LIPI Bantu Pengembangan Kopi Rejang Lebong

ary-pengembangan-kopi-bubuk-1
Kepala Bappeda Kabupaten Rejang Lebong, Ir Zulkarnain MT, saat menunjukkan kopi bubuk yang akan dikembangkan bersama LIPI. (Foto IST/BE)

CURUP, BE – Pemerintah Kabupaten Rejang Lebong terus berupaya mengembangkan komoditas kopi sebagai komoditas utama di Kabupaten Rejang Lebong. Dalam pengembangan kopi ini sendiri, diketahui saat ini Pemerintah Kabupaten Rejang Lebong bekerjasama dengan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

Menurut Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Rejang Lebong, Ir Zulkarnain MT, bantuan pengembangan yang dilakukan Pemerintah Kabupaten Rejang Lebong dan LIPI tersebut adalah pengembangan usaha kopi bubuk.

“Saat ini kita memang tengah bekerjasama dengan LIPI untuk pengembangan kopi bubuk yang ada di Rejang Lebong ini,” ungkap Zulkarnain.

Diungkapkan Zulkarnain, pengembangan kopi bubuk yang dilakukan bersama LIPI tersebut berada di empat desa yaitu di Desa Karang Pinang dan Tanjung Heran Kecamatan Sindang Beliti Ulu kemudian di Desa Balai Buntar dan Lubuk Belimbing 1 Kecamatan Sindang Beliti Ilir.

Masih menurut Zulkarnain, kerjasama yang dilakukan tersebut dilakukan secara menyeluruh, mulai dari pemilihan bahan baku, kemudian pengolahan kopi bubuk, selanjutnya pengemasan sehingga menarik dan menambah nilai jual hingga pemasarannya.

“Kita berharap dengan bekerjasama dengan LIPI, LIPI bisa menggunakan ilmu pengetahuan tepat guna yang mereka miliki sehingga kopi bubuk kita terus berkembang,” harap Zulkarnain.

Lebih lanjut Zulkarnain mengungkapkan, memang selama ini kendala kopi bubuk yang dihasilkan kelompok tani di dua kecamatan tersebut masih belum berbicara banyak, lantaran bahan baku yang digunakan belum maksimal, kemudian pengolahannya juga masih alami sehingga kadar airnya masih cukup banyak. Dengan adanya pengembangan bersama LIPI ini diharapkan kelemahan kopi bubuk asar Rejang Lebong tersebut bisa diatasi dan bisa berbicara pada kancah nasional.

“Selama ini pangsa pasar mereka masih lokal, karena memang untuk kemasan saja masih sangat sederhana,” papar Zulkarnain.

Dalam pengembangan tersebut, Zulkarnain mengaku Pemerintah Kabupaten Rejang Lebong melalui Dinas Kehutanan telah memberikan bantuan dua unit mesin tumbuk kopi, namun menurut Zulkarnain, bantuan tersebut tentulah belum cukup lantaran para pengrajin kopi bubuk membutuhkan sejumlah alat lainnya seperti untuk pengering kopi, karena diakuinya selama ini masyarakat hanya mengandalkan alam, sehingga saat musim hujan kadar air biji kopi masih cukup tinggi.

Dalam mengatasi masalah tersebut, menurut Zulkarnain salah satu solusinya yaitu menggunakan bantuan dana desa dari pemerintah pusat. Karena menurut Zulkarnain dengan melihat bantuan yang telah diberikan tersebut nilainya masih dibawah Rp 5 juta.

“Kita sudah berkoordinasi dengan Kadesnya, kita berharap bisa menggunakan dana desa dalam pengembangan kopi bubuk ini, karena salah satu fungsi dari dana desa tersebut yaitu untuk meningkatkan potensi yang ada setiap desa,” akhir Zulkarnain. (251)