Jelly Ilegal Masih Beredar

BENGKULU, BE – Meski telah dilarang beredar oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Bengkulu, namun di sejumlah warung manisan masih ditemukan peredaran produk makanan jenis jelly ilegal. Misalnya ditemukan warung manisan milik Elina (42) di Jalan RE Martadinata Kelurahan Pagar Dewa.
Kepada BE ia mengakui, ia tidak mengetahui bahwa jelly Saripati Agogo, jelly Jialan Mini, jelly Eskrim Monas, jelly Eskrim Puding, jeli Trompet, jely Medium dan jely Sari Kids merupakan produk ilegal. “Saya tidak pernah tahu kalau pruduk ini ilegal dan sudah ditarik dari pasaran. Jelly-jelly ini ada di warung saya karena memang diantar oleh distributornya beberapa waktu silam,” katanya, kemarin (5/4).
Senada dikatakan Asmer Simanjuntak (31), pemilik warung manisan di Kelurahan Sidomulyo. Namun ia memastikan tetap akan menjual jelly tersebut hingga habis. “Sudah terlanjur saya beli kenapa pula harus dibuang. Kalau memang barangnya tidak nambah, ya, tidak apa-apa. Apalagi kan katanya di media tidak mengandung bahan berbahaya,” ujarnya.
Ia tak menampik bahwa jelly-jelly tersebut sangat laris. Sebab, jelly tersebut memiliki bentuk kemasan yang menarik dan warna-warna yang unik. Pembeli jelly ini mayoritas merupakan anak-anak. “Anak saya juga suka makannya. Tapi tidak ada dampak apa-apa. Sayang juga kalau ternyata izinnya ilegal. Mudah-mudahan bisa jadi pelajaran buat yang lain,” sampainya.
Sebelumnya dilansir, BPOM Bengkulu menarik peredaran jelly yang didistribusikan oleh PT Roda Mas, Selasa (31/4). Sebanyak 1.224 dus jelly berhasil diamankan dan kemudian dimusnahkan.
Penarikan produk tersebut berawal dari temuan BPOM pada pelaksanaan razia bulan Desember lalu. Saat itu tim menemukan kejanggalan pada kemasan makanan pada produk makanan tersebut. Kejanggalan itu terlihat pada izin edar berlabel “MD”, dimana dalam kemasan, ada dua tempat disebutkan disana yakni Kota Tanggerang dan Palembang.
Karena pabrikan Saripati Palembang, BPOM Bengkulu kemudian melakukan koordinasi dengan BPOM Palembang, untuk melacak keberadaan pabrik Saripati Palembang tersebut, beserta izin edarnya. Alhasil, pabrikan tersebut belum pernah melakukan pengurusan izin edar ke BPOM setempat, melainkan produk makanan ini menggunakan izin edar fiktif. (009)