Pamelo Juara Grafis, Madya Juara Mendongeng

Madya Putri Utami
Madya Putri Utami

Muda dan Berprestasi di Kancah Nasional

Dua anak muda Bengkulu ini baru saja menorehkan prestasi di kancah nasional, dalam ajang berbeda. Prestasinya yang luar biasa ini bisa menjadi inspirasi anak muda lainnya.

=======
Medi KS & Endang S
Kota Bengkulu
===========
MEMILIKI prestasi cemerlang bisa menjadi kebanggaan tersendiri. Apalagi, event yang ditaklukan berskala nasional. Dua anak muda Bengkulu, Pameldo Abdul Aziz (24) dan Madya Putri Utami, baru saja menorehkan prestasi di kancah nasional, dalam ajang berbeda.

Pameldo Abdul Aziz (24) siswa Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP) Colorado Course Bengkulu, membawa nama Kota Bengkulu mendapatkan juara II dalam lomba kompetensi Desain Grafis Kemasan Khas Daerah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, yang dilaksanakan pada tanggal 10-12 September lalu di Hotel Atria, Tanggerang.

Sedangkan, Madya Putri Utami, buah hati pasangan Masri Shabihi dan Widya Kurniati Soegeng ini berhasil mengharumkan nama provinsi Bengkulu di Pekan Sastra Bahasa Se-Sumatera.

Ia berhasil menyisihkan 11 kontestan lainya, dan dinobatkan sebagai pemenang pertama dalam lomba dogeng se-sumatera.

Perjuangan Pamelo

Pameldo Abdul Aziz
Pameldo Abdul Aziz

Perjuangan Pameldo Abdul Aziz, sangat berat. Dalam kompetensi ini masing-masing perwakilan daerah harus membuat desain grafis untuk kemasan khas daerah dengan tema menuju masyarakat kompeten di era ekonomi kreatif, seperti contoh hasil desain yang dibuat oleh Pameldo ini bertema kue Bay Tat yang merupakan makanan khas Bengkulu.

Meski Bengkulu berada di urutan kedua, namun selisih perolehan nilai sangat ketat, karena untuk menentukan juara I beberapa juri profesional ini melakukan perdebatan yang cukup alot.

Untuk selanjutnya, karya desain grafis dari 6 pemenang tingkat nasional ini akan diikutkan ke pentas Packindo Star Award 2017 yang digelar pada akhir bulan ini. Tak hanya itu, dari Federasi Kemasan Indonesia juga memberikan bebas biaya untuk keikutsertaan dalam pentas tersebut.

Penganugerahan itu diberikan langsung Menteri Dikbud RI 13 September di Grand Metropolitan Mall Bekasi.

“Jadi perwakilan dari Bengkulu hanya 1 orang, Alhamdulillah bisa juara II tingkat nasional,” kata Pimpinan Colorado Course Hj Merry Witman melalui Ketua Divisi IT, Rado Anum SKom, kepada Bengkulu Ekspress, kemarin (13/9).

Juara Dongeng Nasional

Sementara, Madya Putri Utami, putri dari pasangan Masri Shabihi dan Widya Kurniati Soegeng ini berhasil mengharumkan nama provinsi Bengkulu di Pekan Sastra Bahasa Se-Sumatera.

Ia berhasil menyisihkan 11 kontestan lainya, dan dinobatkan sebagai pemenang pertama dalam lomba dongeng se-sumatera.

” Alhamdulillah bisa menang,” katanya.

Perempuan kelahiran 25 tahun silam itu tidak menyangka bisa menduduki posisi pertama, terlebih bisa mengalahkan ke 11 pendogeng lainya, yang merupakan anak asuh dari kampoeng dogeng dan relawan kampung dongeng.

Putri dua bersaudara ini, mengakui seni mendongeng ditularkan dari ayahnya Masri Shabihi, namun kecintaanya akan mendongeng baru diasahnya setelah lulus bangku kuliah. “Saya belajar otodidak, ya luar biasa bisa meraih juara I se-sumatera, ” katanya.

Dituturkan putri berhijab itu, kompetisinya ke Padang, Sumatera Barat itu telah dipersiapkan sejak Maret 2017.
Ia bersama tim kantor bahasa provinsi Bengkulu, sebelum keberangkatan digembleng terlebih dulu bersama kontingen lain. “Rasa Solid tim kantor bahasa sangat luar biasa, kami selama satu bulan digembleng supaya lebih baik, ” katanya.

Guru Taman Kanak-kanak Pembina II ini menuturkan, lebih meyenangi dunia dogeng dikarenakan pendongeng di Bengkulu masih minim.

Ia berkeinginan untuk merubah pola didik dan pola ajar guru terhadap anak didiknya. “Saya pengennya ada suasana perubahan, dan banyak pendongeng di Indonesia, ” katanya.

Perempuan yang akrab disapa Tami ini, mengakui menyukai dongeng masih baru, tepatnya setelah tuntas dibangku kuliah. Awalnya hanya ikut-ikutan mendongeng, setelah diasah dan bergabung dengan kampoeng dongeng serta terinspirasi dari teman-teman kampoeng dongeng dan didukung keluarga yang juga pendongeng, rasa cinta mendongeng mulai tumbuh. “Bapak saya juga pendongeng, seperti pepatah buah jatuh tidak jauh dari pohonya, ” ujarnya.

Ia mengatakan, mendongeng sangat dibutuhkan dalam perubahan, karena mendogeng bisa memacu sembilan kecerdasan anak, mulai kecerdasan verbal, spasial, kinestatik, dan lainya.

Menurutnya mendongeng memiliki tantangan sendiri, karena dengan mendogeng dapat merangsang kepandaian seseorang dalam stimulasi dalam segi bahasa, kognitif, seni dan banyak lagi.

Perempuan hijab yang suka menghayal itu menggantungkan semua harapanya, kemudian berihtiar meraihnya. Ia juga menghilangkan rasa minder dan rasa grogi disetiap saat tampil.

“Bekerja jangan tanggung-tangung, cintai dan kerjakan semaksimal mungkin, begitu juga dengan mendogeng cintai dulu, berekspresi, padu padankan gerak tubuh,” katanya. (247/805)

1 Comment

  • Reply rado 14 September 2017 at 14:05

    nice….

Leave a Reply

Your email address will not be published.*