Pamit Jaring Ikan, Ditemukan Mengapung

Mayat
TEWAS: Polisi memeriksa mobil Land Cruiser milik jenazah atas nama A Chaidir Sais Warga Jalan Batanghari Kota Bengkulu yang ditemukan tewas di tepi Pantai Ujung Rt. 08 Pulau Baai, Senin (24/4). (Foto RIO/BE).

 BENGKULU, BE -Mayat laki-laki ditemukan mengapung kawasan Pantai eks Lokalisasi RT 8, Pulau Baai, Senin (24/4) sekira pukul 10.00 WIB. Mayat berbadan cukup gemuk itu pertama kali ditemukan Febri (26) warga Betungan yang hendak pergi memancing.

Dia sama sekali tidak menduga yang ia lihat itu mayat, karena dia mengira orang sedang berenang, lantaran posisi tubuh manusia itu terlentang. Tetapi setelah dia perhatikan betul, kepala manusia itu tergoyang-goyang lemas dihempas ombak.

Curiga, Febri kemudian mendekati sosok tubuh tersebut. Setelah didekati dari mulut tubuh manusia itu sudah keluar buih. Sontak saja Febri kaget, langsung menghubungi teman-temannya yang sudah terlebih dulu tiba di lokasi memancing.

“Saya lihat pertama kali seperti orang berenang, sama sekali tidak menduga itu mayat. Setelah didekati, mulutnya berbuih. Saya kaget, langsung nelfon kawan dan kemudian polisi,” ujar Febri.

Febri dan rekan-rekannya belum berani mengevakuasi mayat tersebut ke pinggir pantai. Mereka menunggu anggota polisi tiba dilokasi. Mayat tersebut hanya menggunakan celana pendek saat ditemukan. Mayat itu mengapung sekitar 10 meter dari bibir pantai.

“Saya dan teman-teman tidak berani mengangkat, nunggu polisi sampai,” imbuhnya.

Sekitar satu jam kemudian anggota Polsek Kampung Melayu, KSKP dan tim identifikasi Polres Bengkulu tiba dilokasi. Mayat tersebut langsung dievakuasi dimasukkan kedalam kantong mayat. Di sekitar lokasi ditemukan mayat ada satu unit mobil jenis Toyota Landcruiser Hardtop warna merah yang diduga milik mayat tersebut.

Dugaan polisi jika mobil itu milik mayat karena didalam mobil banyak ditemukan jaring ikan dan beberapa alat tangkap ikan. Polisi kemudian menggeledah mobil dan menemukan STNK dan SIM C yang diduga milik mayat tersebut. Dari identitas tersebut diketahui jika mayat bernama Chaidir Sais (69), warga Jalan Batang Hari No 65 RT 15 RW 3, Kecamatan Gading Cempaka.

Hal ini diperkuat dari koordinasi Polsek Kampung Melayu dengan anggota Bhabinkamtibmas Polsek Gading Cempaka yang langsung melakukan pengecekan ke alamat berdasarkan identitas yang ditemukan didalam mobil. Mayat kemudian dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara Jitra untuk dilakukan visum.

“Untuk sementara ini tidak ditemukan adanya tanda-tanda kekerasan dari tubuh korban. Besar kemungkinan korban tenggelam saat hendak menjaring ikan,” jelas Kapolres Bengkulu, AKBP Ardian Indra Nurinta SIK melalui Kapolsek Kampung Melayu Iptu Yuda Setiawan SH.

Dari hasil visum luar di Rumah Sakit Bhayangkara Jitra tidak ditemukan adanya tanda kekerasan ditubuh korban. Dari keterangan dr Rama Mandela, dokter yang melakukan visum luar jenazah Chaidir memperkirakan Chaidir tewas karena tenggelam. “Dari hasil visum luar yang kita lakukan, kami tidak menemukan adanya tanda-tanda kekerasan. Asumsi kami korban tenggelam karena tenggelam,” jelas dr Rama.

Isak tangis pecah saat anak perempuan dan manantu korban tiba di Rumah Sakit Bhayangkara Jitra. Terlebih lagi saat mereka masuk kedalam kamar jenazah melihat tubuh ayah mereka. Mereka nampaknya enggan ayahnya diotopsi. Dari keterangan menantu korban yang enggan menyebutkan nama, mertuanya itu pergi dari rumah hendak mencari ikan sekitar pukul 07.00 WIB. Tidak ada yang dicurigai, karena mencari ikan dengan cara menjaring sudah sering dilakukan mertuanya itu.

“Pergi jam 7 pagi, tiba-tiba dapat kabar bapak meninggal, jelas lemas dan kaget kami. Hanya saja sudah satu minggu ini isteri saya merasakan ada yang aneh dimatanya,” jelas menantu korban.

Pantauan dilapangan, diperkirakan korban tewas tenggelam sekitar pukul 08.00 WIB. Karena sekitar pukul 09.00 WIB beberapa pemancing tidak melihat tubuh korban mengapung dipinggir pantai saat melintas.

Tetapi beberapa pemancing sudah melihat mobil korban terparkir. Lokasi ditemukannya korban ini sekitar 500 meter ke arah kanan dari eks lokalisasi RT 8. Dari keterangan penjaga parkir pintu masuk ke Lentera Merah, jika pagi ombak memang tinggi (pasang). Biasanya jika orang menjaring ikan memang berangkat pagi-pagi sekali.

“Pagi tadi ombak memang tinggi, biasanya orang menjaring memang berangkat pagi,” pungkas tukang parkir tersebut.(167)