Kisah Raju Sanjaya (10), Korban Tenggelam di Pantai Panjang Ujung

 “Sempat Bilang, Ibu Saya Tidak Nakal Lagi,”

korban-raju
KISAH: Raju Sanjaya (10) Korban semasa masih hidup dikenal sebagai anak periang. (Foto IST/Bengkulu Ekspress).

Meninggalnya Raju Sanjaya (10) siswa kelas 3a SDN 41 Kota Bengkulu bukan hanya dirasakan keluarga. Teman sekolah dan guru juga merasakan kehilangan siswa yang dikenal sosok pintar dan banyak teman.

Endang Suprihatin & Rizky Surta Tama, Kota Bengkulu

PAGI Senin (7/11) sekitar pukul 09.00 wIB, halaman SDN 41 Kota Bengkulu, hening. Wajar, jam segitu merupakan waktu siswa melaksanakan aktivitas kegiatan belajar didalam kelas. Seperti diketahui SDN 41 Kota Bengkulu, menerapkan sistem pembelajaran paralel (pagi-siang).

Dan kebetulan, Raju Sanjaya yang merupakan kelas 3a di sekolah itu keseharianya masuk pukul 11.00 wib. Lokasinya berada ujung paling kiri sejajar dengan ruang kepala sekolah.

Di dalam kelas, yang terdiri dari 30an siswa. Raju menempati bangku urutan kedua dari belakang.

Ia duduk sebangku dengan Fino Indraman. Di mata teman dan sahabatnya Raju anak yang baik, periang dan suka iseng dengan teman-temanya. Tak jarang rasa isengnya membuat siswa lain menangis. “Dia anak yang baik, saya senang main dengan dia, tapi dia (Raju) sering ngangguin saya, ” jelas Fino.

Meski kerap iseng, Fino mengaku tidak marah atau pun sakit hati, karena Raju anak yang tidak pelit. Hal yang sama diungkapkan sahabat Raju, Habib, jika raju adalah anak yang periang, dan suka menolong. “Saya suka sama Raju, sama saya dia ngak pernah nakal, ” cetusnya.

Guru Raju saat duduk di kelas 2, Nurman Gultom SPd, tak kuasa menahan rasa sedih. Sebelum kejadian ada hal yang aneh disampaikan kepada diri mendiang. “Raju Sempat bilang, Ibu saya idak nakal lagi,”.

Kalimat itu merupakan ucapan terakhir disampaikan H-3 sebelum korban tenggelam. “Saya tidak menyangka jika kalimat itu merupakan ungkapan perpisahan,” katanya.

Diakui Nurma Gultom selama duduk dibangku SD, Raju memiliki catatan kepribadian yang kurang baik, karena prilakunya suka menganggu siswa lainya hingga memancing rasa emosi. “Saya pernah akan memindahkan dia, tapi syukurnya tidak terjadi, dan mungkin ini yang menjadi beban dihatinya, hingga ia menemui saya, ” terang Nurma.

Sebenarnya dalam akademik Raju anak yang pintar, mudah menangkap pembelajaran, ” Ia kerap lebih cepat menyelesaikan tugas yang diberikan guru, ” tutupnya.

Wali kelas 3A, Ayub Mazni SPd juga mengatakan tentang anak didiknya tersebut. Raju termasuk siswa yang pintar di mata pelajaran Matematika. Raju termasuk siswa yang cepat paham dan cepat menyelesaikan soal Matematika yang diberikan. Meski ia termasuk siswa yang bandel, kerap mendapat teguran. Namun hal itu malah membuat Raju dikenal baik dengan teman sekelas dan semua guru di SDN 41.

“Nakalnya itu masih termasuk wajar, umumnya anak seumurannya. Tapi dia itu malah punya banyak teman,” ujar Ayub.

Hari Sabtu sebelum Raju tenggelam, Raju terlihat sangat ceria di sekolah. Sejak pagi sampai pulang sekolah Raju sangat aktif di sekolah. Bahkan saat pulang, ia sempat bersalaman dengan Ayub sembari berujar, “saya pulang dulu ya pak,” Padahal hari biasa hal tersebut jarang dilakukan.

“Hari sabtu itu Raju sangat ceria. Bahkan saat pulang sempat menyapa dan salaman dengan saya sembari ngomong saya pulang dulu pak,” jelas Ayub yang mengaku tidak menduga pertemuan terakir dengan Raju itu sebagai pertanda.

Lantaran ibu Raju, Nova Wijaya masih shock pasca meninggalnya Raju. Paman Raju, Paridis akhirnya yang menceritakan semua kehidupan Raju dari pihak keluarga. Sejak Raju masih didalam kandungan, kehidupan keluarga Raju sudah banyak mendapatkan cobaan. Mulai dari perselisihan orang tua Raju sampai berdampak kepada keharmonisan antara keluarga Nova Wijaya ibu kandung Raju dan Irawan ayah kandung Raju, tidak heran jika akhirnya orang tua Raju bercerai.

Setelah kedua orang tuanya bercerai, Raju sempat ikut dengan bapaknya beberapa tahun. Keluarga dari ibu Raju kemudian mengambil Raju dari ayahnya karena iba melihat kehidupan Raju saat dengan bapaknya.

“Raju itu pernah diajak kerja bangunan dengan bapaknya, tidak makan seharian. Minta pulang malah dilempar balok. Jika seperti itu kan sudah jelas sama sekali tidak ada perhatian dari bapaknya,” ujar Paridis sembari sesegukan menahan tangis.

Sejak ikut dengan keluarga ibunya, kehidupan Raju sedikit lebih baik. Mendapat perhatian dan bisa bersekolah. Namun bapak Raju kembali lagi hendak mengambil Raju.

Niat itu jelas di tolak oleh Paridis, karena menurutnya bapak Raju pernah membuat surat jika dia tidak lagi mau mengurus Raju. “Dia pernah buat surat jika membuang Raju, sampai sekarang saya masih simpan surat itu. Sebagai bukti jika dia yang buang Raju,” jelasnya.

Keluarga Raju terlihat belum bisa menerima atas kepergian Raju. Baik Paman, Bibi, nenek terlebih lagi ibu kandungnya masih menangis histeris setelah Raju di kebumikan. Meski demikian mereka mengaku ikhlas meski berat, karena kejadian seperti ini merupakan takdir dari yang maha kuasa. Pantauan di lapangan, rumah semi permanen yang dihuni keluarga Raju sejak pagi sampai siang masih dipenuhi pelayat, termasuk teman-teman Raju satu sekolah.

Raju sendiri merupakan anak pertama pasangan Irawan dan Nova Wijaya. Almarhum yang bercita-cita menjadi polisi akhirnya harus memendam cita-citanya itu sejak awal karena takdir. Jenazah Almarhum dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Kinibalu.(***)