Keluarga Tak Percaya Hakim Suryana Terima Suap

REWA/Bengkulu Ekspress Suryana dan Suaminya Rendra berfoto bersama anak-anaknya.
REWA/Bengkulu Ekspress Suryana dan Suaminya Rendra berfoto bersama anak-anaknya.

Berawal Zaini Ambil Charger dan Titip Bungkusan Hitam

Bagai disambar petir siang bolong, mertua hakim Suryana nyaris tak percaya anaknya itu menerima suap. Selama ini dikenal jujur, baik dan taat beribadah. Sehingga menyakini, Suryana adalah korban oknum yang tak menyukainya.

====
REWA YOKE D – KOTA BENGKULU
===
MENGAWALI cerita, Suryana SH MH yang bertugas sebagai Hakim di Pengadilan Negeri Tindak Pidana Korupsi (PN-Tipikor) Bengkulu adalah hakim dengan sosok yang tegas dan cantik ini dikenal dikeluarga sebagai seorang yang memiliki jiwa sosial yang tinggi. Membuat seluruh orang, baik keluarga dan masyarakat sekitar tidak mengira kalau dirinya harus berurusan dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Ibu Mertua Suryana, Hj Nurisa (61), menjelaskan kronologis kejadian, saat itu sekitar pukul 08.30 WIB didatangi oleh teman Suryana, seorang pria yang akrab disapa Zaini. Zaini datang ke rumah dinas Suryana yang lantas disambut baik oleh Ibu Nurrisa. “Dia katanya datang untuk mengambil Charger HP milik Suryana tertinggal di rumah. Ia juga menitipkan sebuah titipan untuk Suryana berupa bungkusan hitam di dalam sebuah tas,” jelas Nurisa kepada Bengkulu Ekspress kemarin (7/9).

Nurisa kemudian menerima dan membawa tas tersebut, lalu meletakkannya di atas Lemari di Ruang Tamu. Setelah pukul 18.00 WIB kemudian dirinya memberi tahu ada titipan yang kemudian langsung diterima oleh Suryana.

“Karena kelelahan, dia tetap meletakkannya didalam plastik kondisi Plastik itu acak-acakan, uang di dalamnya juga acak-acakan tidak tersusun,” terang Nurisa.

Dijelaskan Nurisa, sekitar Pukul 00.30 WIB tim KPK sebanyak 5 orang terdiri dari 2 orang perempuan dan 3 orang laki-laki menggeledah seluruh rumah dinas Suryana, bahkan mobil Toyota merk Kijang Innova miliknya tak lepas dari penggeledahan.

Hingga sekitar pukul 01.30 WIB pihak KPK tidak menemukan bukti apapun, tetapi Suryana tetap dibawa KPK untuk menjalani pemeriksaan di Polda Bengkulu.

“Tetapi beberapa jam kemudian, sekitar pukul 03.30 WIB KPK kembali ke Rumah Suryana dan ternyata uang ditemukan didapur milik Ibu Suryana dan uang diamankan oleh KPK,” tutur Nurisa.

Berdasarkan keterangan dari Pihak KPK, Suryana diduga menerima Suap oleh sejumlah oknum yang berhasil memenangkan kasus yang sudah ditanganinya dan menerima uang sebanyak 50 Juta. Tetapi setelah dihitung-dihitung oleh KPK uang yang diterima hanya Rp 40 Juta. “Saya tidak tahu menahu terkait uang itu, saya juga tidak mengetahui apakah ada pemotongan Rp 10 Juta oleh oknum lainnya,” tutupnya.

Yakin Anaknya Tak Bersalah

Penuturan Ibu Mertuanya Nurisa (61), Suryana yang akrab di panggil Ana, merupakan anak yang baik dan taat beribadah. Tidak ada hal buruk yang pernah dilakukannya, bahkan diakuinya Suryana adalah anak yang cukup berprestasi dengan karir yang baik. “Dia (Suryana, red) anak yang baik dan rajin beribadah, tidak pernah macam-macam. Karirnya juga bagus, saya tidak percaya dia akan terlibat hal seperti ini,” ujar Nurisa kemarin (7/9).

Wanita kelahiran 14 April 1976 ini harus dibawa KPK karena diduga menerima Suap terkait kasus yang sudah ditangani. Pihak keluarga menolak dengan berat, tetapi KPK menyeret dan membawanya untuk menjalani pemeriksaan. “Kami tidak percaya kalau Ana harus berurusan dengan hal seperti ini terutama kasus suap, kami yakin Ana bukanlah orang seperti itu,” sambung Nurisa.

Diungkapkan Nurisa, meskipun hanya tinggal di rumah Dinas yang hanya berukuran 7×10 meter persegi, Ana menjalaninya dengan syukur. Tidak pernah Ana berpikiran menjadi kaya raya dengan cara menerima uang suap. Ana dimata keluarganya adalah pribadi yang jujur. “Suap tersebut adalah permainan untuk menjebak anak saya lantaran kariernya sekarang mulai semakin membaik dan menanjak jadi ada yang tidak senang,” ungkap Nurisa.

Dijelaskan Nurisa, karier anaknya dimulai dari Kalimantan Barat di Ketapang, lalu ke Lampung Barat Liwa dan terakhir Bengkulu. Di Bengkulu awalnya Ana di tempatkan di Pengadilan Negeri Curup, setelah beberapa tahun menjalani karir di Curup, Ana harus pindah ke Kota Bengkulu menjabat sebagai Hakim di Pengadilan Negeri Tipikor Bengkulu.

“Hampir setiap minggu Ana selalu ditugaskan ke luar daerah untuk mengikuti pertemuan dan kegiatan. Kadang ke Medan, Palembang dan beberapa kota lainnya. Saya tahu karena karirnya yang mulai menanjak membuatnya harus melalui kejadian seperti ini,” jelas Nurisa.

Diungkapkan Nurisa, anaknya terpaksa berurusan dengan pihak KPK akibat dari operasi tangkap tangan (OTT) yang dilakukan KPK di rumah dinasnya. Didapati bungkusan berwarna hitam di dalam sebuah tas sandang berisikan uang senilai Rp 40juta. Uang tersebut berada di dalam bungkusan koran dan dilapisi plastik hitam yang tidak beraturan, uang tersebut dititipkan oleh temannya Zaini pada pagi hari sebelum OTT. “Temannya Zaini menitipkan uang pada pagi hari, saya mana tau kalau isinya uang, makanya saya letakkan diatas lemari di ruang tamu, karena anak saya belum pulang, dan saya beritahu pada sore harinya ada titipan, tetapi Ia hanya meletakannya karena ana juga tidak tau, saya yakin anak saya juga tidak tahu menahu hal tersebut,” ungkap Nurisa.

Dengan paras terlihat begitu sedih, Nurisa merasa cukup tertekan melihat anaknya harus menjalani pemeriksaan oleh penyidik KPK, Nurisa hanya bisa pasrah, Ia berharap tuhan bisa dapat menolong. Karena selain bertugas sebagai Hakim, Ia juga sebagai Ibu bagi 3 orang anaknya. “Apalagi anaknya yang kecil sekarang masih berumur 1,5 tahun dan masih membutuhkan kehadiran seorang Ibu. Saya tidak mau kejadian ini akan membuat anak-anaknya berpisah dengan ibunya,” tambah Nurisa.

Terakhir Nurisa berharap kasus ini segera terselesaikan dan bisa diketahui dengan pasti kebenarannya apakah benar Suryana adalah tersangka penerima suap ataukah hanyalah korban dari semua skenario yang disangkakan oleh mertuanya.

“Saya berharap segera selesai dan bisa diketahui kebenarannya, saya tidak mau Ana menjadi korban dari permainan oknum tertentu karena saya yakin Ana tidak bersalah,” tukasnya.(**)