Melihat Stasiun Kereta Api Tanpa Rel yang Terbengkalai

Seluruh Kaca Pecah, Atap dan Pintu Dijarah

RIO-STASIUN KERETA API PL BAY TERBENGKALAI (1)Nasib stasiun kereta api yang berada di Pulau Baai, Bengkulu kian mengenaskan. Pasalnya, stasiun yang dibangun sekitar tahun 2005 tersebut makin tak terurus. Kondisinya pun sangat memprihatinkan karena semua kaca yang dulu tertempel di stasiun itu pecah dan berserakan di lantai. Pintu, jendela dan atap yang sempat terpasang juga sudah hilang, dijarah maling.

TEDI CAHYONO, BENGKULU

SEPI. Itulah kesan pertama jika berkunjung ke stasiun kereta api yang rencananya akan menghubungkan Kota Bengkulu dengan Sumatera Selatan dan Sumatera Barat tersebut. Sebab, tak ada aktivitas warga sekitar di lokasi yang berada di tengah-tengah kebun sawit milik PT Pelindo itu. Hal inilah mungkin yang membuat bangunan itu akhirnya dipreteli maling.

Jika hendak mampir untuk melihat kondisi stasiun yang dibangun pada era kepemimpinan Agusrin dan Syamlan ini, jangan lupa untuk mengenakan sepatu. Pasalnya, di sekitar bangunan berserak kaca-kaca pecah yang bukan tidak mungkin akan membuat telapak kaki berdarah.

Puluhan jendela dan ventilasi yang dulu pernah terpasang juga sudah hilang. Begitu juga dengan pintu-pintu yang terbuat dari kaca. Semuanya ikut digondol maling, termasuk pintu toilet yang kondisinya sangat jorok.

Atap-atap yang terbuat dari genteng metal juga nampak telah koyak-mengoyak. Di beberapa sudut sudah bolong akibat dihempas angin laut. Sementara 2 atap jenis policarbonate (PVC) yang ada di muka dan belakang gedung sudah lenyap tanpa bekas.

Lebih dari setahun yang lalu, gedung seluas lebih kurang 60 meter persegi itu memang tak dijaga. Pasalnya, Mbah Sukir yang dulu sempat dimandatkan untuk menjaga gedung tersebut sudah meninggal.

“Sekarang sudah tidak ada lagi yang jaga. Suami saya kan sudah meninggal,” kata Sukirtino, istri Mbah Sukir, kepada BE, kemarin (19/10).
Ia mengakui, jika daerah tersebut memang rawan penjarahan. Pasalnya, bukan hanya bangunan dua lantai itu saja yang menjadi sasaran pencuri. Rumahnya pun sempat disatroni maling saat ditinggal pergi.

“Rumah saya saja pernah kemalingan dan dibongkar orang, apalagi gedung itu,” jelasnya.

Dulu, kenang nenek berdarah Jawa itu, suaminya sempat memasang portal agar orang tidak sembarangan masuk. Namun, portal yang terbuat dari bambu tersebut sudah rusak dimakan waktu. “Sekarang saya mau pasang nggak ada duit,” kata dia.

Terlebih lagi, pihak Pemerintah Provinsi belum ada yang mendatanginya untuk menjelaskan status bangunan tersebut. Bahkan, honor untuk suaminya juga banyak yang tak sempat dibayarkan dengan alasan dana belum cair.

“Dulu waktu bapak meninggal ada yang datang. Kasih uang shalawat. Tapi itu udah lama,” imbuhnya.

Dengan alasan itu, ia masa bodoh dengan bangunan mangkrak ini. “Bukan urusan saya,” kata dia. Tapi, pada dasarnya, ia mendukung jika pemerintah ingin melakukan revitalisasi bangunan tersebut, ketimbang jadi terlantar dan lebih cocok disebut rumah hantu daripada stasiun. (**)