Kunjungan ke Pelabuhan Dwikora, Pontianak

Pelabuhan Dongkrak Kemajuan Daerah

Pelabuhan sangat memiliki peran penting dalam mendongrak kemajuan suatu wilayah. Sebab, dari pelabuhan lah pergerakan ekonomi itu bisa muncul secara bergerilya. Seperti di Kota Pontianak Provinsi Kalimantan Barat ini, kota yang terkenal dengan titik nol dunia Tugu Katulistiwa itu, memiliki satu pelabuhan cukup maju dibading daerah-daerah lain.

Eko Putra Membara –
Pontianak

KOTA Pontianak, daerah yang berada di kepulauan Kalimantan Barat (Kalbar) ini menjadi tujuan utama Harian Bengkulu Ekspress (BE) mengali informasi terkait majuanya daerah tersebut. Untuk menuju kota itu, tidak terlalu banyak memakan waktu dari Provinsi Bengkulu. Jaraknya jika menggunakan transportasi udara, Bengkulu – Jakarta memakan waktu 1 jam perjalanan, kemudian dari Jakarta ke Kota Pontianak itu memakan waktu 1 jam 20 menit sampai di Bandar Udara Internasional Supadio di Kabupaten Kubu Raya.

EKO/Bengkulu Ekspress Asdep PT Pelindo II Dwikora Pontianak Provinsi Kalbar, Hendri Aldov saat menjelaskan padatnya aktifitas Pelabuhaan Dwikora Pontianak
EKO/Bengkulu Ekspress Asdep PT Pelindo II Dwikora Pontianak Provinsi Kalbar, Hendri Aldov saat menjelaskan padatnya aktifitas Pelabuhaan Dwikora Pontianak

Dari Bandara perjalanan menuju Kota Pontianak dengan menggunakan via darat memakan waktu sekitar 1 jam. Diperjalan cukup membuka mata, kota yang di kelilingi oleh Sungai Kapuas itu, sangat maju dari sisi pembangunan dan rapi dari cara penatatan kota. Sisi kanan dan pinggir jalan, terlihat gedung-gedung megang yang mayoritas gedung megang itu didominasi dengan perhotelan. Mulai dari Hotel Aston, Golden Tulip Pontianak, Gajahmada Avara Boutique Hotel, Mercure Pontianak City dan hotel-hotel besar lainnya.

Selain hotel, juga terlihat lebih mendominasi rumah toko (ruko-ruko) 4 sampai 5 lantai berdiri kokoh disetiap pinggir jalan. Masyarakat dan pedagang berbaur jadi satu untuk melakukan prosesi jual beli. Banyak bentuk perdagangan yang dilakukan, mulai berjualan elektronik, kuliner, busana, otomotif dan berbagi jenis jualan lainnya. Kota yang memiliki jumlah penduduk sekitar 655.8572 jiwa, sangat memiliki konsumsi tinggi dari di banding Bengkulu yang memiliki sekitar 2 juta jiwa. Wajar jika transaksi jual beli sangat tinggi di Kota Pontianak.

Namun tak wajar, jika kota yang di kelilingi oleh sungai kapuas yang merupakan sungai terbesar di Pulau Kalimantan itu dapat berkembang pesat secara ekonomi. Lalu, untuk memenuhi konsumsi tinggi ditingkat masyarakat itu, moda transportasi apa yang bisa memenuhi kebutuhaan itu?

Bengkulu Ekspress coba menggali lebih dalam, ternyata dari perjalanan ke wilayah tepatnya di Jalan Pak Kasih Kota Pontianak terdapat sebuah Pelabuhaan di pinggir Sungai Kapuas.

Pelabuhan itu bernama Pelabuhan Dwikora milik PT Pelindo II Pontianak Provinsi Kalbar. Aktifitas di pelabuhaan itu cukup padat, terlihat menjulang tinggi RTG Crane dan crane petikemas melayani bongkar muat peti kemas dari kapal. Peti kemasnya tersusun rapi di pelabuhaan yang memiliki luas lahan sekitar 9 hektar itu.

Semua aktiftias pergerakan ekonomi di Kota Pontianak bergantung dengan pelabuhaan ini. Sebab, tidak ada satupun barang yang di impor maupun di ekspor dalam negeri melalui via transportasi darat. Semua melalui via transportasi laut dan sungai di pelabuhaan yang berada di pinggir sungai Kapuas tersebut.

“Hampir 80 persen, pelabuhaan kita ini melayani aktifitas peti kemas. Selebihnya, untuk angkutan penumpang dan kendaraan menuju wilayah lain,” terang Asisten Deputi (Asdep) PT Pelindo II Dwikora Pontianak Provinsi Kalbar, Hendri Aldov saat Bengkulu Ekspress menyambangi pelabuhaan yang luasnya 9 hektar. Dijelaskan Hendri, pelabuhan Dwikora Pontianak ini di singgah kapal-kapal pengangkut komoditas perkebunan, kehutanan, sektor pertambangan serta industri pengolahan bahan mentah.

Semua dilayani melalui peti kemas, totalnya pelabuhaan ini memiliki 270 ribu peti kemas. Jumlahnya cukup banyak sekali, jika dibandingkan Pelabuhan Pulau Baai Bengkulu yang memiliki luas pelabuhaan 1.200 hektar, dengan melayani 22 ribu petikemas. “Semua bahan komuditi, baik konsumsi maupun tidak, diangkat melalui peti kemas. Sebab, jika melalui via darat harus memakan waktu berhari-hari baru bisa sampai ke Kota Pontianak,” tambahnya.

Setiap tahun pelayanan peti kemas di pelabuhaan Dwikora ini terus meningkat. Pada tahun 2016 lalu, pelayanan peti kemas mencapai 245 box dan tahun 2017 sampai awal tahun 2018 ini sudah mencapai 270 ribu peti kemas. Hendri mengatakan, jumlah peti kemas tersebut terus meningkat sering dengan tingkat konsumsi dan daya beli masyarakat.

Dalam pelabuahan itu, terdapat 8 dermaga, untuk dermaga 1 dan 2 melayani penumpang. Dermaga 3 dan 4 menjadi dermaga kompensional, lalu di dermaga 5 sampai 8 itu mayoritas untuk melayani bongkar muat peti kemas dari kapal.

“Kapasitas pelabuhaan kita hanya bisa melayani sekitar 300 ribu peti kemas. Sekarang sudah hampir 300 ribu, jadi kami sudah tidak bisa apa-apa kalau memang sudah terlalu padat,” tutur Hendri.

Penggunaan jasa peti kemas di pelabuhaan sungai Kapuas itu terdapat 7 pengguna jasa. Diantarnya, Meratus, Temas, Samudra Indonesia, Tanto, Spil, New Ship dan LKA. Pelabuhaan yang dibelah dengan sungai Kapuas dan Sungai Landak ini setiap harinya disadari kapal dengan ukuran sekitar 120 meter. Alur kedalaman pelabuhaan ini sekitar 5 LW sampai minus 6 LW. Hendri menjalaskan, peti kemas yang datang dan pergi dari pelabuhaan rata-rata dari Sumatera dan Jawa. Lalu untuk ekspornya hanya dengan tujuan ke Negara Singapura. “Setiap hari kita bisa melayani bongkar muat. Kedalaman alur memang tidak begitu menjadi masalah, sebab jika sudah air pasang, kapal dengan semua ukuran bisa berlayar,” ungkapnya.

Sementara itu, kemajuan tersebut tidak lepas dari campur tangan pemerintah yang menjadi modal utama majunya pelabuhaan Dwikora Pontianak. Tentunya kemajuan itu sangat beriringan dengan majunya daerah seperti di Kota Pontianak. Menurut Hendri hal ini menjadi bukti, bahan peran pelabuhaan sangat penting menjadi pendorong ekonomi daerah. Tentu, untuk membuat pelabuhaan ini menjadi maju dan berdampak kemajuan daerah, tidak seperti membalikkan telapak tangan. Transformasi menjadi hal wajib yang pernah dilakukan pada tahun 2008 lalu.
Transformasi yang dilakukan, mulai dari perbaikan pelayanan terhadap pengguna jasa petikemas. Lalu pengaturan pola operasi, penambahan fasilitasi alat pelabuhaan, sistem berbasil digital dan tak kalah penting perbaikan sumber daya manusia (SDM). “Hasilnya, cukup menjanjikan. Kita sampai kualahan untuk melayani peti kemas,” terangnya.
Hendri menambahkan, jika sebelumnya kapal harus dwelling time atau proses bongkar muat bisa sampai 1 minggu, saat ini proses tersebut hanya cukup memakan waktu kurang dari 3 hari. Lalu untuk sisi harga, memang lebih murah, dalam satu kontener petikemasnya biaya angkut hanya sekitar Rp 2,5 juta. Sebelumnya, mencapai Rp 4 juta sampai Rp 5 juta perpetikemasnya. Langkah tersebut disambut antusias oleh pengguna jasa untuk menggunakan fasilitas pelabuhaan.

“Memang semua harus sinergi untuk melakukan perbaikan. Baik dari semua sisi, pemerintahnya juga tidak bisa ikut lepas tangan. Karena yakinlah, jika aktifitas pelabuhaan itu padat, maka daerah tersebut bisa dipastikan akan semakin maju,” paparnya.

Sementara itu, Hubungan Masyarakat (Humas) PT Pelindo II Cabang Bengkulu, Amir Wijaya yang ikut melakukan kunjungan di Pelabuhaan Dwikora Pontianak mengatakan, memang kemajuan daerah itu tidak lepas dari majunya pelabuhaan. Semua harus ikut bersinergi untuk melakukan perbaikan. Sehingga kemajuan itu bisa benar-benar dirasakan.

“Kita (Pelindo II Bengkulu) sudah terus melakukan perbaikan. Baik dari sisi pelayanan pelabuhaan maupun fasilitas itu sendiri,” papar Amir.

Memang jika dibanding Pelabuhaan Dwikora Pontianak, jumlah peti kemas Pelabuhaan Pulau Baai Bengkulu masih sangat sendikit. Sebab, saat ini bahan kebutuhaan pokok, maupun kebutuhaan lain, banyak melalui via darat. Padahal jika dibanding menggunakan via laut biaya transportasinya lebih murah. Jika melalui via darat dengan akumulasi Rp 10 juta perkontainer, namun jika melalui via laut transpotasi itu bisa ditekan. Sebab satu kontainer atau satu peti kemasnya, Pelabuhaan Pulau Baai hanya dengan tarif dari Rp 5 juta sampai Rp 7 juta. “Ini juga menjadi catatan, bahwa transportasi via laut itu lebih murah dibanding via darat,” tuturnya.

Dalam melakukan perbaikan, Pelabuhaan Pulau Baai selain melayani barang logistik, juga melayani pengakutan curah kering dan curah cair. Terget pelabuhaan terbasar di Provinsi Bengkulu, menjadi pelabuhaan tersibuk di Pulau Sumatera. Sebab, jika tidak ada halang melintang pada bulan April mendatang, kawasan ekonomi khusus (KEK) dan terminal hewan akan diresmikan oleh Prisiden Indonesia Joko Widodo. Hal ini juga nantinya akan menjadi modal, untuk memburu ketertinggalan yang ada di Provinis Bengkulu. “Dukungan semua pihak kita harapankan. Sehingga apa yang kita harapkan ini bisa mampu diwujudkan secara bersama-sama,” pungkas Amir. (**)

    Leave a Reply

    Your email address will not be published.*