui informasi ini agar tidak terkejut jika nanti mata uang yang baru ada nilainya Rp 10 Rupiah pada kenyataannya nilainya Rp 10 Ribu rupiah,” tukasnya.(999)