Nasib Malang Bocah Tewas Terbakar, Ayah Pergi ke Pasar, Ibu Lomba Senam

rio-wulansari-ibu-jenazah-m-alfatih-korban-tewas-kebakaran-tanah-patah-jatuh-syock
SHOCK: Wulansari, ibu M Alfatih, korban yang tewas akibat kebakaran di Tanah Patah, Kecamatan Ratu Agung, kemarin (28/11). (Foto RIO/Bengkulu Ekspress).

KEBAKARAN yang menghanguskan lima unit bangunan di Jalan S Parman, Kelurahan Tanah Patah mengakibatkan satu nyawa melayang. Korban diketahui bernama Muhammad Alfatih (11), dia tewas mengenaskan setelah tidak berhasil keluar karena pintu Toko Berkah yang terkunci dari luar. Saat ditemukan petugas, tubuhnya berada di dalam freezer es krim dengan posisi meringkuk.

Rizky Soerya Tama – Kota Bengkulu

Saat ditemukan petugas pemadam kebakaran, posisi jenazah Muhammad Alfatih meringkuk di dalam freezer es krim yang terletak di sudut toko yang ia huni dengan keluarganya.

Diduga, bocah tersebut masuk ke dalam freezer karena beranggapan akan selamat dari kebakaran. Namun tindakan korban ternyata salah, api yang membakar bangunan terlalu besar, bahkan freezer es krim berbentuk persegi itu sampai meleleh.

Kondisi korban saat diangkat dari dalam freezer tersebut sangat mengenaskan, wajah sudah tidak bisa dikenali. Tangan dan kaki kiri hangus terbakar. Bahkan saat petugas memanggil Wulansari dan Nurman untuk melihat kondisi korban, orang tua korban langsung berteriak histeris. Ibu korban nyaris pingsan melihat kondisi anaknya terbakar mengenaskan.

“Posisi korban nyaris masuk kedalam freezer, kemungkinan dia mencari tempat yang dingin karena tidak bisa membuka pintu,” ujar salah satu pemadam kebakaran sembari terus menyemprotkan air ke atap bangunan yang masih mengepulkan asap.

Sebelum toko berkah yang dihuni Alfatih dan keluarganya terbakar, Alfatih diketahui sendirian berada di dalam rumah. Tidak ada yang mengawasinya.

Nurman ayahnya berada di luar sedang mencari sarapan, sedangkan Wulansari ibunya sedang menghadiri lomba senam di Pemkot. Pengasuh Alfatih, Atik diduga tidak sempat menyelamatkan korban karena saat ia sampai di rumah korban api sudah membesar.

“Ibunya lagi ikut lomba senam, terus ayahnya sedang keluar cari makan. Nah pengasuhnya ini sudah tidak bisa menyelamatkan lagi, karena api sudah membesar,” ujar Lukman ketua RT setempat.

Keluarga korban terlihat benar-benar terpukul kehilangan korban. Terlebih lagi melihat kondisi korban yang meninggal sangat mengenaskan. Bahkan polisi dan awak media kesulitan memintai keterangan orang tua korban. Pengasuh korban juga demikian, ia malah berteriak histeris saat didekati awak media sembari menolak diambil gambarnya. “Sudah jangan sorot-sorot,” diikuti teriakan histeris dan tangisan.

Jenazah korban saat berada di Rumah Sakit Bhayangkara langsung dibersihkan oleh dokter. Kondisi jenazah sudah tidak utuh, beberapa organ terbakar. Yang terparah ialah kaki kiri dan tangan kanan sudah putus akibat terbakar.

“Keadaan jenazah sudah tidak utuh lagi, beberapa organ sudah tidak utuh karena terbakar,” ujar dr Deby yang menangani jenazah korban.

Jenazah Alfatih kemudian dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Padang Dedok, tidak jauh dari rumah korban. Ratusan pelayat menghantarkan kepergian korban. Meski jenazah korban sudah dimakamkan, ibu dan pengasuh korban masih menangis histeris, belum bisa dan tidak percaya korban tewas dengan kondisi sangat mengenaskan.(***)