Kepala Bank Indonesia Bengkulu; Endang Kurnia Saputra Pariwisata Sumber Ekonomi Baru Bagi Bengkulu

General Manager Bengkulu Ekspress, Sukatno MSi (tengah) bersama jajaran saat menyerahkan plakat kenang-kenangan kepada Kepala Perwakilan BI Bengkulu, Endang Kurnia Saputra (pakai batik), di Bank Indonesia Bengkulu, Selasa (29/11). (Foto JOS/Bengkulu Ekspress).

Minimnya investasi swasta dan lambannya kemajuan di Provinsi Bengkulu menjadi perhatian serius Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bengkulu, Endang Kurnia Saputra.

Endang mengaku, ia ditugaskan di Bengkulu bukan hanya mendorong ekonomi makro, mengendalikan inflasi, menumbuhkan UMKM, industri, dan investasi, tetapi juga ada tugas berat, yakni mencarikan sumber ekonomi baru guna meningkatkan kemajuan di Provinsi Bengkulu.

Ketika menerima kunjungan General Manager Surat Kabar Harian Bengkulu Ekspress (BE), Sukatno MSi, didampingi Deputi Manager Bengkulu Ekspress, Suherdi Marabillie; Manager Iklan, M Hadi Nur Rahman; Manager Pemasaran, Jamal Maarif, Wakil Pimpinan Redaksi BE, Rajman Azhar dan Iyud Dwi Mursito; serta AE, Jos Hendri, Endang mengemukakan, lambannya kemajuan Provinsi Bengkulu ini karena investasi dan orang yang mau berwiraswasta sangat kecil.

Mengingat Bengkulu tidak cocok untuk investasi industri, kata Endang, salah satu cara mencari sumber ekonomi baru itu adalah meningkatkan promosi sektor pariwisata.

“Bengkulu ini tidak cocok untuk mendirikan pabrik, jadi sektor ekonomi baru itu adalah pariwisata. Misalkan penataan kawasan pantai, tinggal dirapikan sehingga tidak ada lagi kawasan kumuh. Kemudian, karena di Bengkulu banyak wisata sejarah, maka promosi wisata sejarah juga bisa dilakukan,” ujar Endang di ruang kerjanya, Selasa (29/11).

Salah satu upaya yang akan dilakukan Endang untuk mempromosikan wisata sejarah Bengkulu dengan menggagas supaya Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) bisa digelar Bengkulu.
Jika usulan itu disetujui, Endang berencana merancang peserta rakornas bisa dinner (makan malam) di Benteng Marlborough.

“Nanti kita minta peserta rarkonas datangnya sore, sebelum dinner mereka bisa menikmati senja dari Benteng Marlborough. Mengapa kita pilih Benteng Marlborugh, karena benteng adalah tempat bersejarah” ujar alumnus Universitas Padjajaran (Unpad) Bandung tahun 1990 ini.

Selain itu, suami Vivi Julfida Tedjasari ini juga merancang event internasional, festival jazz di Benteng Marlborough. Ia mengajak Bengkulu Ekspress berperan mewujudkan rencananya tersebut.

“Jadi kita rangkai Bengkulu ini bisa menjadi tujuan wisata. Jika rekan-rekan media mau terlibat atau punya ide, kita menyambut baik,” ajak Endang antusias.

Memang diakui Endang, ketika ia mengemukakan pikirannya itu kepada rekan-rekannya, banyak tanggapan miring, bahwa kesulitan mengundang banyak orang di Bengkulu adalah minimnya hotel dan tempat makan. Sebab itu, perlu juga peran pemerintah daerah untuk membantu memecahkan masalah tersebut.

Sementara itu, General Manager Bengkulu Ekspress, Sukatno menyambut antusias gagasan atau ide Kepala Bank Indonesia tersebut. Sukatno juga mengajak Bank Indonesia ikut terlibat dalam kegiatan yang akan digelar Bengkulu Ekspress, diantaranya lomba mewarnai tingkat anak-anak bekerjasama dengan PT Pelindo dan TNI AL. “Nanti untuk lomba mewarnai ini, kita ajak anak-anak juga wisata bahari. Dalam kegiatan ini kita juga butuh bapak Endang,” ujar Sukatno.

Mengenai sulitnya mencari hotel, ketika banyaknya orang yang datang ke Bengkulu, diakui oleh Sukatno. Contohnya saja, ketika masih menjabat Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Provinsi Bengkulu, Sukatno pernah menggelar kegiatan berskala nasional di Bengkulu, yaitu Peringatan Hari Pers Nasional.

“Dahulu waktu kegiatan HPN, kami mengundang Bapak (Presiden) SBY (Susilo Bambang Yudhoyono). Kesulitan kita adalah mencari hotel. Saking banyaknya undangan, kamar hotel habis (dibooking),” kenang Sukatno.

Sayangnya, kata Sukatno, event berskala nasional itu jarang sekali digelar di Bengkulu alias tidak berkesinambungan. “Sayangnya kegiatan-kegiatan itu tidak rutin, bisa dikatakan pertama dan terakhir,” ujarnya.

Selain itu, Sukatno berharap Bank Indonesia bisa membantu mendorong pertumbuhan sektor UMKM (usaha mikro, kecil dan menengah) di Bengkulu, melalui program yang berkelanjutan.

Sukatno menyampaikan, banyak sektor yang bisa dibantu, mulai dari pertanian, perkebunan, dan kelautan. Khusus pertanian bisa membantu petani sawit melalui pemanfaatan limbah pelepah sawit, perikanan memanfaatkan limbah tulang dan kepala ikan tenggiri, kemudian kopi dengan mendorong produksi bubuk kopi dengan brand kopi Bengkulu.

“Saya punya teman seorang nelayan yang khusus mencari ikan tenggiri. Sayangnya ia hanya mengambil dagingnya saja untuk dijual, sementara kepala dan tulangnya dibuang ke laut. Padahal menurut saya, limbah kepala ikan dan tulangnya itu bisa bermanfaat dengan diolah menjadi tepung, yang bisa menjadi pakan ikan,” ujar Sukatno.

Kemudian, kata dia, di Indonesia ini bubuk kopi yang terkenal berasal dari Lampung, padahal asal biji kopi sebenarnya banyak dari Bengkulu (Curup dan Kepahiang) yang dijual ke Lampung. Sehingga perlu didorong bagaimana kedepan pengolahan kopi langsung di Bengkulu.

Mendengar cerita General Bengkulu Ekspress itu, Endang mengajak supaya Sukatno menjadi salah satu anggota dalam Eminent Person Group (EGP) yang khusus memaparkan pandangan ekonomi di Bengkulu. Menurut Endang, Sukatno bisa mewakili orang-orang yang mengalami bagaimana pasang surut ekonomi Bengkulu, sehingga mampu memberikan solusi bagaimana meningkatkan pertumbuhan ekonomi Bengkulu.(911)