Layanan PDAM 11 Desa Terganggu

Titi (45), warga Kembang Seri ketika menunjukan keran air PDAM yang tak lagi mengalir
Titi (45), warga Kembang Seri ketika menunjukan keran air PDAM yang tak lagi mengalir

BENTENG, BE – Kemarau panjang yang terjado di Bengkulu Tengah sejak 3 bulan terakhir membuat sumur-sumur milik warga dan sumber air Perusahaan Air Minum Daerah (PDAM) Tirta Rafflesia Benteng mengalami kekeringan. Dampaknya pelayanan pendistribusian air ke rumah-rumah pelanggan sebanyak 2.937 pelanggan di 11 desa Benteng terganggu. Warga pun kini kesulitan mendapatkan air bersih.

Direktur PDAM Tirta Rafflesia, Siti Yuningsih SE mengaku tak bisa berbuat banyak atas masalah tersebut. Menurutnya, hal itu disebabkan 2 sumber air yang digunakan tak lagi berfungsi secara optimal.

”Kondisi itu mengakibatkan layanan di 11 desa harus terganggu,” tutur Sity pada BE kemarin. Desa yang mengalami gangguan distribusi air itu diantaranya, 9 desa yang menggunakan sumber air Penanjung Desa Lagan Bungin, yakni desa Lagan Bungin, Taba Lagan, Lagan, Jumat, Pulau Panggung, Jayakarta, Tengah Padang, Kembang Seri dan Taba Terunjam. Airnya yang dalam kondisi normal mampu mengalirkan 10 liter per detik tersebut terpaksa berhenti beroperasi karena kekeringan.

Tak hanya itu, dua desa yang menggunakan sumber Air Sungai Bengkulu, Desa Kembang seri juga terganggu hingga mengakibatkan air dari sebagian dari pelanggan tak lagi mengalir, diantaranya di desa Nakau dan Taba Pasma. Jika normal air mampu mengalir 7,5 liter namun saat ini hanya 5 liter perdetik yang mampu disalurkan.

Sedangkan 2 sumber air PDAM lainnya, sejauh ini masih berfungsi secara optimal. Diantaranya dari sumber Air desa Datar Lebar yang mampu mengalirkan air 20 liter perdetik dan mampu melayani sejumlah desa. Diantaranya desa Bajak, Lubuk Sini, Taba penanjung, Taba Teret, Sukarami, Karang Tengah, Dusun Baru, Penanding, Padang Tambak, dan Durian Demang.

Satu lagi sumber air yang masih mampu melayani pelanggan sumber air, yakniyang berada di desa Talang Boseng, Kecamatan Pondok Kelapa. Dari sumber tersebut air yang mengalir 10 liter perdetik ini mengalir ke desa Talang Boseng, Sidodadi, Bintang Selatan, Talang Pauh, Pekik Nyaring dan Pasar Pedati.

Ketika dikonfirmasi BE, Sity, mengaku prihatin lantaran PDAM belum mampu melayani semua pelanggan yang saat ini berjumlah 2.937 pelanggan.

“Saat ini dua sumber air kita tak beroperasi maksimal. nanti kita akan bagikan air secara gratis sekdar untuk minum. Kita tak bisa layani semuanya karena kendaraan kita juga tak ada,” kata Sity

Titi (45), warga desa Kembang Seri, Kecamatan Talang Empat, menuturkan, kondisi tersebut telah dialaminya sejak 3 bulan lalu ketika kemarau menerpa Bengkulu. Hingga mengakibatkan sumur tua yang berada di belakang rumahnya tak lagi berair. Berusaha bertahan dengan kondisi ini, ia pun terpaksa mengambil air dari sungai Bengkulu yang berada di seberang jalan depan rumahnya. Dengan menempuh perjalanan sekitar 1 Km. Ia bersama keluarga bergantian mengambil air dengan menggunakan jerigen untuk dikonsumsi.

“Sumur kering, sudah digali tapi airnya tetap sedikit. Meski kotor, kami terpaksa mengambil air sungai Bengkulu, malu jika meminta terus kepada tetangga di depan rumah. Air dirumahnya juga sedikit,” aku Titi.
Ibu enam anak yang berprofesi sebagai petani sawah ini menjelaskan, mencari solusi mengubah air yang kotor, ia terpaksa menyaring air tersebut lalu mengendapkannya kedalam bak penampungan sebelum akhirnya dimasak dan dikonsumsi.

“Air PDAM sudah tak mengalir lagi, kami juga tahu ini karena sumber airnya mengecil. Kami berharap kondisi seperti ini segera berakhir,” harap Titi.

Senada dengan disampaikan Titi, Kepala Desa Jumat, Raki’in menyampaikan hal serupa. Ia terpaksa mengambil air dari sumur tua di belakang rumah dan meminta air tambahan kepada desa tetangga.

“Air sumur hanya sedikit dan tak mencukupi. Saya terpaksa meminta kepada tetangga. Bahkan sebagian warga harus mencari sumber air yang jauh dari perumahan sekedar untuk mandi dan minum,” kata Raki’in. (135)