Kisah Suami-istri 19 Tahun Menghuni Pulau Tikus, Rasa Takut Terkalahkan Sebuah Kesetiaan

foto-box-2

Menghuni Pulau Tikus, bukan tak memiliki rasa takut dan kekhawatiran. Kesetiaan terhadap suami, rasa takut menjadi terabaikan. Di pulau ini, pasangan suami istri  dianugerahi anak bungsu, yang kini berusia 8 tahun. Berikut laporan perjalanan Wapemred Bengkulu Eksress, Iyud Dwi Mursito, dari Pulau Tikus.

TIBA di Pulau Tikus pukul 08.00, Sabtu (18/11) saya langsung berkeliling kawasan darat pulau itu. Tidak butuh waktu lama hanya untuk memutari daratan itu. Pulau ini awalnya berukuran mencapai 2 hektar, kini hanya kisaran 0,5 hektar. Gelombang laut Sumadera Hindia, tak henti-hentinya mengikis daratan.

Pohon-pohon tak mampu menahan gelombang, akhirnya bertumbangan. Beberapa waktu lalu, di tempat ini ada sebuah makam, namun kini sudah hilang entah kemana. Pastinya “dimakan” ombak laut nan luas ini.

Mata saya tertuju pada sebuah pondok tua, tak jauh dari pinggir daratan. Ada seorang wanita di sebelahnya sedang meniup api di sebuah tungku, di atasnya ceret hitam. Asapnya tampak mengepul dari kejauhan.

Dia, Nurhayati (53) sedang menyiapkan air panas, untuk membuat kopi suaminya, Pendi (55) tak jauh dari lokasi itu terlihat sedang sibuk menyulam jaring ikan. Mereka menghentikan aktifitasnya sejenak, saat saya berada diantara mereka.

Suami istri ini ternyata sudah 19 tahun menetap tinggal di Pulau Tikus. Jauh sebelum itu, sejak tahun 1987, Pendi, yang berhenti menjadi ABRI, memilih beralih sebagai nelayan, dulunya hanya menjadikan Pulau Tikus sebuah tempat persinggahan. “Sejak menetap disini, saya ikut (Tinggal di Pulau Tikus),” ujar Nurhayati, mengkisahkan hidupnya.

Pendi dan Nurhayati menjadi saksi hidup perubahan pulau nan eksotis ini, dari masih berukuran luas hingga kondisi saat ini. Dia menceritakan, pondoknya sebagai tempat tinggal sudah lebih sepuluh kali berpindah tempat.

“Karena tergerus ombak terus, jadi sudah sering pindah,” katanya.

Saat ini saja, pondok yang mereka tinggali sudah berada di pinggir pantai laut. Dia sudah merencanakan memindah ke tengah pulau. Seminggu terakhir, terpaksa tak bisa tidur, karena setiap malam air laut pasang hingga 2 meter.

“Air masuk ke pondok, bahkan sampai ke tengah (daratan) saat ada gelombang,” tuturnya.

Jika malam hari suasananya sudah pasti sepi dan sunyi. Hanya mereka berdua tinggal di pulau itu, sehingga suasana kehidupan tak seperti di perkampungan. Mendengarkan siaran radio RRI, satu satunya hiburan memecah kesunyian. Tapi, diakui Nurhayati, rasa takut dan was-was tetap dirasakan setiap saat. Meski demikian, tetap menjadikan pulau ini sebagai tempat untuk hidup berdua.

Di sela-sela obrolan dengannya, saya terdiam sejenak. Tak habis pikir, kenapa pasangan yang sudah memasuki usia pensiun ini, memilih hidup di tengah laut. Padahal ini sangat beresiko terhadap keselamatannya. Misalnya saja, bila tiba-tiba ada gempa dan tsunami. Kemana mereka harus menyelamatkan diri. Padahal bila laut pasang saja, ketinggian air mencapai 2 meter, hampir rata dengan daratan pulau itu.

Pandangan saya kembali tertuju pada Nurhayati. Dia sedang mengangkat ceret dari tungku. Air panas sudah mendidih. Dia menawarkan kepada saya untuk dibuatkan kopi. Tapi, dengan halus saya menolak, takut merepotkan.

Kemudian saya bertanya, apa tidak takut sudah 19 tahun hidup di pulau ini?

Nurhayati menceritakan, selama ini bukan tak merasa takut hidup di tengah laut. Sebagai manusia, rasa takut itu tetap ada. Tapi, sejak tahun 1997, dia memilih mendampingi suaminya tercinta itu, untuk tinggal di pulau yang memilik jarak 10 Km dari pusat Kota Bengkulu, dan terhubung langsung dengan Samudera Hindia ini. Ini soal kesetiaan istri terhadap suami.

“Kalau dibilang takut ya takut, tapi bapak mau tinggal disini. Tidak mau pindah ke kota, karena gak merepotkan anak,” ujar Nurhayati.

Dia menceritakan, anaknya yang paling bungsu, Oka Saputra, 8 tahun lalu lahir di Pulau Tikus, tanpa bantuan dokter, bidan, ataupun dukun beranak. Semua proses kelahiran ditangani sendiri dengan suaminya. “Sekarang dia sudah sekolah di Kota Bengkulu,” katanya.

Beberapa anak angkatnya meminta, Nurhayati dan Pendi, meninggalkan Pulau Tikus, hidup bersama mereka. Namun dia kukuh. Tidak mau merepotkan anak, alasannya tetap bertahan hingga sekarang. “Dia (Pendi) betah disini,” ujar Nurhayati.

Dia menyadari, hidup di tengah laut, di pulau terluar tidaklah mudah. Kesetiaan Nurhayati terhadap suaminya Pendi, itulah yang mengalahkan rasa takut, akan gempa, tsunami, ombak dan laut pasang. Hingga bertahan sampai kini. Karena hingga saat ini, sang suami masih ingin tetap tinggal di Pulau Tikus.

Meski secara ekonomi, kehidupan mereka tidak menentu. Tangkapan ikan menjadi andalan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, tengah menurun. “Biasnya dapat ikan capai 5 Kg, beberapa minggu ini hanya 2 ekor sampai 8 ekor,” ujarnya.

Jika pendapatan ikan banyak, dia jual ke Kota Bengkulu, sembari belanja kebutuhan hidupnya sehari-hari. Tapi, bila tangkapan ikannya turun, dia menitipkan penjualan ikannya kepada nelayan lain, begitu juga untuk belanja kebutuhannya. “Sekarang ini sudah 20 hari tidak kesana (Kota Bengkulu), karena tangkapkan ikan sedikit. Kalau cuaca tidak bagus, kadang petir, ikan juga kurang,” tuturnya dengan ramah.

Sedangkan Pendi, yang tadi menyulam jaring tampak memasuki pondok, kemudian keluar lagi. Dia mengambil sebungkus rokok, kemudian duduk tak jauh dari tempat saya berada. “Sehari saya bisa habis tiga bungkus rokok,” ujar Pendi.

Dia kemudian bercerita, jika saat ini hanya memanfaatkan perahu kecil untuk mencari ikan. Dahulu pernah memiliki kapal besar, namun dijualnya. “Kalau kapal besar, sudah gak kuat lagi, biarkan kapal kecil saja,” ujarnya sambil tertawa.

Saya akhirnya mengakhiri obrolan dengan mereka. Saya berhabung bersama Tim peringatan HUT Armada RI ke-71 melakukan prosesi pengibaran bendera Merah putih dan Bendera Komando Armada RI Bagian Barat.

Menggunakan perahu karet, kami berkeliling sekitar laut Pulau Tikus. Keindahan pulau eksotis ini benar nyata. Airnya yang jernih, ikan dan terumbu karang sudah terlihat dari permukaan air. Sayangnya tidak ada waktu untuk ikut menyelam ke dalam laut. Tapi, berputar-putar dengan perahu karet selama beberapa jam sudah membuatku senang. Meski, ahh, tak kusadari, panas terik matahari merubah kulitku menjadi gosong. (**)