Kisah Negara Milenial: Merdeka Tak Hilangkan Derita

Sudanjpnn.com – Sebelum Catalunya memproklamasikan kemerdekaan pada Jumat (27/10), ada beberapa negara anyar lain yang lepas dari induknya di milenium baru ini. Namun, bagi sebagain negara milenial, kemerdekaan tak membuat rakyat lepas dari derita.

Bayangan bahwa berpisah bakal lebih bahagia tidak berlaku untuk Sudan Selatan. Negara termuda di dunia itu sampai sekarang menderita kemiskinan dan kelaparan parah.

Konflik bersenjata juga terus mendera negara yang dulu berinduk ke Sudan tersebut. Walhasil, selama dua tahun berturut-turut, negara yang beribu kota di Juba itu membatalkan perayaan peringatan kemerdekaannya. Tidak ada dana untuk berfoya-foya.

’’Kami tidak merayakan karena situasi tidak memungkinkan adanya perayaan saat ada rakyat yang lebih membutuhkan anggaran tersebut,’’ ujar Michael Makuei, juru bicara pemerintah Sudan Selatan, saat memberikan keterangan pada pers Juli lalu.

Sudan Selatan merdeka pada 9 Juli 2011. Hanya berselang 2 tahun, perang sipil berkecamuk. Puluhan ribu orang tewas dan 3,7 juta penduduk lainnya harus kehilangan tempat tinggal. Kelaparan juga melanda sekitar 5 juta penduduknya atau separo dari total populasi.

Negara yang perekonomiannya bergantung pada minyak tersebut juga mengalami hiperinflasi hingga 300 persen. Bank Dunia menyebut Sudan Selatan sebagai negara yang perekonomiannya paling bergantung dengan minyak. Karena itu, saat harga minyak turun, mereka begitu terpukul.

Bisa dibilang tidak ada pembangunan di Sudan Selatan. Sejak Sudan Selatan merdeka, hanya 504 kilometer jalan yang beraspal.

Anehnya, meski krisis terjadi di mana-mana, pemerintah malah menaikkan biaya izin kerja untuk relawan profesional asing. Yakni, dari USD 100 (Rp 1,4 juta) menjadi USD 1.000 (Rp 13,6 juta).

Bagaimana dengan Timor Leste yang berpisah dari Indonesia? Bekas provinsi ke-27 Indonesia itu menggantungkan perekonomian pada hasil kekayaan minyak dan gas alam.

Mereka juga masih bergantung dengan bantuan asing. Berdasar data dari UNICEF, satu di antara empat anak-anak usia 15–24 tahun yang tinggal di pedesaan mengalami buta huruf. Situasi keamanan juga masih menjadi masalah di negara muda tersebut.

’’Kejahatan masih menjadi masalah di Timor Leste, termasuk kekerasan antargeng, perampokan, serta serangan perorangan dan pada kendaraan,’’ tulis website milik Kementerian Luar Negeri Inggris tentang Timor Leste sebagaimana dilansir The Guardian. (TheGuardian/TheIndependent/sha/c20/ttg)