Kerja Keras Meminimalisir PSK

BENGKULU, BE – Ketua DPRD Kota Bengkulu, Erna Sari Dewi SE, mengaku prihatin sekaligus miris mendengar adanya informasi mengenai penangkapan pekerja seks komersil (PSK) beserta anaknya di Terminal Air Sebakul, Senin (6/4). Ia menyatakan, DPRD Kota Bengkulu akan bertekad untuk menindaklanjuti permasalahan ini.
“Sebagai bagian dari pemerintah, kita tentunya miris mendengar adanya ibu yang seorang PSK ditangkap ketika sedang bersama dua anaknya. Kita langsung berkoordinasi mengenai hal ini dan menyepakati bahwa penyelesaian prostitusi akan menjadi agenda prioritas kami,” kata Erna kepada BE, kemarin.
Ia menjelaskan, langkah awal untuk meminimalisir penyebaran PSK ini adalah dengan cara merampungkan Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) tentang Perlindungan Ibu dan Anak. Disamping itu, lanjutnya, DPRD Kota Bengkulu juga berkomitmen untuk terus mendukung program Pemerintah Kota Bengkuluku Religius.
“Tekad kita dengan adanya Raperda tentang Perlindungan Ibu dan Anak itu bukan hanya untuk melindungi mereka sebagai kelompok sosial, tapi juga untuk menekan prostitusi sendiri. Ini bukan hal yang mudah, karena prostitusi ini dalam peradaban manusia sudah mengakar lama,” sampainya.
Ia mencontohkan, pembubaran Doli di Surabaya membutuhkan proses dan kerja keras yang panjang. Menurutnya, apa yang dihadapi oleh Kota Bengkulu jauh lebih komplek dari prostitusi yang ada di daerah-daerah lainnya.
“Melalui Pansus, Raperda tentang Perlindungan Perumpuan dan Anak ini terus dibahas dan mungkin akan segera rampung. Tapi kami juga berharap setiap stakeholder yang terkait dapat ikut serta menindaklanjuti masalah ini. Karena dalam hal sanksi misalnya, kita tetap membutuhkan aparat hukum,” urainya.
Ia menambahkan Pemerintah Kota Surabaya telah memberikan contoh yang sangat baik dalam upaya menekan angka prostitusi ini. Salah satunya adalah dengan cara memberikan modal, keterampilan serta pasar bagi para PSK untuk memulai kehidupan baru dengan jalan yang dibenarkan oleh aturan-aturan.
“Mau tidak mau para PSK kita harus mempunyai wadah bersama untuk berusaha bersama. Di Surabaya juga begitu. PSK diberikan keterampilan membuat kue, diberi modal untuk membuatnya dan diberikan pasar untuk menjualnya di seluruh SKPD-SKPD yang ada di Surabaya. Saya kira ini akan mudah berhasil. Apalagi kita mempunyai program Samisake,” pungkasnya.
Sebelumnya terlansir, tidak seperti penertiban-penertiban sebelumnya, Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Bengkulu akhirnya berhasil menangkap pekerja seks komersil (PSK) yang beroperasi di Terminal Air Sebakul. Dua PSK masing-masing berinisial Mi (28) dan Re (29), warga Perumahan Alpatindo, diamankan di kantor Satpol PP saat tengah mencari pelanggan di terminal tersebut.
Sambil menangis, Re menceritakan bahwa kehidupannya sebagai PSK murni karena keterpaksaan. Ia mengatakan, sejak ditinggal suaminya 2 tahun yang lalu, ia terpaksa membesarkan kedua anaknya yang ikut diangkut Satpol PP saat penertiban dilakukan. (009)