Ikan Sampah Disulap, Untung Berlipat Didapat

 

Aris Purnama Tengah Mengeringkan Ikan Sampah Untuk Diolah Menjadi Tepung

Terbatasnya pengetahuan nelayan membuat ikan hanya menjadi produk langsung jual. Akhirnya ikan yang tak layak makan pun dibuang dan dipandang layaknya sampah. Adalah Aris Purnama yang melihat peluang tersebut. Ikan sampah yang merupakan limbah itu ia olah menjadi berkah.

TEDI CAHYONO, Bengkulu

SEMULA, ikan-ikan itu tak bisa jual dan akhirnya dibiarkan tergeletak di kotak sampah. Namun, kedatangan Aris Purnama membuat ikan yang lebih tepat disebut limbah itu kini menjadi berharga. Para nelayan pun tak perlu lagi membuang ikan-ikan tersebut. Cukup dikumpulkan untuk kemudian diantar ke gudang Aris yang berada di Pulau Baii, Kota Bengkulu. Ikan tersebut akan ditukar dengan rupiah.

Usaha mengumpulkan ikan sampah ini, Aris mulai sejak tahun 2000. Kala itu, kata dia, belum ada yang terpikir untuk menyulap ikan-ikan tak terpakai tersebut menjadi produk yang bernilai jual. Sementara Aris yang berlatar belakang pendidikan pertanian pernah belajar jika limbah ini bisa dimanfaatkan menjadi produk-produk baru.
“Misalnya jadi pakan ayam, itik, pupuk sawit, pupuk padi dan lainnya,” jelasnya, ketika ditemui BE, kemarin (18/10).

Dengan pengetahuan tersebut, bapak satu anak ini pun memberanikan diri untuk memulai bisnis baru. Mula-mual, iaminta kepada para nelayan untuk tidak membuang ikan sampah tersebut. Ia bersedia untuk membeli ikan-ikan sampah. Mungkin ada yang bertanya, apa yang dimaksud dengan ikan sampah?

Ikan sampah adalah ikan yang tak mungkin dijual. Biasanya ikan sampah terdiri dari kepala ikan, tulang-tulang ikan, atau ikan yang rusak akibat proses pengasinan. Nah, Aris menerangkan, setelah dibeli, ikan sampah tersebut biasanya dibersihkan lagi. Tujuannya agar sisa garam yang tertempel saat ikan diasinkan bisa hilang.
“Unsur garam ini membuat kadar protein menjadi rendah. Karena itu, setelah kita beli, kita bersihkan dulu,” ujarnya.

Setelah itu, ikan tersebut kembali dijemur. Proses pengeringan menghabiskan waktu selama 1-2 hari, tergantung cuaca. Tak lama kemudian, ikan tersebut akan dibawa ke gudang yang lain untuk kemudian digiling. Total ada 3 mesin giling yang dimiliki oleh pria berdarah minang ini. Tiap mesin bisa menggiling 700 kilogram ikan per hari-nya. “Artinya, produksi sehari bisa mencapai 2 ton,” imbuhnya.

Yang perlu diketahui, ikan tak begitu saja langsung digiling. Aris masih perlu menambahkan limbah lain saat proses ini dilakukan. Ikan tersebut membutuhkan dedak atau bekatul agar proses penggilingan menjadi lancar. Pasalnya, ikan yang mengandung banyak minyak akan membuatnya menjadi alot saat digiling.

“Kalau kadar minyaknya tinggi, maka dedak yang dibutuhkan 45%,” ungkapnya.

Setelah digiling dan menjadi bubuk, ikan tersebut langsung dikemas dan siap untuk dijual. Untuk pemasarannya, pria kepala empat ini ternyata telah berdagang hingga ke provinsi seberang. Produk olahannya paling banyak dijual ke Jambi, dilanjutkan Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Riau, dan juga beberapa kota lainnya.
“Permintaannya cukup banyak, terutama di Riau sampai tidak terpenuhi karena kurangnya pasokan bahan,” ucapnya.

Lebih lanjut, ia mengatakan untung yang didapat dari penjualan ikan sampah yang diolah tersebut lumayan besar. Biasanya ikan sampah ia beli dengan harga Rp2.500/kg. Untuk kepala, ia hargai Rp 2.000/kg. Setelah menjadi tepung ikan siap pakai, harga berlipat menjadi Rp 8.500/kg.

“Namanya jualan ada untung ada rugi. Kalau bahan baku banyak kita mendulang untung. Kalau dikit, untung juga menyempit,” kata Aris sambil tersenyum.
Namun, ia melanjutkan, bukan hanya untung yang sebenarnya ia cari. Pria yang merantau ke Bengkulu sejak tahun 1988 ini mengaku, kepuasannya adalah ketika usaha yang ia bangun bisa bermanfaat untuk orang lain. Saat ini saja, dengan usaha rumahannya itu, ia bisa memperkerjakan tetangga sekitar.

“Dulu sempat 7 orang, sekarang tinggal 4,” pungkasnya. (**)