Pasutri Miskin Hidup di Dalam Hutan Tak Ada Beras, Makan Umbi-umbian

DONI/Bengkulu Ekspress TEKAD: Walaupun hidup serba kekurangan, namun Yakin (10) dan Eka (7) anak pasutri yang hidup di dalam hutan memiliki tekad untuk sekolah yang tinggi.
DONI/Bengkulu Ekspress TEKAD: Walaupun hidup serba kekurangan, namun Yakin (10) dan Eka (7) anak pasutri yang hidup di dalam hutan memiliki tekad untuk sekolah yang tinggi.

SEBERANG MUSI, Bengkulu Ekspress – Pasangan suami istri (Pasutri) Romi (50) dan Maryani (38) menetap di dalam hutan Bukit Pacat Desa Taba Padang Kecamatan Seberang Musi Kepahiang. Keduanya tinggal bersama dua orang anaknya, Yakin (10) dan Eka (7). Sudah puluhan tahun Romi dan istrinya menetap di kawasan hutan desa tersebut. Penyebabnya karena memang tidak memiliki rumah untuk pulang ke desa setempat.

Bahkan di hari-hari besar, seperti lebaran Idul Fitri, keluarga ini tetap berada di dalam hutan. Sehingga tidak merayakan lebaran sebagaimana orang pada umumnya. Terkadang untuk bertahan hidup, tak jarang keluarga dengan ekonomi lemah ini terpaksa makan umbi-umbian dan daun yang ada disekitar pondok tempat tinggalnya. “Saya akan berjuang sekuat mungkin, agar anak saya bisa bersekolah tinggi,” ucap Romi, kemarin (27/8).

Kemiskinan yang dialaminya, tak membuat keluarga ini mendapatkan bantuan program bantuan sosial (Bansos) pemerintah pusat dan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kepahiang. Seperti halnya Program Keluarga Harapan (PKH) yang selalu disalurkan pemerintah pusat untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat miskin.

Yoyon (40), warga Desa Taba Padang menuturkan, bila keluarga Romi hidup dibawah garis kemiskinan. Terlebih program bantuan tidak dapat disalurkan Pemerintah Desa (Pemdes) kepada warga di dalam hutan. Sebab Romi tidak memiliki Kartu Keluarga (KK) serta identitas lainnya.

“Cerita warga, keluarga ini ada yang hampir satu minggu tidak makan nasi. Mereka hanya merebus umbi-umbian yang ada didalam hutan untuk di makan,” tutur Yoyon. (320)