Kekeringan, Masa Tanam Diundur

sawah

BENGKULU, BE – Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Kota Bengkulu, Matriani Amran mengatakan, kemarau panjang yang melanda Provinsi Bengkulu membuat beberapa area persawahan mengering.  Akibatnya, petani harus mengundur masa tanamnya agar tidak terjadi gagal panen.
Ia menjelaskan, lahan sawah Bengkulu yang luasnya 800 hektare tidak mendapatkan pengairan memadai karena air Sungai Muara Bangkahulu tidak bisa sampai ke sawah-sawah petani. Hal ini karena debit air sungai berkurang dan tidak bisa menjangkau sawah. Sebab itu, pihaknya mensosialisasikan agar para petani melakukan antisipasi penanaman.
“Kita minta agar para petani untuk mengundur masa tanam,” ujarnya  saat dihubungi BE, kemarin (21/10).
Ia pun belum tahu sampai kapan antisapasi tersebut akan dilakukan. Sejauh ini, Matriani juga mengaku belum ada program dari pihaknya untuk mengatasi kekeringan ini lebih lanjut. “Harusnya sih masa tanam sekarang. Tapi karena sumber airnya ini tidak ada jadi diundur sampai hujan turun. Petani juga tidak mau berspekulasi,” jelasnya.
Akibat kekeringan yang terjadi sejak Maret ini, lanjutnya, penurunan produksi lahan padi mencapai 50 persen sepanjang Januari hingga Oktober 2015. Produksi lahan padi yang dalam kondisi normal antara 6-9 ton/hektare turun menjadi 3-4 ton/hektare.
“Selain petani tidak bisa tanam padi karena kekeringan, hasil tanam petani awal 2015 lalu jadi tidak maksimal. ” pungkasnya.
Pantauan BE, di persawahan yang ada di Kelurahan Surabaya, Kota Bengkulu, tak ada satupun petani yang turun untuk menggarap sawahnya. Sumber pengairan yang ada disana juga kosong. Sementara kondisi tanah sawah retak-retak disengat matahari.
Sebelumnya, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan Provinsi Bengkulu baru memasuki musim hujan pada awal Desember 2015 mendatang. Kendati demikian, guyuran hujan ringan masih tetap akan membasahi Bengkulu.
“Akan ada hujan intensitas ringan beberapa kali, seperti bulan Agustus dan September,” kata Prakirawan BMKG Bandara Fatmawati Provinsi Bengkulu, Winda Ayu.
Untuk cuaca sendiri, ia memprediksi masih berkabut akibat adanya asap kiriman dari provinsi tetangga yang mengalami kebakaran hutan dan lahan. Provinsi yang berbatasan langsung dengan Bengkulu tersebut adalah Jambi dan Sumatera Selatan. Hal ini diakibatkan adanya pergerakan angin yang berhembus dari arah tenggara ke selatan.
“7 daerah yang terkena dampak asap tersebut, Kabupaten Mukomuko, Bengkulu Tengah, Lebong, Rejang Lebong, Kepahiang, Kaur, dan Kota Bengkulu,” paparnya. (609)