Harga Kopi Anjlok

petani_kopi_bengkulu_tengah
IST/BE PANEN: Erni (37), Petani Kopi Desa Surau, Kecamatan Taba Penanjung saat memanen kopinya. Namun sayangnya harga kopi saat ini anjlok dibandingkan tahun lalu.

BENTENG, BE – Para petani kopi di Kabupaten Bengkulu Tengah (Benteng) mengeluhkan anjloknya harga kopi sejak beberapa waktu lalu. Harga kopi saat ini hanya Rp 18.000-Rp 20.000 perkilogramnya. Harga tersebut jauh lebih murah dibandingkan musim panen tahun lalu yang mencapai Rp 25 ribu perkilogramnya.

“Saat ini harga kopi rendah dan tidak sebanding dengan kebutuhan hidup yang selalu naik. Jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya, tahun ini harga kopi malah mengalami penurunan hingga yang cukup signifikan,” ungkap Erni (37), salah satu petani kopi di Desa Surau Kecamatan Taba Penanjung, Benteng.

Menurut Erni, dengan rendahnya harga kopi tersebut, membuat pihaknya kesulitan untuk membagi pendapatan hasil panen kopinya. Selain akan digunakan untuk memenuh kebutuhan hidup sehari-hari, berbagai perawatan tanaman kopi juga mesti diprioritaskan, seperti pemupukan setiap 6 bulan sekali serta pemberantasan tanaman liar (gulma) yang dapat mengganggu tanaman kopi. Jika hal tersebut tidak dilakukan, ia mengaku hasil panen tahun depan dipastikan tidak maksimal. “Perawatan kopi itu tidak mudah, kami harus merumput untuk memberantas gulma secara manual. Selain itu, jika hendak mendapatkan hasil yang lebih banyak dengan kualitas yang baik, tanaman kopi juga harus dipupuk. Kami harap harganya naik, sebab harga yang ditawarkan saat ini tak sebanding dengan waktu dan tenaga yang telah kami korban,” pungkasnya.

Senada juga disampaikan Sudirman (45), petani kopi Desa Taba Baru, Kecamatan Taba Penanjung. Ia justru mengungkapkan  harga kopi di desanya jauh lebih rendah, yakni hanya  Rp 14-15 ribu perkilogramnya.

Kondisi ini membuatnya, namun tidak mampu berbuat banyak dan hanya bosa berharap ada kenaikan harga dalam waktu dekat ini.

“Proses pemeliharaan tanaman kopi tidak semudah memelihara tanaman sawit, tapi harganya tidak berpihak kepada petani. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari,  kami terpaksa mencari pekerjaan tambahan menjadi buruh harian,” demikian Sudirman.(135)