Media Punya Peran Tangkal Radikalisme dan Terorisme

MELTA/Bengkulu Ekspress. Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Provinsi Bengkulu mengunjungi Graha Pena Bengkulu Ekspress, untuk menjalin kerjasama dalam menangkal radikalisme dan terorisme di wilayah Bengkulu.
MELTA/Bengkulu Ekspress. Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Provinsi Bengkulu mengunjungi Graha Pena Bengkulu Ekspress, untuk menjalin kerjasama dalam menangkal radikalisme dan terorisme di wilayah Bengkulu.

BENGKULU, Bengkulu Ekspress – Media berperan penting dalam menangkal paham radikalisme yang belakangan mulai berkembang. Pemberitaan media diharapkan mampu memberikan informasi yang terpercaya dan bermanfaat bagi masyarakat serta terbebas dari berita hoax yang akan menimbulkan propaganda dalam masyarakat yang berakibat pada perpecahan bahkan tindakan terorisme.

Kasubdit Pemberdayaan Masyarakat Badan Nasional Penanggulangan Terorisme Republik Indonesia (BNPT RI), Dr Andi Intan Dulung mengatakan, saat ini pihaknya bekerjasama dengan Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Provinsi Bengkulu dan  berbagai media baik media nasional maupun lokal untuk menangkal segala macam bentuk radikalisme.

“Kami menggandeng media untuk ikut membantu menangkal paham radikalisme dalam masyarakat yang berpotensi menimbulkan perpecahan dan propaganda,” ujar Intan pada saat mengunjungi Graha Pena Bengkulu Ekspress kemarin (11/10).

Diungkapkan Intan, media merupakan rescuenya (penyelamat, red) masyarakat dengan cara menyampaikan berita yang baik dan benar. Pihaknya berharap media bisa memberitakan yang baik karena media masih diharapkan masyarakat untuk memberikan informasi yang dipercaya dan bermanfaat. “Jangan sampai masyarakat salah mengkonsumsi informasi yang belum jelas kebenarannya dari media hingga akhirnya paham radikalisme berkembang dan memecah belah bangsa bahkan berujung pada tindakan teroris,” tutur Intan.

Sementara itu, Ketua FKPT Provinsi Bengkulu, Brigjen (Purn) Iskandar Ramis mengungkapkan, ada tiga kekuatan politik terbesar yaitu demokrasi, republik dan pers, dimana pers sangat berperan penting dalam mengedukasi masyarakat dalam penanggulangan terorisme di masyarakat. “Kalau di Bengkulu memang masih minim gerakan teroris, status Bengkulu rendah tetapi tetap harus waspada terutama radikalisme yang bisa saja menyerang kapan saja. Pers diharapkan bisa membantu menangkal radikalisme dan terorisme,” ujar Iskandar.

Dewan Pers, Jimmy Silalahi mengatakan, isu terorisme saat ini memang masih sangat sering didengar. Bahkan Jimmy mengungkapkan hal tersebut bisa dilihat dari kasus yang muncul beberapa waktu lalu yaitu kejadian penembakan terhadap warga sipil di Las Vegas.

“Berdasarkan hasil investigasi yang dilakukan oleh Kepolisian Las Vegas pelaku penembakan warga sipil tersebut sangat terobsesi dengan beberapa kasus sebelumnya yang pernah terjadi seperti di Paris dan Eropa. Bahkan sebenarnya pelaku penembakan di Las Vegas itu bukan teroris,” ujar Jimmy.

Lebih jauh dikatakan Jimmy, pelaku penembakan tersebut setiap hari selalu mengkonsumsi berita dari media, dimana isu teror kerap kali terjadi. Menanggapi hal tersebut, media memiliki peran yang sangat penting dalam membentuk kepribadian seseorang.

“Sekarang senjata berbahaya bukan AK-47 atau granat lagi, tetapi media juga sangat berbahaya karena pemberitaan yang dilakukan terus-menerus mampu membentuk kepribadian seseorang,” tutur Jimmy.

Jimmy mengaku, peran media sangat besar, sehingga media dituntut memberitakan hal yang benar dan mendidik agar perilaku menyimpang seperti terorisme tidak terjadi yaitu dengan memberikan informasi kalau teroris bukanlah kelompok yang harus ditakuti. Walaupun dalam tiga bulan terakhir kasus teroris di Indonesia memang tidak banyak. Aksi-aksi nyata terorisme telah mengalami penurunan, karena upaya pihak yang berwajib melakukan penangkapan di berbagai wilayah serta peran aktif media dan masyarakat dalam memberikan informasi. “Kita harus ubah pola pikir masyarakat, kalau masyarakat berhasil melawan rasa takut terhadap teroris maka kita berhasil. Karena teroris itu senang kalau masyarakat takut, oleh karena itu, kita harus lawan teroris dengan keberanian,” ungkap Jimmy.

Lebih lanjut Jimmy mengatakan, saat ini, baik BNPT dan Masyarakat harus gantian yang meneror teroris, jangan teroris terus yang melakukan teror. Untuk itu dibutuhkan sebuah rencana strategik yaitu ketika teroris memunculkan propaganda dan masif di media sosial maka masyarakat dapat melawannya dengan keberanian dan tidak takut.

“Inteligen media lebih tajam daripada inteligen Negara. Kita harus kompak karena mereka masih ada dan kita harus mengedukasi masyarakat, jangan takut teroris dan tetap waspada,” lanjut Jimmy.

Jimmy juga mengungkapkan, selain memberitakan hal yang mengedukasi masyarakat, media juga harus bisa dipercaya. Media harus memberitakan sebuah berita yang benar sesuai fakta dilapangan dan mampu menanggulangi teroris serta menangkal berita hoax.

“Kewajiban moral media adalah mengantarkan masyarakat untuk siap memilah mana yang bisa mengedukasi masyarakat jangan memberikan berita hoax seperti dari media sosial yang memicu propaganda,” ungkap Jimmy.

Selain itu, Anggota Majelis Etik Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia, Willy Pramudya, mengatakan, 80 persen Wartawan di Indonesia tidak lagi mengenal kode etiknya sendiri, contohnya setelah kejadian Bom Sarinah, ada 7 TV nasional yang gagal memberitakan kejadian tersebut dan harus ditegur Komisi Penyiaran Indonesia (KPI). Kegagalan media tersebut karena hanya berebut kecepatan memberitakan tanpa melakukan verifikasi. “Media tersebut banyak memberitakan fakta yang tidak baik seperti teroris jenazahnya berbau wangi padahal semua itu telah di setting. Selain itu, seperti kasus teroris Santoso dimana ada media yang memberitakan meninggal dengan tersenyum, padahal semuanya tidak benar,” ungkap Willy.

Namun dikatakan Willy, menanggapi hal tersebut satu tahun kemudian berbagai media diajak untuk berdialog. Media tidak diperkenankan lagi memberitakan dan menampilkan gambar korban terorisme dan pemberitaan lainnya yang belum bisa diverifikasi.

“Literasi media itu perlu, mari membangun profesi Jurnalisme dan melek media secara khusus melawan hoax dan melek media secara umum untuk meningkatkan literasi kepada Masyarakat,” tukas Willy.

Ketua Bidang Media Massa FKPT Provinsi Bengkulu, Usman Yasin mengatakan tujuan kita berkunjung ke lembaga penyiaran dan media masa baik ke RRI maupun Bengkulu Ekpress karena, ini adalah salah satu alternatif agar informasi yang diberikan sampai kepada masyarakat sebagai pendengar maupun pembaca yang ada dipelosok-pelosok desa untuk dapat mendeteksi dini dalam pencegahan paham radikalisme. “Dengan adanya informasi dan pengetahuan yang mereka terima, masyarakat lebih waspada dan dapat menginformasikan kepada FKPT Bengkulu agar dapat ditindak lanjutkan dalam pencegahan terjadinya Terorisme,” tambahnya.(999/cik13/adv)

 

    Leave a Reply

    Your email address will not be published.*