Hujan Lebat, Produksi Kopi Merosot

KEPAHIANG, BE – Intensitas curah hujan yang tinggi di Kepahiang, kini berimbas buruk pada usaha pertanian padi sawah para petani. Beberapa petani kopi ternyata juga mengeluhkan hal yang serupa.
“Lantaran intensitas curah hujan selama ini sangat tinggi, mengakibatkan produksi kopi kami terutama untuk diwilayah Kecamatan Bermani Ilir merosot, bahkan dapat kami prediksi lebih jauh dari tahun-tahun sebelumnya,” ujar salah seorang petani kopi asal Desa Cinta Mandi, Kecamatan Bermani Ilir, Rika (31).
Dikatakannya, pihaknya memprediksi produksi kopi yang bisa diperoleh pada tahun 2015 ini hanya kurang lebih 2 ton saja. Padahal luas lahan kopi miliknya mencapai seluas 5 hektar.
“Jika dilhat dari bakal-bakal buah kopi, maka hasil kopi yang bisa saya peroleh kurang dari 2 ton. Hasil itu sangat jauh merosot dari yang biasa saya peroleh disetiap musimnya yakni 4 sampai 5 ton. Untuk perbandingan luas dan hasil maksimal 4 ton itu, memang bukanlah hasil produksi yang standar, lantaran sebagian besar usia kopi milik saya yang sudah melalui usia produktif,” terangnya.
Ia menambahkan, atas produksi kopi yang merosot tersebut, otomatis berimbas pada tingkat perekonomian masyarakat terutama bagi mereka yang hanya mengandalkan dari dari usaha perkebunan kopi. “Kalau tidak ada usaha lain, musim paceklik akan lebih cepat melanda warga kita. Untuk itu diperlukan solusi untuk mengatasi kendala pendapatan dari usaha kopi kedepannya seperti dengan memanfaatkan tanaman lainnya dengan memanfaatkan tanaman lainnya dengan usia panen yang lebih singkat,” jelasnya.
Sementara itu, toke pengumpul kopi di Pasar Kepahiang H Nata menyampaikan harga jual kopi dipasaran saat ini mengalami kenaikan. Bahkan saat ini mencapai angka jual Rp 21 ribu per kg nya untuk kualitas super.
“Harga kopi saat ini naik dari tahun sebelumnya, untuk kualitas super bisa mencapai harga Rp 21 ribu per kg, sementara untuk kualitas biasa Rp 18 ribu per kg nya,” ujar Nata.(505)