Jumat, 21/09/2012 - 11:16 WIB
Bengkulu Tengah | beonline - Bengkulu Ekspress

Pelaku dan Korban Pembunuhan Di RS Jitra Bhayangkara Masih Lemas, Minta Hukuman Mati

Pelaku pembunuhan Alvian dan korban pembacokan Ridho Bustomo (26), Warga Camp Afdeling III PT Bio Nusantara Teknologi saat ini sama-sama dirawat di RS Jitra Bhayangkara. Keduanya masih terbaring lemah. Sejauh ini pelaku pembunuhan Alvian belum bisa diwawancarai karena jiwanya masih labil. Sementara korban Ridho meskipun masih lemas sudah bisa berkomunikasi. Korban tak menyangka sama sekali kalau niat baiknya melerai pertengkaran tetangganya Alvian yang ribut dengan istrinya justru menjadi petaka. Ridho dibacok oleh tetangganya yang kesetanan, bahkan Alvian malah menghabisi nyawa istrinya Suradewi (20) dan Cintia (2 bulan) pada Selasa malam (18/9) lalu. Ridho tak terima atas prilaku kejam tersangka Alvian. KOrban dan keluarganya meminta pelaku pembunuhan Afial yang kini sudah ditangkap polisi dihukum mati saja.Karena prilaku Afial sangat kejam dan merugikan orang lain. Ridho masih trauma dengan peristiwa sadis itu. Bahkan hinga kini Ridho belum bisa melupakannya.
Seperti apa peristiwa berdarah itu terjadi ?
Berikut Laporannya

 

Dedy Irawan
Bengkulu Tengah

Saat BE menjumpainya di RS Jitra Bhayangkara kemarin, Ridho masih terbaring lemah. Namun ia sudah bisa berkomunikasi. Dari pengakuan, Ridho, saat malam kejadian itu, ia tak bisa tidur lantaran ada suara di sebelah rumahnya yakni rumah Alvian. Saat itulah ia keluar dan menanyakan kepada Alvian ada masalah apa yang terjadi di rumahnya. Begitu tak ditanggapi, Ridho pun keluar, saat membalikkan badan itu kepala belakangnya langsung dibacok Alvian dengan parang sehingga mengucurkan darah. Ia pun sempoyongan bergegas meminta tolong sambil memegang bagian belakang kepala yang berdarah. “Saya cuma masuk ke rumah sebentar hendak menanyakan perihal masalah apa yang terjadi. Namun, tak begitu ditanggapi, saat membalikkan badan, kepala saya langsung dibacok. Saya langsung lari menyelamatkan diri, dan minta tolonga kalau saya dibacok,” ujar Ridho. Beruntung kakanya Sugianto langsung menolong dan membawanya ke rumah sakit.
“Saya tak tahu menahu hanya berniat menanyakan masalah saja, karena bersampingan rumah,” kata Ridho.
Sementara kakak Ridho, Sugianto meminta tersangka Alvian yang kini sudah ditangkap polisi dihukum mati saja.
“Saya minta dimatikan saja pelaku, karena adik saya sudah mau menolong meleraikan justru dikasih bacokan, saya sulit terima,” kata Sugianto, kakak Ridho ditemui di RS Bhayangkara Citra, kemarin.
Dijelaskan keluarga merasa dirugikan lantaran tak tahu apa-apa atas masalah Alvian, namun justru menjadi korban.
Diceritakan Sugianto, saat itu ia melihat langsung Ridho dibacok Alvian, karena letak rumahnya berhadapan langsung dengan rumah pelaku. Kejadian berlangsung pukul 22.00 WIB. “Saya tak mau tidur saat itu, lantas membuka jendela dan melihat Ridho keluar dari rumah di bacok Alvian. Melihat hal itu lantas saya langsung berlari menyelamatkan Ridho. Saya sempat masuk ke rumah dan melihat Alvian sudah dipegang kakaknya Sugih, yang juga ada di dalam rumah,” tutur Sugianto.
Ditambahkan, saat itu ia juga nyaris menjadi korban sabetan Alvian, bila tak segera keluar dari rumah Alvian bisa jadi ia ikut dibacok. Di dalam rumah terlihat istri dan anaknya sudah telungkup dalam keadaan tak bernyawa. Dan Alvian tengah dipegang kedua tangannya dari belakang oleh Sugih. “Begitu tahu Ridho dibacok saya menolong dan melihat sebentar ke dalam rumah di sana Alvian tengah memegang 2 senjata tajam, parang di tangan kanan dan pisau di tangan kiri,” ujar Sugianto.
Dilanjutkan Sugianto, segera setelah keluar dari rumah ia langsung membawa adiknya Ridho ke rumah sakit.
Terhadap peristiwa itu, keluarga korban meminta pelaku dihukum dengan hukuman setimpal. “Saya mint dihukum berat sesuai perbuatannya,” imbuh Sugianto.
Di sisi lain, Novi, kakak korban Suradewi belum mengambil sikap tegas. Pihaknya mengaku ikhlas dengan musibah yang dialami adiknya itu. “Kami ikhlas dengan musibah ini, cuma kami minta keluarga pelaku tak usah lari dan takut karena yang bermasalah adalah pelaku bukan keluarga pelaku,” ujar Novi. (**)

© 2005 - 2013 bengkuluekspress.com, All Rights Reserved