Kisah Saudagar Tionghoa Asal Semarang ini Pukau Sineas Hollywood

212825_310717_raja_gula
OEI TIONG HAM. Saudagar kelahiran Semarang ini sangat terkenal pada awal abad 20. Saking tenarnya, penulis skenario film Hollywood James Albert Michener (1907-1997) pernah menulis kisah Oei.

Wenri Wanhar – Jawa Pos National Network

Bisnis yang dijalankan keluarga Oei, tulis James A Michener dalam Chinese Success Story, “mungkin merupakan perusahaan Tionghoa yang terbesar di dunia.”

Michener bukan sembarang penulis. Buku-bukunya best seller. Pernah dianugerahi Presidential Medal of Freedom. Film-nya yang berjudul Sayonara masuk nominasi 10 Academy Awards pada  1957.

Untuk menulis bisnis Oei Tiong Ham Concern Michener datang ke Jawa. Dia menggambarkan Jakarta Tempo Doeloe berdasarkan laporan pandangan mata…

“Di sepanjang Jalan Molenvliet West (sekarang Jl. Gajahmada), semua toko-toko kecil sibuk. Di beberapa blok setiap toko adalah milik orang Tionghoa, memanjang dengan indahnya.

Di ujung jalan, di mana kanal mengalir ke sebelah timur, toko-toko itu seolah hutan yang menakjubkan yang disebut Glodok, salah satu dari China Town yang indah di Asia.

Kantor pusat Oei Tiong Ham Concern di sebelah utara, di dekat mana kanal-kanal besar mengalir ke samudera. Nama daerahnya Asemka.”

Siapa Oei Tiong Ham?

Sejumlah catatan sejarah menggadang-gadang Oei Tiong Ham (1866-1924) orang Tionghoa pertama yang berbusana ala Eropa di Pulau Jawa.

Bahkan, “ia adalah orang Tionghoa pertama di Jawa yang memotong kuncirnya,” tulis Liem Tjwan Ling dalam buku Oei Tiong Ham–Raja Gula dari Semarang.

Hal senada juga ditulis jurnalis Liem Thian Joe (1895-1963) dalam buku Riwajat Semarang–Dari Djamannya Sam Po sampe Terhapoesnja Kongkoan. “Oei orang Cina pertama yang memotong taucangnya.”

Nama Oei  terkenal di empat benua; Amerika, Asia, Australia dan Europa. “Di benua-benua itu ia dikenal sebagai Raja Gula,” ungkap Tjwan Ling.

Kendati dikenal sebagai Raja Gula, menurut Thian Joe, Oei juga menjalankan bisnis candu di kawasan Semarang, Surakarta, Yogyakarta, Surabaya.

“Rentang waktu 1890 hingga 1903 Oei mendapat keuntungan 18 juta gulden, setara 2,5 ton emas. Selama 13 tahun itu Oei menjabat mayor tituler,” tulisnya.

Dengan begitu tak mengherankan bila, “seperempat luas dari kepulauan Singapura, pada 1924 milik Oei Tiong Ham seorang,” papar Tjwan Ling.

Makanya di Singapura ada jalan Oei Tiong Ham Park, di samping Holland Road–jalan raya menuju daerah industri Jurong.

Pada masanya, gurita bisnis Oei Tiong Ham Concern menjelujur hingga Singapura, India, New York, London serta Amsterdam.

Namun, nama perusahaan raksasa yang bermula di Semarang itu pun perlahan meredup dan lama kelamaan terlupakan setelah disita pemerintah Indonesia pada 1961 atas tuduhan delict economy.

Setelah diambil alih, perusahaan itu berganti nama jadi PT Rajawali Nusindo–jadi aset Badan Usaha Milik Negara, BUMN.

Oiya. Tahu tidak cara James Albert Michener, si penulis skenario film Hollywood mendulang cerita Oei Tiong Ham Concern?

Ketika kantor pusat perusahaan tersebut dipindahkan dari Semarang ke Jakarta, dia berkawan dengan Oei Tjong Tjay, putra bungsa Oei Tiong Ham. Cukup dekat. Mereka bersahabat baik. (wow/jpnn)