Ketika Polda Rekrut 6 Penghafal Alquran Menjadi Polisi, Sempat Nyaris Mundur saat Diminta Melepas Jilbab

192743_383747_Polisi_Hafiz_dalem

Sejak tahun lalu, Polda Sumatera Selatan membuat terobosan dalam merekrut polisi baru. Yakni, melalui jalur hafiz atau penghafal Alquran. Mereka mendapatkan enam polisi muda. Seorang di antaranya perempuan.

Laporan Bayu Putera, Palembang

LANTUNAN ayat suci Alquran terdengar lembut di ruang utama masjid Mapolda Sumatera Selatan, Kamis (16/4). Suara merdu itu berasal dari seorang Polwan berjilbab yang duduk di salah satu sudut ruang utama. Matanya terpejam, namun bibirnya tidak putus melamatkan surah Al Baqarah ayat 104-105.
Polwan itu bernama Bripda Rizka Munawwaroh, satu di antara enam hafiz yang direkrut Polda Sumsel. Dia adalah satu-satunya hafizah karena lima rekannya laki-laki. Siang itu dia sedang melakukan taqrir atau mengulang hafalan di bawah bimbingan salah seorang rekannya, Bripda Jamzan, yang telah hafal 30 juz.
Setelah sesi taqrir, Rizka masih menyempatkan bercanda dengan lima rekannya. Beberapa rekannya mencandai Polwan belia itu dengan memanggilnya Humaira (panggilan Nabi Muhammad kepada istrinya, Aisyah). Tak pelak, Rizka pun tersipu.
Rizka direkrut sebagai polisi di lingkungan Polda Sumsel bersama lima hafiz lainnya. Yakni, Jamzan, Muhammad Husein, M. Galeh Prima, Muhammad Arif Rafli, dan Welly Kaswara. Mereka direkrut secara khusus oleh Saiful Arifin dan Bripka Mudholal, staf di Biro SDM Polda Sumsel, setelah mendapat instruksi dari Karo SDM Kombes Mustaqim.
Upaya talent scouting itu tidak berlangsung mudah. Enam anak muda tersebut mengaku sebelumnya tidak membayangkan akan menjadi anggota polisi. Apalagi mereka sempat sedikit resistan dengan sistem rekrutmen Polri karena mengira dibutuhkan biaya untuk menjadi polisi.
’’Saya berupaya terus meyakinkan ustadnya Rizka bahwa rekrutmen Polri tidak dipungut biaya,’’ tutur Bripka Mudholal ketika ditemui Jawa Pos di Mapolda Sumsel, Kamis lalu.
Mereka memang direkrut berdasar prestasinya sebagai penghafal Alquran. Karena itu, tidak semua persyaratan calon anggota Polri mampu mereka penuhi. Mudholal pun perlu melatih fisik dan mental para hafiz tersebut selama tiga bulan sebelum masuk sekolah calon bintara (secaba). Hasilnya tidak sia-sia. Enam hafiz itu dinyatakan lolos seleksi calon bintara dengan hasil memuaskan.
Selain bertugas sebagai polisi, kini enam penghafal Alquran tersebut mendapat tugas menyempurnakan hafalan Alquran mereka. Hasilnya, Husein dan Jamzan sudah hafal 30 juz, Rizka hafal 19 juz, Arif 17 juz, serta Galeh dan Welly masing-masing masih 12 juz.
Menariknya, keenamnya tidak menyangka akhirnya menjadi polisi yang hafal Alquran. Husein, misalnya, baru merasa tertarik menjadi hafiz setelah ayahnya meninggal beberapa tahun silam.
’’Saya dapat cerita dari teman-teman bahwa ayah saya ingin punya anak yang hafal Alquran,’’ tuturnya.
Semasa hidup, sang ayah tidak pernah mengomunikasikan keinginan tersebut langsung kepada Husein. Dari situlah, Husein mulai belajar dan menghafal Alquran. Hebatnya, dia mampu menyelesaikan hafalan Alquran itu dalam waktu empat tahun.
Tahun lalu Husein ditawari Saiful Arifin, PNS di Mapolda Sumsel yang juga tetangganya, untuk ikut seleksi calon bintara. Dengan berbagai pertimbangan, Husein akhirnya menyanggupi tawaran itu. Padahal, semula dia ingin menjadi ulama.
”Orang tua ingin saya kembali ke Padang dan menjadi ulama di sana,” tutur pemuda kelahiran 2 Januari 1995 itu.
Lain lagi dengan Jamzan. Dia menuturkan, awalnya dirinya dipaksa orang tua untuk bisa menghafal Alquran. Karena itu, dia melakukannya tidak sepenuh hati. Namun, dalam perjalanannya, pikiran Jamzan berubah. Dia merasa keenakan sehingga makin bersemangat menghafal Alquran. Dalam waktu empat tahun dia bisa menuntaskan hafalan 30 juz.
Seperti halnya Husein, Jamzan sempat ragu ketika ditawari Saiful untuk ikut seleksi calon bintara. ”Saya awalnya mikir masuk polisi itu harus pakai uang,” tuturnya.
Tapi, setelah diyakinkan Saiful, Jamzan baru percaya. Bahkan, dia membuktikan sendiri omongan Saiful. ”Saya tidak mengeluarkan uang sama sekali,” ujarnya.
Sementara itu, Galeh bisa menghafal Alquran karena iri dengan kakak kelasnya di SMA. Kakak kelasnya tersebut sudah hafiz, dan dia ingin mengikuti jejaknya. Setelah menghafal sejumlah juz, Galeh juga ikut direkrut tim talent scouting Polda Sumsel.
Galeh mengaku punya motivasi tersendiri untuk menjadi polisi meski awalnya tidak pernah berpikir untuk menjadi anggota korps baju cokelat itu. Sebagai anak pertama di antara lima bersaudara, dia ingin segera mandiri. ”Biar tidak menyusahkan orang tua lagi,” ucapnya.
Dia juga punya keinginan, apabila program hafalan Alquran sudah selesai, dirinya menargetkan bisa masuk ke jajaran reserse. ”Banyak ilmu kepolisian di reserse. Itu yang membuat saya tertarik,” tambahnya.
Sebagaimana polisi hafiz lainnya, Arif Rafli dan Welly Kaswara diajak untuk mendaftar sebagai calon bintara melalui jalur hafalan Alquran. Arif mulai menghafal Alquran saat kelas I madrasah tsanawiyah. Begitu pula Welly. Namun, keduanya belum hafal 30 juz. Karena itu, mereka terus berusaha menambah hafalan di sela-sela tugas pendidikan.
Untung, Sekolah Polisi Negara (SPN) memberlakukan ibadah tepat waktu kepada siswa yang beragama Islam. Kesempatan itulah yang dimanfaatkan Welly untuk meningkatkan hafalannya. ”Setiap setelah salat, saya menambah hafalan selama 15 menit,” ucapnya.
Saat menjadi imam salat juga dimanfaatkan Welly untuk mengetes hafalan Alquran.
Apa tidak diprotes jamaah? Sembari tersenyum, Welly mengakui kadang jamaah protes karena bacaan suratnya terlalu panjang. ”Tapi, yang sering diprotes Husein. Kadang salat subuh sampai setengah jam,” ucapnya sambil tertawa. Husein pun diingatkan pembinanya bahwa salat jamaah yang dipimpinnya berlokasi di SPN, bukan di pesantren.
Hafizah Rizka punya cerita tersendiri saat akan direkrut sebagai Polwan. Dia tidak mendapatkan restu dari orang tuanya, khususnya sang bunda. ”Ibu sempat tidak setuju, khawatir hafalan Alquran saya hilang kalau jadi polisi,” tuturnya.
Sang ibu juga khawatir Rizka harus melepas jilbab saat menjadi polisi.   Ayahnya kemudian mengambil peran untuk meyakinkan ibu Rizka sehingga akhirnya Rizka disetujui menjadi polisi. Dia lalu menjalani pelatihan pra-tes untuk menyiapkan fisik dan mental sebagai pelayan masyarakat.
Cobaan berikutnya datang saat menempuh pendidikan di SPN tahun lalu. Sebab, Rizka tetap mengenakan jilbab sebagaimana kebijakan Kapolri Jenderal Sutarman yang membolehkan Polwan mengenakan jilbab. Namun, tak lama kemudian, kebijakan itu ditarik.
Rizka yang saat itu menjalani pelatihan di Sekolah Polwan Ciputat, Jakarta, diminta melepas jilbab atau dipulangkan ke Palembang. Dara kelahiran 15 Agustus 1995 itu merasa dilematis. Dia sempat stres dan nyaris akan memilih mundur. Tidak lama kemudian, Mudholal yang mendapat kabar tentang Rizka pun datang ke Jakarta.
Mudholal lalu mengajak Rizka berjalan-jalan ke ruang publik di Jakarta hingga tiba waktu salat. ”Itu banyak yang memakai jilbab, tapi saat waktunya salat mereka memilih untuk menunda,” tutur Mudholal yang kemarin mendampingi Rizka. ”Saya bilang ke dia (Rizka), jilbab yang sebenarnya ada di hati,” lanjutnya.
Akhirnya Rizka bersedia melepaskan jilbabnya. Salah satu pertimbangannya, di sekolah Polwan itu tidak ada siswa laki-laki. ”Meski saya malu samaAllah,” ucap Rizka.
Kerelaannya itu berbuah manis. Wakapolri Komjen Badrodin Haiti (kini telah menjadi Kapolri) akhirnya membuat keputusan yang memperbolehkan Polwan mengenakan jilbab.
Bagi Rizka, menjadi hafiz membuat tanggung jawabnya menjadi besar. Dia pantang melakukan sejumlah hal yang berpotensi membuat hafalannya hilang. ”Misalnya, pacaran. Itu bisa membuat hafalan hilang,” urainya.
Rizka pernah kehilangan hafalannya cukup banyak. Yakni, saat dia belum menjadi polisi. Kala itu dia pergi dengan sejumlah rekannya untuk bersenang-senang. Akibatnya, dia sampai lupa waktu dan tenggelam dalam sukacita. Dia bersedih saat mengetahui hal itu.
’’Alhamdulillah, saya punya mentor yang luar biasa sabar. Beliau seorang tunanetra, tapi mampu memberi saya motivasi untuk tidak menyerah,’’ jelas Rizka.
Saat ini enam polisi hafiz itu tinggal di kediaman Mudholal. Mereka tidak hanya dibina dalam hal hafalan, namun juga kemampuannya yang lain. Contohnya, menjadi qari, dai, dan kemampuan sejenis.
Karo SDM Polda Sumsel Kombes Mustaqim menuturkan, ide merekrut para hafiz dan hafizah itu lahir setelah Mabes Polri memberlakukan inovasi dalam sistem perekrutan anggota Polri. Mabes Polri mengizinkan jajaran Polda untuk merekrut polisi dari jalur prestasi. Baik prestasi olahraga, ilmu pengetahuan, maupun seni budaya.
Menurut Mustaqim, hafiz termasuk salah satu talenta yang tidak hanya hebat, namun juga mulia. Dia lalu meminta stafnya untuk berburu hafiz ke pesantren-pesantren di Sumsel. Hasilnya cukup memuaskan. ’’Ini adik-adik angkatannya (angkatan Husein cs) juga sedang dalam proses rekrutmen,’’ tuturnya.
Setelah hafalan enam hafiz tersebut tuntas, Polda memiliki program untuk mengembalikan mereka bertugas di daerah asal. Dalam budaya masyarakat Sumsel, polisi yang berasal dari daerah setempat akan lebih mudah diterima masyarakat. Apalagi, polisi tersebut memiliki basis agama yang kuat.
’’Ini juga membuktikan bahwa masih banyak polisi yang baik,’’ lanjut perwira dengan tiga melati di pundak itu. (c5/c10/ari)