Nyaris Ricuh, Lima Diamankan

RIO/Bengkulu Ekspress RICUH LAGI: Polisi mengevakuasi 5 warga binaan penghuni Rutan Kelas IIB Bengkulu yang diduga pemicu keributan antar penghuni rutan untuk dipindahkan menuju Lapas Kelas IIA Bentiring, Senin (18/12).
RIO/Bengkulu Ekspress RICUH LAGI: Polisi mengevakuasi 5 warga binaan penghuni Rutan Kelas IIB Bengkulu yang diduga pemicu keributan antar penghuni rutan untuk dipindahkan menuju Lapas Kelas IIA Bentiring, Senin (18/12).

BENGKULU, Bengkulu Ekspress – Protes sebagian warga binaan Rutan Kelas IIB Bengkulu nyaris membuat kericuhan, Senin (18/12). Warga binaan tersebut memprotes sikap pihak Rutan yang tidak merata dalam melakukan razia. Warga binaan menganggap razia dilakukan hanya diblok mapenaling serta pidum saja.

Sementara blok tipikor tidak tersentuh razia. Meski demikian Kepala Rutan Kelas IIB Bengkulu I Wayan Tapa Bara Bc Ip membantah jika pihaknya tidak merata melakukan razia. Protes sebagian warga binaan hanya sebagai bentuk pelampiasan saja karena petugas mendapatkan barang terlarang seperti handphone dan narkoba.

“Protes yang mereka lakukan hanya kamuflase saja karena banyak ditemukan barang terlarang saat razia. Kita juga melakukan razia di blok tipikor, bahkan ada beberapa barang yang kita sita dan itu ada buktinya,” jelas Karutan.

Berkaitan dengan narkoba yang ditemukan saat razia, Karutan mengatakan narkoba tersebut didapatkan saat petugas melakukan razia di ruang masa pengenalan lingkungan. Jumlahnya ada dua bungkus yang diduga narkoba jenis sabu. Narkoba tersebut ditemukan petugas didalam ruang mapenaling yang kapasitasnya 32 orang. Selain narkoba, alat komunikasi handphone serta sejumlah barang yang dilarang berada didalam Rutan berhasil disita petugas. Bagaimana narkoba tersebut masuk dan siapa pemiliknya masih dalam penyelidikan. “Kita masih selidiki siapa pemilik dan bagaimana narkoba tersebut masuk kedalam,” imbuh Karutan.

Mencegah protes membesar sehingga mengarah kepada kericuhan pihak Rutan kemudian berkoordinasi dengan Polres Bengkulu untuk melakukan pengamanan. Puluhan personil sabhara diturunkan untuk melakukan pengamanan. Pihak Rutan juga melakukan mediasi dengan warga binaan yang protes dan akhirnya amarah mereka bisa diredam.

Meski demikian, pihak rutan mengamankan lima orang warga binaan yang dianggap menjadi provokator dalam protes tersebut. Lima orang yang diamankan itu kemudian dipindahkan ke Lapas Kelas IIA Bengkulu. “Tidak sempat terjadi keributan, meski demikian kita amankan lima warga binaan yang kita anggap sebagai provokator,” terang Karutan.

Salah satu pengunjung Rutan enggan disebutkan namanya mengatakan, sempat mendengar keributan sekitar pukul 09.30 WIB. Pasca keributan tersebut jam besuk langsung ditutup, semua pengunjung yang hendak membesuk diperintahkan keluar Rutan dan besuk tahanan ditutup.

Dari cerita pengunjung tersebut keributan bermula saat tahanan bernama Andi Wujaya terpidana kasus pembunuhan tidak terima saat dirinya kedapatan membawa handphone. Andi kemudian memukuli salah satu tahanan pendamping (Tamping) karena kesal handphonenya kena razia. Para tamping lantas bersatu dan mengeroyok Andi.

“Saya dapat cerita dari orang dalam, katanya yang ribut itu Andi kasus pembunuhan dengan tamping. Terpaksa kami yang lagi didalam besuk kelaurga disuruh keluar, jam besuk juga ditiadakan untuk hari ini,” tegas salah satu pengunjung tersebut.(167)