Ismail Ibrahim, Mahasiswa yang Dituduh Provokator 4 November, di Mata Keluarga

Dikenal Pendiam dan Ramah, Ortu Baru Tahu Soal Penangkapan dari Awak Media

BELUM usai gaung aksi besar-besaran membela Alquran pada 4 November lalu, Indonesia dikejutkan dengan penangkapan Ismail Ibrahim, seorang mahasiswa, di Jakarta. Mahasiswa asal Tidore itu disebut-sebut sebagai provokator dalam aksi damai tersebut. Orangtua Ismail Ibrahim amat terpukul mendengar kabar anak mereka dit

Keluarga Ismail Ibrahim
Keluarga Ismail Ibrahim

angkap. Sedihnya, keluarga ini baru mengetahui soal penangkapan tersebut dari awak media yang hendak mewawancarai mereka.

Fakhruddin Hi. Abdullah, TIDORE

Tak sulit menemukan kediaman orangtua Ismail Ibrahim. Di lingkungan RT/RW 03/ Kelurahan Bobo, Tidore Utara, sosok Ismail sangat familiar. Mahasiswa Universitas Nasional (Unas) Jakarta itu dikenal pendiam dan suka membantu. Warga yang ditemui Malut Post langsung menunjukkan rumah sederhana milik keluarga tersebut.

Ibrahim Rongayana, ayah kandung Ismail, saat itu (8/11) tengah menjemur cengkih, setengah telanjang. Begitu mengetahui kedatangan wartawan, ia dengan ramah menyambut. ”Iya, bagaimana? Saya bapaknya. Ayo ke rumah,” ajak pria 54 tahun tersebut.

Di ruang tamu, sudah ada ibu kandung Ismail Sara Lacin, paman Ismail Sabtu Lacin, dan adik Ismail Isda Ibrahim. Keluarga ini tampak penasaran dengan kedatangan awak media. Ketika ditanya soal keterlibatan Ismail dalam aksi demonstrasi membela Alquran 4 November lalu, dengan polos mereka menjawab sempat menyaksikan Ismail di layar televisi. ”Torang sempat telepon pa tong pe anak, setelah nonton TV. Tapi dia bilang tara apa-apa. Itu sekolah pe hal (itu urusan sekolah, red),” cerita Ibrahim yang berprofesi sebagai petani.

Sedihnya, hanya sampai di situ pengetahuan keluarga Ismail tentang keterlibatannya dengan aksi 4 November. Mereka sama sekali tak tahu-menahu saat itu Ismail telah ditahan di Polda Metro Jaya. Ia ditahan setelah sebelumnya diciduk di kediaman anggota DPD RI asal Malut Basri Salama di Jalan Attahiriyah 2, Pejaten Barat, Jakarta Selatan.

Dengan berat hati, Malut Post pun terpaksa memberitahukan keluarga ini soal penangkapan Ismail. Mendengar kabar tersebut, Sara langsung menangis histeris. Ibrahim pun hanya terdiam dan menitikkan airmata. Menurut tetangga Ismail, keluarga memang sengaja tak diberitahu lantaran kondisi kesehatan Sara sedang tidak baik. Ia tengah menjalani pengobatan tradisional di rumahnya lantaran tak mampu membayar biaya berobat.

Ibrahim menuturkan, tujuan menyekolahkan anak mereka itu bukan dengan maksud seperti apa yang dilakukan oleh anak mereka. “Torang keluarga harap dia sekolah bukan begitu dia pe cara, torang mau kulia jauh-jauh agar bisa sukses dan berguna bagi bangsa dan negara. Bukan begini,”tandasnya dengan nada terbata-bata.

Menurutnya sebelum penangkapan, pada senin (8/11), Ismail yang merupakan anak kelima dari 8 bersaudara ini, menelpon ibunya melalui ponsel adiknya, menanyakan kesehatan ibunya, dan semua keluarga. Tapi setelah itu ia tak, memberitahukan atas kejadian yang menimpanya. Sejumlah warga Bobo yang mengtahui kejadian tersebut, tak berani memberitahukan karena pertimbangan ibunda ismail yang sedang sakit.

Suasana sedihpun terhapus ketika, saya dan rekan wartawan berusaha menghapus rasa kekhawatiran yang dialami. Ismail dalam keluarganya, hanya dirinya yang bisa menumpuh bangku kuliah. Itupun pria lulusan SMA Negeri 2 Tikep ini, sempat nganggur 1 tahun setelah lulus. Ia terpaksa nganggur karena tak cukup uang untuk lanjut kuliah. Dia fokus bersama keluarganya selain cari uang untuk biaya pengobatan ibunya, juga mencari kerja untuk menabung untuk kuliah.

Dan akhirnya pada 2013 ia memutuskan untuk lanjut kuliah, dengan rencana awal ia hendak kuliah di Manado, tetapi rencana itu berubah dan ia memilih kulia di Jakarta, dan tinggal di Asrama Mahasiswa Tidore. Selang beberapa tahun tinggal di asrama tersebut, ia lalu memanfaatkan hari libur pulang ke kampung halaman pada bulan ramadhan kemarin. Dari situ ia diajak anggota DPD RI Basri Salam untuk tinggal di kedimannya, hingga sekarang ini.

Atas kejadian ini, kedua orang tuanya pasrah dengan berharap agar anak mereka secepatnya bebas untuk bisa melanjutkan kuliahnya. Saat ini, kehidupan keluarga Ismail adalah keluarga berpas-pasan. Mereka harus merelakan salah satu adik Ismail untuk nganggur dulu, setelah lulus tahun kemarin. Menunggu hingga Ismail wisuda, baru bisa salah satu adiknya bisa lanjut kuliah. Uang yang dikirim untuk keperluan kuliah Ismail pun berpas-pasan, dari Rp 100 ribu, hingga Rp 200 ribu, tergantung permintaan Ismail.

Sementara itu terpisah Sekretaris KAHMI Kota Tidore Hambali Muhammad mengutuk, penangkapan aktifis HMI yang dilakukan oleh aparat Polisi Polda Metro Jaya. “Penangkapan itu tidak manusiawi,”tandasnya. (far)