Mud Kerengge (65), Puluhan Tahun Menjadi Pencari Keroto Bisa Menyekolahkan dan Menikahkan 5 Anaknya

Mud Kerengge (65), warga Desa Tanjung Sanai 2 Kecamatan PUT Kabupaten RL yang penghidupanya dari mencari telur semut atau keroto
Mud Kerengge (65), warga Desa Tanjung Sanai 2 Kecamatan PUT Kabupaten RL yang penghidupanya dari mencari telur semut atau keroto

Profesi mencari telur semut atau keroto dari semut  jenis kerenggo untuk konsumsi pakan burung berkicau tidaklah mudah. Pasalnya profesi ini harus memiliki keahlian khusus seperti harus bisa memanjat pohon tinggi dan harus siap digigit semut ratusan semut ganas yang bisa menyebabkan kulit alregi hingga kudisan. Namun risiko ini tidak berlaku bagi Mud (45) warga Desa Tanjung Sanai 2 Kecamatan Padang Ulak Tanding (PUT) Kabupaten Rejang Lebong (RL) yang sudah puluhan tahun dan sudah menjadi profesi sebagai pencari telur semut atau keroto.

MANSUR, PUT

Setelah menikah dan menetap di Desa Tanjung Sanai 2 puluhan tahun lalu, Mud sudah mencari keroto untuk dijual ke peternak burung berkicau.

Sebab itulah hingga kini namanya melekat menjadi Mud Keroto atau Mud Kerengge oleh masyarakat sekitar dan para sopir taksi angkutan desa.

Pria tinggi jangkung dengan kepala botak ini sudah menjaul keroto lama sekali, mulai harga keroto masih Rp 3 ribu hingga harga kroto saat ini mencapai Rp 100 ribu.
Mahalnya harga keroto itu karena untuk mencarinya bukan segampang membalikan telapak tangan seperti sulap, sebab telur semut jenis kerenggo ini bisa didapat di pohon atau di pohon batang kopi yang sudah tinggi dan sudah tua.

Mud juga mesti berangkat pagi dari pukul 08 hingga 09 WIB ib pagi, sebab jika hari siang dan cuaca panas semut kerenggo sangat buas dan sangat suka menggigit ke badan.

“Kesulitannya lagi, satu titik sarang semut yang didapat tidaklah banyak menghasilkan telur. Jadi membutuhkan banyak sarang kerenggo untuk mendapatkan 1  hingga 2 kg, itupun bila cuaca terang atau hari panas jika hari penghujan,” ujar Mud.

Dari penghasilan mencari telur semut ini, Mud bisa menyekolahkan hingga menikahkan 5 orang anaknya.

Untuk mencapai lokasi mencari keroto, Mud harus mengeluarkan ongkos dari rumah hingga ke pengepul keroto hingga Rp 25 ribu,” ujar Mud, saat di temui BE di rumahnya.

Mud mengaku, jika ada rezeki, ia bisa mendapatkan 3 hingga 4 kg keroto. Namun kalau hujan hanya mendapatkan sedikit anak semutnya.

“Jika di lokasi hari hujan saya beralih mencari ulat bambu yang harganya 1 ulat dihargai Rp 100 dan satu hari bisa mendapatkan 1000 ulat bambu yang mendapatkan Rp 100 ribu selain dari uang keroto,” terangnya.

Amsa, istri Mud mengatakan, berkat keyakinan dirinya bersama dengan sang suami, mereka dapat membangun rumah. Mud mencari makan mencukupi kebutuhan dan sang istri juga tekun berkebun bisa membangun rumah dari batu bata.(222)