Kelompok Perempuan Berperan Penting dalam Pencegahan Kekerasan Terhadap Anak

Ketua TP PKK Provinsi Jawa Barat, DR Netty Prasetiyani
Ketua TP PKK Provinsi Jawa Barat, DR Netty Prasetiyani

BENGKULU, bengkuluekspress.com – Kelompok – kelompok perempuan sangat berperan penting dalam pencegahan kekerasan terhadap anak. Hal ini disampaikan Ketua TP PKK Provinsi Jawa Barat, DR Netty Prasetiyani saat memberikan materi dalam acara talk show dengan tema Pengasuhan dan Perlindungan Anak yang diselenggarakan oleh Pimpinan Wilayah Salimah (Persaudaraan Muslimah) Provinsi Bengkulu dan Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (P3APPKB) di Aula Bappeda Provinsi Bengkulu, Senin (24/04/2017).

Dari data P3APPKB, di tahun 2016, jumlah kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak sebanyak 563 kasus. 50 persennyanya adalah kekerasan terhadap anak.

Untuk itu, pencegahan terjadinya kekerasan terhadap anak harus dilakukan secara sinergi antara pemerintah dan kelompok – kelompok masyarakat.

“Saya masih sangat yakin jika kita ingin bekerja sampai ke akar rumput yakni ke kelompok masyarakat di tingkat
tingkat kecamatan, desa dan dusun,” ungkap Netty.

Kemudian, pencegahan terhadap terjadinya kekerasan terhadap anak pun harus dilakukan sebanyak – banyaknya. Jangan sampai kekerasan itu baru diketahui setelah adanya korban. Untuk itu, harus ada sebuah pemetaan untuk kemudian melakukan sosialisasi kepada masyarakat.

“Nah, kelompok yang paling efektif adalah kelompok perempuan atau kaum ibu. Karena sebagian waktu anak dihabiskan bersama ibunya. Kita ingin ibu – ibu ini memiliki pengetahuan, kesadaran dan pemahaman bagaimana pola pengasuhan yang tepat,” sampaiNetty.

Lanjutnya, pemenuhan kebutuhan terhadap anak bukan sebatas kebutuhan fisik saja. Akan tetapi bagaimana mengamati tumbuh kembang anak termasuk proses kejiwaan. Oleh karena itu, harus ada intervensi dalam program – program pemerintah dengan menyelipkan tema – tema ketahanan keluarga dan tema – tema pengasuhan.

“Jangan ragu untuk menjelaskan konsep ketubuhan. Apa sih yang harus dijaga di di tubuh kita ini. Ada berapa area yang berbahaya pada tubuh ini. Ada berapa jenis sentuhan yang harus dikenali,” katanya.

Ditambahkan Netty, berbicara tentang kesehatan reproduksi harus lah tuntas, baik kepada anak laki – laki maupun anak perempuan. Seperti bagi anak perempuan, harus dijelaskan tentang proses menstruasi dan bagaimana harus memilih teman.

“Itu sangat mungkin dilakukan ditengah kumpulan ibu – ibu seperti di Posyandu, BKB dan BKR. Ini kan sebuah sentra kegiatan masyarakat yang cukup banyak didatangi oleh ibu – ibu dan masyarakat. Ini sangat efektif kalau kita ingin melakukan sosialisasi dan penyuluhan di kegiatan kegiatan seperti itu,” terangnya.

Kelompok – kelompok masyarakat pun dituntut mampu menguasai dampak sosial dari kekerasan terhadap anak, seperti korban yang ditolak di sekolah, tidak berprestasi, dan masyarakat yang menganggap hal itu adalah aib.

“Nah ini tentu harus dikuasai para penggerak masyarakat. Tidak mungkin pemerintah bekerja sendirian tanpa melibatkan kelompok masyarakat. Salah satu penentu keberhasilan pembangunan adalah masyarakat sipil yang juga sebagian besarnya perempuan yang berorganisasi dan berkumpul,” katanya.

Sementara itu, Ketua PW Salimah Provinsi Bengkulu, Syafnizar mengungkapkan acara talk show yang diselenggarakan ini dalam rangka memperingati Hari Kartini.

“Harapan kita, Sosialisasi pentingnya pengasuhan dan perlindungan anak di Provinsi Bengkulu ini agar anak – anak mendapatkan pengasuhan dan perlindungan yang memadai sebagai salah satu hak bagi anak,” ungkapnya. (Dil)