Jamaah Haji Akan Disterilkan

BENGKULU, BE– Jadwal kepulangan jamaah haji asal provinsi Bengkulu baru akan dilakukan pada 8 hingga 11 Oktober 2015 mendatang. Namun panitia haji dari Kantor wilayah Kementerian Agama provinsi Bengkulu telah melakukan rapat persiapan penyambutan kepulangan jamaah haji Provinsi Bengkulu setelah menunaikan ibadah haji di tanah suci.

Rapat persiapan kepulangan jamaah haji itu dipimpin Kakanwil Kemenag H Dr Suardi Abbas, MHI dihadiri kepala Kemenag kabupaten/kota, koordinator yang juga Kepala Bagian Tata Usaha, Mulya Hudori dan Ketua Panitia Pelaksana Penyelenggaraan Haji , Ramlan.

Seperti diketahui, jadwal pemulangan jamaah haji akan dimulai pada kloter 7 Padang dilakukan yakni pada tanggal 8 Oktober 2015, sedikitnya ada 455 jamaah yang tergabung dikloter ini. Rincianya 238 jamaah Kota Bengklulu, 135 jamaah Seluma dan 73 jamaah Kepahiang serta 5 petugas haji. Kloter 7 akan berangkat dari Jeddah pada 07 Oktober pada pukul 14.20 WAS, dengan menggunakan pesawat Garuda dengan nomor flight GA 3407. Pesawat akan tiba dan mendarat di Bandara Internasional Minangkabau, Sumbar pada pukul 02.50 Wib.

Kloter 8 akan diberangkatkan dari Jeddah pada 09 Oktober pada pukul 08.05 WAS dan tiba di BIM pada pukul 20.35 wib dengan menggunakan pesawat GA 3408, dan pada pukul 01.00 jamaah diberangkatkan dari BIM menuju embarkasi haji antara dan tiba di Kota Bengkulu pada 02.40 wib.
Kloter 9 diberangkatkan dari Jeddah pada 10 oktober pukul 11.20 was, dan tiba di BIM pada pukul 23.50 wib denbgan GA 3409, selanjutnya dari BIM menuju embarkasi haji antara pada 11 Oktober pukul 04.20 wib.

Pemulangan jamaah haji kloter 7,8 dan 9 ini dibagi menjadi 3 penerbangan, dengan jadwal pemberangkatan yang berbeda-beda. Khusus pesawat kloter pertama (kloter 7) penerbangan pertama dilakukan Pukul 06.50 WIB, pesawat kedua pukul 07.10 WIB, dan pesawat ketiga pukul 07.30 WIB.

Dalam rapat tersebut, banyak hal yang menjadi point perhatian. Diantaranya tas tentengan, serah terima jamaah hingga kepulangan jamaah ke daerah. Dari pengalaman tahun sebelumnya, persoalan tas tentengan kerap memicu konflik antara panitia dengan jemaah haji, pasalnya tas tentengan dimasukkan kedalam bagasi pesawat dan kerap tertukar. Maka tahun ini meminimalisir hilang dan tertukarnya tas tentengan tersebut, jamaah diminta untuk menenteng tas masing-masing sejak dari Jeddah, dan tidak masuk dalam bagasi.

Di BIM jamaah akan disambut panitia Bengkulu, dan sebelum di Bandara Fatmawati Soekarno Putri, jamaah diperiksa terlebih dahulu kesehatanya. Demi memastikan tidak tertularnya virus ebola dan Mers corp. Jamaah diletakkan pada aula yang telah disterilkan. Setelah semuanya selesai dilakukan serah terima jamaah, beserta barang bawaanya, kemudian jemaah langsung diterbangkan ke Bengkulu.

Jamaah haji itu langsung dibawa ke asrama haji, dan setibanya di Bengkulu disambut gubernur dan panitia di Bengkulu. Selanjutnya dilakukan acara setelah acara serah terima dari ketua kloter ke panitia haji daerah, setibanya jamaah di embarkasi haji antara tidak langsung diakomodir ke aula, yang telah disiapkan makanan, jamaahpun dilarang langsung menemui keluarganya yang telah menunggu dan menjemput diasrama haji.

Setelah acara serah terima selesai, jamaah haji dipersilahkan menginap di kamar asrama yang telah disiapkan. Terkhusus jamaah haji kabupaten Mukomuko, dan Seluma karena menunggu panitia haji dari daerah. Dan pagi sekitar pukul 07.00 jamaah kedua kabupaten ini diberangkatkan dengan menggunakan bus Putra rafflesia menuju daerahnya, dengan membawa seluruh barang bawaanya seperti ari zamzam dan sejumlah oleh-olehnya.

” Kepulangan jamaah tidak boleh ada yang ngacir, panitia daerah diminta untuk mengakomodir bus,” kata Suardi Abbas. Hal ini dilakukan untuk memiminimalisir terjadinya tercecernya jamaah yang pulang kerumahnya.

Barang bawaan jamaah atau kopor besar jamaah haji, dapat diambil langsung di asrama haji antara dengan menunjukkan pasor atau DAPIH jamaah haji yang bersangkutan. Koper besar ini tidak akan diinapkan, begitu tiba pada hari itu, jamaahpun sudah bisa mengambilnya.

Tuntut Perbaiki Layanan Haji

Bertubi-tubinya kejadian yang dialami jamah haji Indonesia tahun ini membuat Amirulhaj yang juga menteri agama Lukman Hakim Saifuddin bersikap. Lukman mengungkapkan akan memberikan masukan khusus atau rekomendasi kepada Pemerintah Arab Saudi untuk memoerbaiki layanan haji tahun depan. Mengingat jamaah Indonesia yang terbanyak di dunia mengalami atau terkena langsung kejadian yang menewaskan puluhan jamah haji.

Pada peristiwa jatuhnya crane (11/9) misalnya, 11 jamaah tewas, puluhan luka, bahkan seorang tidak teridentifikasi hingga kini. Sedangkan pada kejadian tragedi Mina di Jalan Arab 204 sementara ada 59 jamah Indonesia meninggal, 74 hilang, lima luka. Tak hanya itu saat angin kencang di Arafah, tenda roboh, listrik padam. Dampaknya tak terduga selain water cooler tak berfungsi, peralatan kesehatan yang bergantung listrik tak bisa digunakan.

“Akibatnya banyak jamaah meninggal karena dehidrasi dan oeralatan kedokteran tak berfungsi,” tutur Menag saat mendatangi Madinatul hujaz (tempat pemeiksaan bagasi jamaah di Jeddah, kemarin (1/10).

Catatan Jawa Pos, saat di Arafah-Mina setidaknya 53 jamaah meninggal karena sakit. Di Arafah dalam sehari saja 24 jamaah meninggal karena dehidrasi (heatstroke) dan penyakit bawaan lainnya. Sementara saat di Mina, di luar korban tragedi selama empat hari 10-13 Dzulhijah, puluhan jamaah meninggal. Mereka meninggal di pos kesehatan BPHI Mina. Sehari bisa sampai delapan jamaah.

Selain hawa panas yang mencapai hingga 46 derajat Celcius, angin, juga karena listrik mati. Karena itulah menag melakukan protes resmi ke pemerintah Arab Saudi. Ada tiga hal yang dituntut menag agar ada perbaikan layanan haji. Pertama agar tenda di Arafah dibangun permanen seperti di Mina. Sehingga tidak mudah roboh dan membahayakan jamaah. “Padahal kekuatan angin saat itu tidak seperti ketika ada kecelakaan crane. Kalau anginnya seperti saat itu, apa jadinya tenda tenda di Arafah,” tutur amirulhaj ini.

Juga dibangun pembangkit listrik permanen di Arafah. Tidak menggunakan genset seperti sekarang. “Tidak ada susahnya bagi negara seperti Saudi untuk membangun tenda dan pembangkit listrik di Arafah. Sehingga jamaah haji bisa lebih nyaman dan khusuk beribadah,” katanya.

Selain itu, tuntutan pemerintah Indonesia, agar tenda di Mina dibuat bertingkat. Sehingga tidak perlu ada perluasan ke Mina Jadid. Menurut menag, bermalam (mabit) di Mina, jika dilakukan di Mina Jadid masih ada pertentangan secara syar’i, sah dan tidaknya. Karena Mina terletak jauh dari Mina sekitar 5 km, lebih dekat ke Muzdalifah. Kawasan Mina Jadid melewati tenda tenda negara lain, seperti Arab, Malaysia, Afrika, dan lainnya. “Karena itulah kami akan meminta Saudi membangun tenda di Mina secara bertingkat, sehingga tidak ada jamaah Indonesia yang harus tinggal di Mina Jadid.

Menurut menag seharusnya Arab Saudi bisa melakukan itu karena bisa membangun jamarat (tempat lempar jumrah yang sangat megah dengan tiga tingkat. “Kami akan mengirimkan resmi permintaah itu kepada pemerintah Arab Saudi agar ada perbaikan ke depannya,” kata Lukman.

Terkait jamaah yang hilang pascz tragedi Mina, terakhir kemarin 38 orsng, mulai tahu depan gelang jamaah akan dilengkapi chips GPS, sehingga bisa memantau keberadaan jamaah. Sebenarnya, aku menag, tahun ini pembuatan chips sudah direncsnsksn, tetapi karena waktu yang tidak mencukupi, maka belum digunakan oleh jamaah. Hanya gelang manual yang masih dipakai. “Tahun depan ini penggunaan chips GPS untuk jamaah akan direalisasikan,” tuturnya.(247/jp)