KIP Belum Atasi Persoalan, 1.651 Anak Putus Sekolah Per Tahun

Angka Putus Sekolah Provinsi BengkuluMencerdaskan kehidupan bangsa merupakan salah satu tujuan negara sesuai amanat UUD 1945. Namun, hingga usia 72 tahun kemerdekaan RI, segenap masyarakatnya masih belum mempunyai akses mengenyam dunia pendidikan formal selayaknya.

====
ANGKA anak putus sekolah di Bengkulu sangat tinggi. Terbanyak angka putus sekolah menengah kejuruan (SMK), dan terendah jenjang SMP. Hal itu diungkapkan Staf Ahli Bidang Inovasi dan Daya Saing, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Ananto Kusuma Seta PhD saat menyerahkan Neraca Pendidikan Daerah (NPD) kepada Bengkulu Ekspress, belum lama ini.

“NPD adalah upaya Kemdikbud untuk memberikan gambaran mutakhir tentang kondisi dan capaian pendidikan suatu provinsi, kabupaten/kota,” katanya.

Ia menjelaskan, NPD dimanfaatkan sebagai alat kontribusi penuh dalam memberikan solusi atas berbagai persoalan pendidikan demi mewujudkan pendidikan yang bermutu, terjangkau, berkeadilan.

Berdasarkan Neraca Pendidikan Daerah provinsi Bengkulu tahun 2016/2017 diketahui dengan jumlah penduduk di provinsi Bengkulu 1.926.076 jiwa dengan luas wilayah 19.919,33 km2 dengan 9 kabupaten dan satu kota, terdiri dari 128 kecamatan serta 172 kelurahan dan 1.341 desa.

Indeks pembangunan manusia (IPM) pada tahun 2015 sebesar 68,59% atau mendekati IPM rerata nasional sebesar 89,55%. “Maka rerata lama sekolah di Bengkulu 8,29 tahun dan harapan lama sekolah 13,18 tahun,” katanya.

Dilihat dari Angka Partisipasi Murni (APM), angka putus sekolah di provinsi Bengkulu mencapai 1.651 anak/tahunnya, angka putus sekolah terjadi disemua jenjang pendidikan.

Semakin tingginya jenjang pendidikan, mempengaruhi jumlah angka putus sekolah. Untuk jenjang Sekolah Dasar (SD) angka putus sekolah mencapai 4,2% (451 anak) angka ini kian meningkat di jenjang SMP 20,4% (339 anak) serta jenjang SMA mencapai 37,1% (398 anak SMA) dan (463 anak SMK ).

Angka putus sekolah tertinggi ditemukan di kabupaten Bengkulu Utara 299 anak, rincianya 71 anak SD, 55 anak SMP, 75 anak SMA dan 98 anak SMK. Ironisnya kota Bengkulu sebagai ibu kota provinsi berada diurutan kedua penyumbang angka anak putus sekolah dengan jumlah 298 anak, rincianya 112 anak SD, 72 anak SMP, 42 anak SMA, dan 72 anak SMK, dan posisi ketiga disumbang kabupaten Rejang Lebong dengan jumlah 251 anak putus sekolah, rincianya SD 62 orang, SMP 42 orang, SMA 59 orang, SMK 88 orang, (lihat grafis-red).

Tingginya angka putus sekolah itu menjadi Pekerjaan Rumah bagi daerah untuk mencarikan solusinya. Salah satu upaya mengurangi jumlah angka putus sekolah, pemerintah daerah dapat membentuk tim satuan petugas (Satgas) dengan melibatkan semua pihak serta rukun tetangga sehingga mereka terus mengecek anak usia sekolah dilingkungan masing-masing. Sehingga sama-sama bisa ditindaklanjuti. “Anak yang tidak mampu sudah didukung dengan KIP baik sekolah negeri maupun swasta, harapanya angka putus sekolah ini dapat ditekan serendah mungkin, ” tutupnya.

Sementara itu Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Bengkulu, Drs Ade Erlangga MMSi melalui Sekretaris Disdikbud, M. Daud Abdullah SPd saat dikonfirmasi mengakui tingginya angka putus sekolah disebabkan banyak faktor.

Pengaruh ini disebabkan angka kemiskinan, dan faktor ekonomi yang tinggi, akses pendidikan pun menjasi alasan bagi mereka yang berada dikawasan perkebunan untuk mengenyam pendidikan.

Seperti diketahui, secara geografis provinsi Bengkulu berada di kawasan pesisir dan perbukitan, dan sebagain masyarakat berada dibawah marginal. “Semakin besar ada diperbukitan yang akses pembangunanya tidak terjangkau, sementara banyak anak usia sekolah yang berada di kawasan sulit diakses pendidikan, seperti perkebunan,” katanya.

Daerah yang sulit diakses seperti Kaur, Rejang Lebong, Bengkulu Tengah, bengkulu Utara dan lainya.

Pemerintah, katanya telah melakukan berbagai upaya untuk mengajak anak usia sekolah untuk mendapatkan pendidikan. ” Dikbud sudah membuat program berburu, dan mengejar anak usia sekolah untuk masuk sekolah, model ini sudah diterapkan di kabupaten Kaur, ” ungkap M.Daud.

Walau sudah membuat program memburu siswa usia sekolah, persoalan ini tidak semudah seperti yang dibayangkan. Sulitnya akses dikawasan-kawasan terpencil membuat anak usia sekolah tidak bisa mengubah budaya dan memaksa orang tua berpisah dengan anaknya.

Akibatnya anak yang masih berusia sekolah terpaksa ikut orang tuanya untuk memenuhi perekonomianya. “Budaya pun sangat besar andilnya tingginya angka putus sekolah itu. Secara ekonomi masyarakat pekebun keberatan melanjutkan pendidikan, karena anaknya penopang pendapatan bagi keluarga, ” katanya.

Disinggung Kartu Indonesia Pintar sebagai salah satu solusi mencegah angka putus sekolah, diakui belum seluruhnya memecahkan persoalan pendidikan. “Tidak serta merta dengan KIP, persoalan angka putus sekolah teratasi, budaya anak yang tidak mau sekolah pun harus diatasi, ” jelasnya.

Menyikapi hal ini, pemerintah melalui Disdikbud, kata M Daud sudah melakukan berbagai hal, salah satunya membangun sekolah yang mempermudah akses bagi mereka yang tinggal dikawasan terisolir dan termarjinalkan ekonomi.

Caranya dengan membuat sekolah komunitas serta membangun sekolah berasrama. Dengan sistem sekolah komunitas, diyakini akan mampu menekan angka putus sekolah, serta angka melek huruf di Bengkulu terus mengalami tren peningkatan. “Dengan program ini, keaksaraan akan semakin naik 30-40 derajat, hanya saja kenaikanya tidak signifikan,”. (247)

    Leave a Reply

    Your email address will not be published.*