Karet Anjlok, Petani jadi Buruh

 

1
Bakti/BE KARET : Salah satu lahan perkebunan karet milik warga di Kabupaten Benteng. Akibat harga karte anjlok, sejumlah petani memilih berhenti menyadap karet dan beralih profesi menjadi buruh harian.

BENTENG, BE – Anjloknya (turun,red) harga komoditi karet membuat para petani kesulitan memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Kondisi itu membuat para petani di Kabupaten Bengkulu Tengah (Benteng) tak sedikit yang beralih profesi menjadi buruh bangunan.

Seperti halnya yang disampaikan Suroso (23), warga Desa Gajah Mati, Kecamatan Karang Tinggi, Kabupaten Benteng kepada BE. Diakuinya, dalam kondisi saat ini profesi sebagai petani karet memanglah tidak menguntungkan lagi. Terlebih lagi untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

“Saya ini hanya menyadap karet milik orang lain dan hasilnya dibagi dua dengan pemilik kebun. Dengan harga yang anjlok saat ini, saya lebih memilih berhenti mengurus karet dan menjadi buruh harian,” ungkap Suroso.

Senada dengan disampaikan Suroso, Zainal (50), warga Desa Padang Tambak, Kecamatan Karang Tinggi, Kabupaten Benteng. Ia mengungkapkan, turunnya harga karet ini sudah berlangsung sejak 3 tahun lalu dan hingga kini belum ada perubahan. Mendapati kondisi ini, ia lebih memilih berhenti menyadap karet dan bekerja serabutan, termasuk menjadi buruh harian.

“Saat ini hasil karet hanya dihargai Rp 3 ribu sampai Rp 3.500 per kilogram jika dibeli langsung oleh para tengkulak atau toke datang ke rumah,” ungkap Zainal.

Masih kata Zainal, beruntung dirinya memiliki warung manisan yang bisa digunakan sebagai salah satu sumber penghasilan tambahan selain dari hasil tani yang biasa digelutinya selama ini.
“Jika sedang tak ada tawaran kerja, saya lebih memilih untuk berdiam diri di rumah dan berdagang manisan. Bahkan, tak jarang saya meminjam uang dari kooperasi desa untuk mencukupi keperluan sehari-hari tanpa harus memikirkan cara untuk membayar hutang tersebut,” aku Zainal.(135)