Literasi Dan Ikluisi Pasar Modal Rendah

REWA/BE Kepala Perwakilan Bursa Efek Indonesia (BEI) Bengkulu, Early Saputra saat menyampaikan materi pada Investor Gathering Bengkulu di Hotel Santika Bengkulu, pukul 19.20 WIB, Jumat (22/9).
REWA/BE Kepala Perwakilan Bursa Efek Indonesia (BEI) Bengkulu, Early Saputra saat menyampaikan materi pada Investor Gathering Bengkulu di Hotel Santika Bengkulu, pukul 19.20 WIB, Jumat (22/9).

BENGKULU, BE – Tingkat literasi dan iklusi masyarakat terhadap pasar modal masih sangat rendah. Bahkan dapat dikatakan sangat memprihatinkan.

Kepala Perwakilan Bursa Efek Indonesia (BEI) Bengkulu, Early Saputra mengatakan, bahwa tingkat literasi atau pemahaman masyarakat terhadap pasar modal hanya 3%. Sedangkan untuk tingkat inklusi atau pemanfaatan terhadap pasar modal masih 0.1%.
“Untuk itu, sosialisasi terkait pasar modal memerlukan kerja keras dari seluruh pihak, baik dari OJK, Bursa Efek Indonesia, dan perusahaan sekuritas,” kata Early pada Investor Gathering Bengkulu di Hotel Santika Bengkulu, pukul 19.20 WIB, Jumat (22/9).

Early menjelaskan inklusi itu seperti narkoba, dimana orang hanya tau namanya sedangkan cara menggunakannya tidak tahu. Kalau di Pasar Modal orang tahu ada saham dan obligasi tetapi kebanyak orang tidak tau bagaimana membeli saham dan menyimpannya.
“Untuk itu kita akan terus meningkatkan literasi dan iklusi di Pasar Modal, agar banyak masyarakat bisa menabung saham,” jelas Early.

Early berharap, tingkat literasi maupun inklusi masyarakat Indonesia khususnya Bengkulu terhadap pasar modal mengalami peningkatan.
“OJK dan BEI terus memperbaiki tingkat literasi dan inklusi melalui peningkatan kuantitas sosialisasi agar bisa menyamai tingkat literasi dan inklusi di bidang keuangan secara umum,” pungkasnya.(999)