Kompetisi Robot Sensor dan Pembersih

kompetisi-robot-pembersihGharu/Bengkulu Ekspress
Lomba sensor mobil robotik dan lomba robot pembersih/robot kaki seribu tingkat mahasiswa yang digelar Universitas Bengkulu (UNIB), kemarin (23/11).

BENGKULU, Bengkulu Ekspress – Setelah berhasil meraih juara dua pada kompetisi mobil hemat energi di Surabaya 2014 silam, kali ini Universitas Bengkulu  (UNIB) menggelar lomba sensor mobil robotik tingkat mahasiswa. Kegiatannya diadakan di aula utama Unib Fair, kemarin (23/11). Kegiatan ini dilaksanakan untuk meningkat riset para mahasiswa.

Lomba ini diikuti sejumlah peserta dari berbagai jurusan, terutamanya jurusan teknik. Uniknya ada juga mahasiswa jurusan peternakan ambil bagian dalam lomba ini. Para peserta menampilkan karya terbaru hasil riset dan penelitian mereka dibidang robotik.

“Ya, ada beberapa dari mahasiswa peternakan yang ikut,” tutur Kepala UPT Pengembangan Kompetensi Mahasiswa Bustanudin Lubis saat ditemui BE disela acara lomba.

Bustan mengaku kaget saat melihat ada dari mahasiswa lain (selain teknik) yang serius mendukung pengembangkan teknologi robotik yang diadakan UNIB tersebut.

“Kami dari 3 juri juga kaget tadi melihat antusias peserta, terutama tadi dari mahasiswa peternakan yang ikut,” ungkapnya.

Percobaan pembuatan robot dari mahasiswa pertanian tersebut juga bisa difungsikan untuk praktik lapangan mahasiswa peternakan kedepannya.

“Bisa digunakan untuk membersihkan kandang nantinya,” celetuk salah satu mahasiswa peserta lomba Robot Kaki Seribu.

Perlu diketahui sebelumnya, perlombaan robotik tersebut memilki dua cabang perlombaan. Pertama ada lomba sensor robotik, sensor robotik adalah perlombaan sensor robot berbentuk mobil. Difungsikan dengan tenaga dinamo sebesar 9 volt, kemudian dijalankan tanpa menggunakan remote control. Mobil tersebut berukuran mobil “tamiya” dan terbuat dari bahan sederhana (tergantung peserta). Mobil tersebut kemudian berjalan sendiri mengikuti garis yang disediakan oleh panitia menggunakan sensor warna yang terdapat pada mobil.

Kedua lomba robot pembersih/robot kaki seribu. Robot yang satu ini cukup unik, karena memiliki ukuran yang kecil. Robot ini terbuat dari bahan yang sangat mudah didapat, sikat gigi, baterai jam tangan dan mini kabel dan dijalankan hanya dengan tenaga 1,99 volt.

“Hampir sama seperti vacum cleaner, tapi ini sifatnya menyapu. Kalau ukuran besarnya (memakai sapu), bisa memakai dinamo, tapi yang ini baru percobaan kecil-kecilan an belum sempurna betul, masih belum stabil berdirinya.” tutur Rio peserta lomba dari mahasiswa pertanian.

Robotik sensor event besarnya pada lomba ini. Sensor mobil robotik ini terinspirasi dari robot pemadam api (Mister Cool) diajang akbar KRI (Kompotisi Robot Indonesia). Dari lomba tersebut, Bustan mengatakan, agar mahasiswa Unib dapat mempelajari dulu bentuk dasar dari sensor robot. Jika respon sensor robot peserta sudah stabil, maka dicoba untuk mengikuti KPI tingkat nasional.

Kompetisi ini, kata Bustan, terkhusus untuk mahasiswa UNIB, belum dibuka untuk umum. Disini panitia lomba belum memposisikan satu robot, seperti robot pemadam api.

“Jadi saat ini kita melihat dulu standar kompetensi mahasiswa bagaimana deskripsi robotnya (idenya), fungsinya dan terakhir responnya (robot). Kalau kita lihat tadi (dilomba) masih bisa dilihat beberapa mobil yang masih keluar jalur garis, jadi beberapa robot dinilai masih memilki sensor yang rendah,” tutur Bustan.

Perhelatan lomba robotik tingkat mahasiswa ini pertama kali digelar di UNIB dan juga Bengkulu). Peserta yang memenangkan lomba sensor robot nanti (juara 1,2 dan 3) dibina UNIB, serta diberi uang pembinaan. Nantinya, para juara diikutsertakan kompetisi robot nasional mewakili UNIB maupun Provinsi Bengkulu.

Bustan mengaku penilaian diberlakukan adil dengan menilai ketiga poin yang telah disebutkan tersebut. Penilaian yang paling utama mobil harus benar-benar memilki sensor bagus. Ditentukan digaris yang mana sensornya berjalan bagus (jalur hitam atau putih). Kemudian dinilai apakah ketika keluar garis mobil tersebut menabrak dinding atau tidak. Jika belok, berarti sensor mobilnya cukup bagus,” tambah Bustan.

Ditemui salah satu peserta Albar Pratama Tanjung mengaku, antusias dalam mengikuti lomba. Menurutnya, saat ini ketertarikan mayarakat, khususnya Bengkulu dalam mengikuti lomba masih kurang dan tidak berkembang. Sementara di daerah lain di luar Bengkulu terus melakukan pengembangan riset dan penelitian.

“Saya berharap, dari lomba ini masyarakat, terutama teman-teman mahasiswa dapat ikut berperan aktif dalam pengembangan teknologi robotik, agar Bengkulu bisa dapat menjuarai kompitisi robot tingkat nasional dan dapat berprestasi dibidang itu,” tutur Ketua dari Tim Wall Folower tersebut.

Jika menang, tim ini nantinya merakit mobil robot pemadam api yang sudah diupgrade. “Harapannya bisa maju ke nasional. Kalau lolos, kita ingin mengembangkan lagi sistem dari mobil robot pemadam api yang sudah ada,” tutupnya. (mg1)