Panti Pijat Plus di Gunung, Banderol Dipatok Rp 250 Ribu

panti_pijat_kamar_pijat
foto: ilustrasi/net

KEBERADAAN panti pijat  plus – plus di kawasan gunung liku sembilan gunung Kabupaten Kepahiang marak. Namun, seolah -olah dibiarkan praktek dugaan mesum merajalela di kawasan tersebut. Mau tahu ceritanya, simak laporan berikut ini.

Doni P-Kepahiang   

KETIKA jurnalis koran ini langsung mengunjungi panti pijat plus-plus kawasan gunung langsung disambut dengan pelayan tempat usaha tersebut, Ci (30). Pelayanan  di lokasi panti pijat plus -plus bisa dibicarkan antara pengunjung dengan tamu di dalam kamar atau bilik.

Asal ada uang, semua permintaan pelanggan bisa dilakukan. Termasuk keinginan untuk berhubungan badan.  Bahkan, pelanggan di panti pijat plus-plus ada juga berasal dari kalangan pelajar, pejabat dan lainnya.

Wanita muda itu menuturkan,   bila semua pelayanan bisa dibicara, apbila sesuai dengan kesepakatan.
Untuk berhubungan badan dipatok banderol sebesarRp 250 ribu.

“Disini biaya kamarnya saja Rp 100 ribu bang, kita tidak dapat apa-apa itu baru biaya kamar. Kalau pijat nanti kita minta tip,    berapa aja bang,” ungkapnya.

Perempuan yang mengaku sudah memiliki suami dan anak di pulau jawa ini menyebutkan, bila di panti pijat tempatnya berkerja terdapat 4 orang wanita yang siap memberikan pelayanan untuk pelanggan.

“Kalau perempuannya ada 4 orang bang, kita di sini masing-masing memiliki kamar semua,” ujarnya.

Ia mengaku, biasanya tawar menawar harga berlangsung dibilik kamar. Setelah pelanggan masuk sehingga tidak diketahui orang lainnya. Sebab di depan panti pijat merupakan warung biasa yang menyediakan berbagai minuman hangat.

“Kalau obat kuat kita tidak ada bang disini, kita hanya sediakan jus pinang. Kalau jus pinang aja Rp 15 ribu,  kalau mau pakai telur ayam kampung jadi Rp 20 ribu,” tuturnya.

Meskipun mengaku tidak mengetahui khasiat jus pidang tersebut, namun pelanggannya yang meminta pelayanan hubungan badan rata-rata memesan jus pinang.

“Saya tidak tahu bang khasiatnya, tetapi banyak pelanggan yang datang pesan itu (jus pinang),” ucapnya.

Ci mengatakan, bila pelanggannya selama berkerja diwilayah gunung itu berbagai kalangan. Bahkan ada dari kalangan pelajar. Setelah melaksanakan tawar menawar di dalam kamar, hubungan layaknya suami istri berlangsung.

“Pelajar ada juga, kadang hanya pijat namun, ada juga yang minta pelayanan nanti. Kita di sini tergantung dengan nego aja, kalau ada uang yang kita layani,” katanya.

Buat laporan   
Jika keberadaan panti pijat di kawasan pegunungan liku sembilan Desa Tabat Monok Kecamatan Kepahiang meresahkan, warga sekitar diminta membuat laporan tertulis ke Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP). Bila adanya laporan tertulis dari masyarakat, tentunya dapat dijadikan dasar oleh Satpol PP untuk melaksanakan razia. Sehingga dapat dilakukan penindakan.

Dijelaskan Kabag Ops Sat Pol PP Kepahiang,  A Gani SSOs MM sejauh ini pihak belum ada menerima laporan pengaduan masyarakat yang merasa resah dengan aktivitas pekerja di panti pijat yang tak jauh dari RSUD Kepahiang.

“Kalau sejauh ini belum ada laporan, jika memang merasa terganggu silakan lapor,” ungkap Gani.

Gani menyebutkan,  bila keberadaan unit usaha yang memiliki izin operasi secara resmi tidak dapat sembarangan dirazia atau ditertibkan. Jika tidak adanya aktivitas ilegal, maka keberadaan panti pijat berjalan dengan baik.

“Kalau benar-benar ada enak, jika tidak bagaimana nanti kalau sudah dirazia,” ujar Gani. (320)