Mengancam Bunuh, Anak Kandung Dipolisikan

KAUR, Bengkulu Ekspress – Air susu dibalas dengan air tuba.  Itulah pepatah yang dirasakan Buyung Aluan (45), warga Desa Manau IX I Kecamatan Padang Guci Hulu (Pagulu) Kabupaten Kaur.  Ia terpaksa melaporkan anak kandungnya RM (27), ke Mapolres Kaur.  Alasannya Buyung tak terima dengan perlakuan anaknya, karena telah melakukan tindak pidana dengan mengancam korban sebilah pisau.

“Ya untuk pelaku yang melakukan pengancaman kepada orang tuanya itu saat ini sudah kita amankan di Polres,” kata Kapolres Kaur AKBP Bambang Purwanto SIK, melalui Kasat Reskrim Polres Kaur AKP Johan Andika SE SIK, kemarin (14/11).

Dalam laporan korban ke polisi, peristiwa yang memilukan ini terjadi Minggu (13/11) sekitar pukul 22.00 WIB di rumah korban di Desa Manau IX I.  Kejadian itu berawal dari pelaku yang pernah menikah ini pada saat itu pelaku datang kerumah orang tuanya dengan tujuan ingin meminta uang kepada korban (ayah korban) sebesar Rp 3 juta dengan alasan korban ingin mencari kerja ke Kota Bengkulu. Akan tetapi korban tidak bisa memenuhi keinginan pelaku. Karena tidak bisa memenuhi keinginan pelaku tiba-tiba pelaku mengancam korban mengunakan sebilah pisau dengan mengarahkan kewajah korban dengan maksud ingin membunuh korban.  Namun perbuatan korban dapat dicegah oleh keluarga korban lainnya. Atas kejadian tersebut korban mengalami trauma, guna menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, korban akhirnya melaporkan sang anak ke polisi. Mendapati laporan korban, polisi langsung bergerak cepat dan meringkus pelaku.  Selanjutnya pelaku langsung diamankan ke Mapolres Kaur guna proses hukum selanjutnya.

“Untuk saat ini pelaku masih dalam pemeriksaan kita, dan kita belum tau pasti motif yang dilakukan pelaku. Tapi dari keterangan korban pelaku melakukan ini karena keinginanya tidak bisa dipenuhi,” jelas Kasat.

Sementara itu, RM saat ditemui wartawan di dalam tahanan Mapolres Kaur kemarin (14/11), membantah jika ia ingin membunuh bapak kandungnya itu. Ia pada saat itu hanya ingin meminta uang kepada korban untuk pergi ingin mencari kerja ke kota Bengkulu. Namun keinginannya itu tidak dipenuhi sang ayah.  “Saya itu hanya bentak saja dan tidak ngancam mau bunuh itu, waktu itu saya memang khilaf,” sesalnya. (618)