Investor Pasar Modal Tumbuh, Nilai Investasi Dikalahkan Bodong

 

BENGKULU, Bengkulu Ekspress – Bursa Efek Indonesia (BEI) merilis data pertumbuhan investor saham di Provinsi Bengkulu per 31 Oktober 2017 mengalami kenaikan mencapai 2.318 Investor dengan jumlah total investasi yang tercatat mencapai Rp 21,5 miliar. Namun jumlah tersebut masih kalah jauh dibanding dengan para korban investasi bodong yang mencapai ribuan orang dengan total investasi mencapai miliaran dalam waktu kurang dari beberapa bulan.

Peningkatan jumlah investor di pasar modal Bengkulu memang terlihat cukup signifikan. Namun bila dibandingkan dengan para korban investasi bodong, jumlah investor di pasar modal masih belum ada apa-apanya mengingat ada sekitar puluhan ribu orang pernah terjun menjadi investor investasi bodong dengan nilai transaksi mencapai miliaran rupiah. “Jumlah investor pasar modal Bengkulu masih kalah jauh dibanding jumlah korban yang tertipu investasi bodong,” ujar Kepala BEI Provinsi Bengkulu, Bayu Saputra Ramadhan, kemarin (4/12).

Salah satu perusahaan investasi bodong Dream For Freedom (DAF) yang cukup booming pada 2015 lalu masih menyisakan bekas luka kepada para korbannya karena hingga kini dana investasinya belum dikembalikan. Berdasarkan data yang diterima, dana investasi yang berhasil dikumpulkan DAF di Provinsi Bengkulu mencapai Rp 1.8 Miliar. Uang sebanyak itu oleh masyarakat di investasikan di perusahaan yang tidak jelas badan hukum dan izinnya. “Berdasarkan data OJK, kerugian pelaku investasi bodong yang dilaporkan mencapai miliaran rupiah sedangkan yang tidak melapor bisa lebih tinggi dari itu,” terang Bayu.

Tingginya angka pertumbuhan investasi bodong di Bengkulu disebabkan masyarakat belum mengenal secara penuh cara berinvestasi di Pasar Modal. Padahal berinvestasi saham di Pasar Modal cukup murah dan tidak memerlukan modal yang besar. Cukup mengeluarkan uang sebesar Rp 100 ribu masyarakat sudah bisa berinvestasi.

“Pasar modal juga sudah punya izin dari OJK tetapi kenapa masyarakat lebih tertarik ke Investasi bodong di banding pasar modal,” sambung Bayu.

Masyarakat lebih tertarik berinvestasi bodong karena berharap return atau pengembalian investasi yang tinggi dan tanpa risiko. Padahal, berinvestasi di Pasar Modal lebih memberikan imbal hasil investasi yang bagus dan juga memberikan rasa aman karena dana yang diinvestasikan tidak akan hilang atau dibawa kabur. “Hal yang menjadi penyebab masyarakat suka investasi bodong karena masih rendahnya tingkat literasi tentang pentingnya berinverstasi di Pasar Modal,” tegas Bayu.

Rendahnya tingkat literasi dan inklusi masyarakat terhadap industri jasa keuangan menjadi penyebab jumlah investor pasar modal Bengkulu belum cukup banyak dibanding daerah lainnya. Untuk itu BEI selalu memberikan edukasi dan literasi tentang produk keuangan yang bermanfaat dan aman dalam berinvestasi seperti reksa dana dan saham. “BEI dan OJK juga terus mengadakan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat agar menegetahui bahwa berinvestasi di pasar modal pasti terjamin dan aman,” tukas Bayu.

Sementara itu, Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Bengkulu, Yan Syafri mengatakan, OJK telah merilis hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK), menunjukan indeks literasi keuangan di Bengkulu pada tahun 2016 sebesar 27,64 persen dan Indeks inklusi keuangan Provinsi Bengkulu sebesar 67,27%. “Ini berarti dari 100 orang di Bengkulu, baru 30 orang yang memahami produk dari jasa keuangan,” ujar Yan.

Meskipun masih sedikit masyarakat Bengkulu yang memahami produk dari jasa keuangan, tetapi berdasarkan hasil SNLIK terjadi kenaikan dibandingkan pada tahun 2013 yang menunjukan indeks literasi keuangan hanya mencapai 21,84 persen dan indeks inklusi keuangan 59,74 persen. Dengan demikian telah terjadi peningkatan pemahaman keuangan (well literate) sebesar 7,82 persen serta peningkatan akses terhadap produk dan layanan jasa keuangan (inklusi keuangan) sebesar 8,08 persen. “Peningkatan yang terjadi merupakan hasil kerja keras OJK dan Industri Jasa Keuangan (IJK), yang selalu berusaha meningkatkan literasi dan inklusi keuangan di masyarakat,” tukas Yan.

Head Marketing PT Indo Premier Sekuritas, Indra Pratama mengatakan, belum begitu tingginya tingkat literasi dan inklusi keuangan masyarakat tentang produk jasa keuangan sejalan dengan masih rendahnya masyarakat untuk berinvestasi di Pasar modal. Karena hanya 10 persen orang sukses melakukan investasi saham, sementara 90 persennya mengalami kegagalan hal tersebut disebabkan oleh kurangnya pemahaman masyarakat tentang berinvestasi saham di Pasar Modal. “Investasi di saham itu jangka panjang dan trend investasinya juga cukup baik di Indonesia,” ujar Indra.

Trend investasi di Indonesia sebenarnya sangat cerah, sayangnya saat ini masyarakat yang melakukan investasi saham di Indonesia tidak sampai 1 persen. Berbeda dengan Singapura yang jumlahnya investor sahamnya sangat tinggi. Padahal banyak uang beredar dalam pasar modal, sehingga besar peluang masyarakat untuk bisa mengambil keuntungan di Pasar Modal.

“Masyarakat sekarang cenderung takut disebabkan trauma dengan investasi bodong padahal berinvestasi di pasar modal itu legal,” sambung Indra.

Return saham bahkan lebih baik dibandingkan berinvestasi secara ilegal karena berinvestasi secara ilegal hanya membuang energi dan pikiran. Berinvestasi di pasar modal jauh lebih menguntungkan karena selain aman, returnya juga cukup menjanjikan. “Oleh karenanya saya mengajak masyarakat semua untuk menjadi investor pasar modal karena dananya dijamin aman dan juga mendapatkan return yang besar,” tukas Indra. (999)

    Leave a Reply

    Your email address will not be published.*