Mahasiswi Cantik Ini Sudah Punya 60 Karyawan

Bengkulu
Kafe Key Lab’s di Jalan Panderman milik Sarah selalu ramai pembeli. Sarah Salsabila saat berada di Hong Kong (inzet). Foto: Sarah For Jawa Pos Radar Malang

jpnn.com – Sarah Salsabila bisa dibilang sukses dalam berbisnis. Betapa tidak, di usianya yang baru 21 tahun, mahasiswi Universitas Brawijaya ini sudah punya 3 kafe dengan 60 karyawan. Bagaimana dia membangun usahanya itu?

FARIK FAJARWATI

SARAH, begitu dia disapa, nampak anggun dengan gaun berwarna biru saat ditemui Radar Malang (Jawa Pos Group), beberapa waktu lalu.

Di balik wajahnya yang rupawan, tidak banyak orang tahu bahwa Sarah adalah pemilik tiga cafe yang cukup ternama di Kota Malang, yakni kafe Cotton Inc, Key Lab’s, dan Taichan.

Total, lebih dari 60 karyawan dia pekerjakan untuk membantu pengelolaan kafe miliknya.

Bisnis yang dijalankan tersebut, tidak serta-merta dimodali orang tua, tetapi juga hasil kerja keras Sarah yang sebelumnya sempat merintis usaha online.

”Awalnya aku gabut (gaji buta, tidak banyak yang dikerjakan) banget karena cuma kuliah aja. Aku kan anaknya suka traveling, aku mikir dong gimana caranya supaya aku bisa traveling pakai uangku sendiri. Pertama banget itu, aku sempat jualan pakaian secara online,” cerita Sarah.

Bukan hanya mengandalkan berjualan online, Sarah juga tidak pernah menolak untuk menerima endorse.

Maklum, wajah cantik dan senyum manis Sarah tak pelak membuat pelaku bisnis online menguber gadis ini untuk menjadi model iklan di media sosial.

Dia mengaku, setelah terkumpul modal yang cukup, akhirnya Sarah memilih untuk merintis usaha yang lebih mapan.

”Karena suka traveling, aku kepikiran buat bikin kafe untuk nongkrong dan berdirilah Cotton Inc pas awal tahun 2014. Setelah itu berlanjut bikin kafe yang lain,” jelas dia.

Tekad Sarah, dengan membuka usaha ini, dia juga ingin memberikan contoh dan motivasi pada teman-teman seusianya untuk bekerja sejak muda.

”Buat aku, bisa bayar kuliah dan punya penghasilan sendiri itu goals untuk membahagiakan orang tua,” ujar putri anggota Komisi B DPRD Kota Batu Fahmi Al Katiri dan Turaya Bawatzir tersebut.

Selain membahagiakan orang tua, dengan bisnis yang dia jalankan saat ini, Sarah pun bisa leluasa menjalankan hobi traveling-nya.

Dia yakin dengan prinsip, siapa yang mau berusaha, maka keajaiban akan terjadi.

Kemampuan Sarah untuk mengatur penghasilannya, sama sekali tidak digali secara khusus.

Mahasiswa Jurusan Hukum Internasional Universitas Brawijaya tersebut lebih banyak belajar dari pengalaman di lapangan.

”Tidak ada basic sama sekali, pokoknya aku learning by doing, pengalaman di lapangan benar-benar aku jadikan pelajaran supaya bisa dievaluasi,” ujar gadis kelahiran 28 Maret 1996 itu.

Ada satu hal yang menurut Sarah menjadi kunci keberhasilan di usianya yang masih muda. ”Berdoa dan nurut apa kata ibu,” tegasnya.

Bagi Sarah, doa kepada Tuhan dan perkataan dari sang ibu adalah satu-satunya kunci keberhasilan usahanya.

Berkat restu dan dukungan dari kedua orang tuanya jugalah, dia bisa membiayai kebutuhan hidupnya sendiri sejak berusia 18 tahun.

Meski berbisnis adalah passion-nya, alumnus SMA Negeri 1 Batu tersebut tidak pernah menomorduakan urusan pendidikan.

”Bisnis harus jalan, pendidikan juga harus tuntas,” tekad mahasiswi semester delapan itu.

Walaupun disibukkan dengan ketiga kafenya, Sarah tetap berkomitmen untuk bisa menyelesaikan studinya tepat waktu.

Untuk bisnis, biasanya Sarah akan mengawasi usahanya saat sore hingga malam, sementara paginya digunakan untuk kuliah.

Sarah mengaku, karena waktu istirahatnya terkuras, dia sering berangkat ke kampus tanpa mandi.

”Pokoknya aku harus tetap kuliah, biar nggak mandi ya biar, yang penting nggak bolos,” katanya sambil terkekeh.

Sarah sendiri sekarang sedang disibukkan dengan tugas magangnya di Kantor Kedutaan Besar Republik Indonesia di Singapura.

Jika dilihat, hobi jalan-jalan Sarah cenderung tidak biasa.

Sulung dari tiga bersaudara ini sangat suka berlibur ke luar negeri.

”Sudah puluhan (negara), sampai lupa sudah ke mana aja,” terangnya.

Namun, ada beberapa negara yang membuat Sarah terkesan antara lain seperti Belanda, Jerman, Prancis, Tiongkok, Hong Kong (kota di bagian tenggara Tiongkok), dan negara-negara di Eropa lainnya.

Hobi traveling yang dia gandrungi itu, bukan tanpa alasan.

Selain berlibur, kedatangannya ke negara-negara maju tersebut juga dimanfaatkan untuk belajar.

”Karena aku sekarang lagi menjalankan bisnis kuliner, jadi setiap datang ke tempat nongkrong, selalu aku amati kalau ada manajemen yang bagus. Nah, itu nanti yang aku terapkan di bisnis,” ujar dia.

Di kafe miliknya, Sarah telah membangun sistem yang mana setiap outlet sudah memiliki manajer, supervisor, tenaga administrasi, dan tenaga lapangan.

”Jadi kalau aku tinggal insyaallah sudah tidak apa-apa,” beber dia.

Soal risiko, Sarah pun tidak ingin berandai-andai karena baginya, semua usaha punya risiko masing-masing.

”Dihindari juga nggak mungkin karena risiko itu bagian dari jalannya usaha. Cuma kalau bisa, gimana caranya aja kita meminimalisasi risiko yang berpeluang menimbulkan kerugian,” tambahnya.

Tidak hanya mengembangkan passion berbisnis untuk dirinya sendiri, kini Sarah mulai menularkan kemampuannya pada sang adik.

”Ya kecil-kecilan dulu yang penting coba belajar. Karena adikku cowok, jadi aku arahkan untuk coba usaha di bidang mekanik,” tukasnya.

Tidak hanya sampai di situ, dalam waktu dekat, Sarah juga akan membuka cabang usaha kafenya di Surabaya dan Bali. (*/c4/lid)