Krisis Listrik dan Air, Solusinya Cuma Hujan

BENGKULU, BE – Bencana El-nino yang masih terjadi mengakibatkan kemarau panjang belum akan berakhir. Bahkan, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melansir rata-rata wilayah Sumatera bagian tengah seperti Bengkulu belum akan diguyur hujan dalam waktu dekat. Diperkirakan air dari langit itu akan mulai jatuh ke bumi raflesia pada penghujung tahun mendatang.
Prakirawan BMKG Bandara Fatmawati Provinsi Bengkulu, Haris mengatakan penyebab utama hal ini adalah arus angin yang bertiup ke wilayah Afrika dan Amerika Latin. “Bahasa mudahnya, uap tertarik kesana dan disana terjadi hujan sedangkan kita kemarau panjang,” ujarnya kepada Bengkulu Ekspress, kemarin (28/10).
Arah angin ini, prediksinya, masih terus berlangsung hingga akhir tahun. Artinya kemungkinan hujan akan turun pada ujung bulan Desember atau awal-awal tahun 2016. Beberapa upaya yang dilakukan semisal meletakkan seember air garam dibawah terik matahari pun belum mampu untuk meneteskan hujan. Pasalnya penyebab hujan bukan semata-mata karena uap. Contohnya, air laut dan samudera yang ada di sekitaran Indonesia pun sebenarnya juga menguap.
“Tapi penyebab hujan kan bukan cuma uap. Upaya iti tidak benar jika mengatasnamakan BMKG,” tambahnya.
Dengan fakta tersebut, Provinsi Bengkulu masih akan dilanda krisis listrik dan air bersih. Manager PLN Area Bengkulu Joni menerangkan produksi listrik masih akan terjadi sebelum hujan datang. Sejalan dengan itu, pemadaman listrik bergilir pun masih akan diterapkan.
“Solusi satu-satunya cuma hujan,” ujarnya.
Hal ini lantaran, listrik Bengkulu hanya mengandalkan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA). Selain itu, Joni mengatakan untuk menutupi agar listrik tidak mati total, pihaknya mengandalkan bantuan dari provinsi tetangga. Misalnya suply daya dari Pembangkit Listrik Tenaga Batubara dan Gas yang ada di Sumater Selatan dan Jambi.
“Sejauh ini yang dikirim sekitar 100 Mega Watt,” sambungnya.
Jumlah tersebut sebenarnya tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan Bengkulu yang berada di angka 400 Mega Watt. Padahal di kondisi normal, PLTA Bengkulu bisa menyuplai daerah lain. “Sayang listrik ini tidak bisa disimpan sebagai stok,” ucapnya.
Pihaknya sebenarnya sudah mengajukan pembangkit listrik alternatif semisal PLTU.  Namun proses pembangunan tersebut tidak semudah yang dibayangkan. “Rencana untuk pembangunan ini pun tiga tahun mendatang,” kata dia.
Hal senada disampaikan Direktur PDAM Kota Bengkulu Sjobirin. Menurutnya krisis air masih berlanjut hingga hujan turun. “Makanya kita berdoa saja supaya hujan turun, kita juga sudah minta hujan turun dengan melakukan sholat istiqsa,” sampainya.
Kendati demikian, ia berjanji, PDAM masih akan terus berupaya melayani pelanggan. Misalnya dengan program ‘dropping air’. Permintaan untuk dropping ini sendiri sangat melimpah.
“Sampai jam 10 hari ini (kemarin-red), sudah 25 tanki tang dikirim ke warga-warga,” jelasnya. Untuk diketahui, tiap tanki menampung 5.000 liter air.
Selain itu, pihaknya juga tengah melakukan pengerukan sungai Nelas. Harapannya, air yang tertampung bisa makin banyak dan mencukupi kebutuhan pelanggan. Pasalnya, kondisi air sungai terus menyusut. Biasanya, air tergenang diatas mercu bendungan, sekitar 2 meter dari dasar.
“Sedangkan sekarang sudah hampir menyentuh dasar sungai,” imbuhnya.
Dropping ini tentunya berdampak pada naiknya biaya operasional BUMD tersebut. Sayang, Sjobirin enggan menyebutkan nominal kenaikan itu. Tapi yang jelas, operational cost naik 10 kali lipat dari biasanya.
“Ini karena biasanya kita salurkan air lewat pipa tapi sekarang menggunakan tanki langsung,” kata dia.
Dropping sendiri diutamakan untuk beberapa daerah yang mayoritas berada di ujung pipa. Misalnya: Betungan, Padang Kemiling, Teluk Sepang, Kebun Bler, Merawan dan Sepakat.
Tak hanya biaya yang naik, jumlah pengaduan juga melonjak. Sjobirin mengatakan aduan dibuka secara langsung dan juga bisa via hotline PDAM. “Caranya dengan kirim nama, alamat lengkap dan keluhan ke 082186134569,” jelasnya. Permintaan dropping juga bisa lewat SMS ke nomor tersebut,
Untuk diketahui, salah satu pelanggan mendatangi perusahaan plat merah tersebut. Ia mengeluhkan air yang berada di daerah Pasar Minggu RT 5, 6, dan 7 tidak menetes. “Kenapa tidak menyeluruh matinya. Kalaupun ada dropping, saya ini sudah tua, tidak sanggup mengangkat air,” kata ibu yang bernama Dev Elmi tersebut.(609)