Listrik Digilir, Air Kering

BENGKULU, BE – Kemarau panjang yang terjadi di Provinsi Bengkulu berdampak negatif pada kinerja pelayanan dua perusahaan pelat merah, PT PLN (Persero) dan PDAM Kota Bengkulu. Pasalnya, kondisi cuaca ini membuat defisit air sungai menurun drastis. Alhasil, daya listrik yang diproduksi PLN pun ikut anjlok dan melakukan pemadaman bergilir.
Menurunnya kapasitas air sungai juga berpengaruh pada PDAM. Dalam kondisi normal, air sungai yang bisa diolah bisa mencapai 5.000 liter per detik. Namun saat ini hanya mencapai 1.000 liter per detik. Belum lagi, kekeringan membuat masyarakat berbondong-bondong untuk mengambil air ke sungai dan membuat kapasitas air menjadi ikut menurun.
“Kalau kita ego, kita bisa saja ambil semua air sungai. Tapi hilirnya nanti bisa kering dan masyarakat tidak bisa menggunakannya,” kata  Kepala Ipanelas PDAM Tirta Kencana Kota Bengkulu, Marleni, di Kantor PT PLN (Persero) Area Bengkulu, kemarin.
Tak hanya faktor cuaca, lanjutnya, kebijakan byar pet dari PLN juga malah menambah beban perusahaan air milik daerah ini. Pasalnya, jika listrik mati, maka proses produksi air juga ikut mati. Sedangkan sumber daya utama PDAM hanya berasal dari listrik PLN. Memang, PDAM punya genset. Namun kondisinya sudah tua dan tidak mampu untuk bekerja maksimal.
“Kenapa kita krisis air? Karena faktor cuaca, juga karena pemadaman listrik sehingga kita tidak bisa produksi,” ujarnya.
Karena itu, ia minta agar PLN untuk memetakan jalur khusus sehingga bisa memilah ketika melakukan pemadaman bergilir. Misalnya, jalur PDAM tidak mati-mati, sehingga tetap bisa produksi. “Kadang susah jelaskan ke masyarakat. Air bukan masalah PLN saja, kita (PDAM) juga merasakan,” imbuhnya.
Terlebih lagi, Marleni mengatakan, bendungan penangkap air punya PDAM juga sudah bocor. Rencana pembangunan bendungan yang dipatok Rp 800 miliar pun tak kunjung bisa terealisasi lantaran kepentok dana. Karena itu, menurutnya, salah satu cara untuk menyematkan perusahaan ini adalah dengan kebijakan penaikan tarif.
“Kalau tidak naik bulan depan, kami (pegawai PDAM) bisa tidak gajian. Sekarang ini, biaya produksi saja tidak cukup,” jelasnya.
Untuk mengatasi krisis air yang terjadi, ia mengaku PDAM siap melakukan droping air ke lokasi yang membutuhkan. Per tangki bisa berisi 5.000 liter. Setiap harinya, PDAM bisa mendrop sekitar 10 tangki atau sesuai permintaan. “Ada yang datang langsung ke kantor, ada juga yang lewat telpon. Kami berikan tidak hanya untuk pelanggan tapi juga untuk masyarakat umum,” pungkasnya.
Sebelumnya, Anggota DPRD Kota Bengkulu Rena Anggraini juga menyampaikan jika beban PDAM saat ini sangat tinggi. Karena itu ia minta PLN tidak mematikan listrik di area produksi PDAM lebih dari 3 jam. Sebab hal ini akan membuat beban operasional menjadi terkerek naik.
“Untuk wilayah Surabaya semoga bisa diprioritaskan, karena itu disana ada sungai untuk suply air PDAM,” ujar dia.
Sementara itu, Manager Area PT. PLN (Persero) Bengkulu, Joni mengakui musim kemarau ini memang membuat daya listrik yang dihasilkan PLTA menjadi sangat menurun. Bahkan hasil produksi daya hanya 110 mega watt atau tidak mencukupi beban puncak yang mencapai 140 mega watt.
“Solusi satu-satunya agar tidak dilakukan pemadaman cuma turunnya hujan,” kata dia.
Diakuinya pula, jika pemadaman ini memang berpengaruh pada PDAM. Karena itu, ia akan menimbang usulan pemberian lokasi khusus saat pemadaman dilakukan. Selain itu, ia menyarankan PDAM untuk mengganti trafo yang ada saat ini. Sebab, trafo yang digunakan PDAM sekarang hanya 360 v. Itupun sewa dengan PLN, yang per bulannya harus membayar Rp 5 juta.
“Saya sudah sering sarankan agar PDAM beli trafo sendiri sebesar 400 v, harganya sekitar Rp 200 juta. Sehingga, kalau punya trafo sendiri seperti ini, tidak drop ketika produksi,” kata Joni. (609)