Harga Anjlok, Petani Enggan Sadap Karet

petani-karetBINTUHAN, Bengkulu Ekspress – Para petani karet yang menetap di Kabupaten Kaur khususnya diwilayah Kecamatan Maje dan Kaur Selatan mengaku enggan untuk menyadap maupun mengurus kebun karet mereka.  Sebab harga komoditas tersebut terus menurun.  Sebab harga karet basah saat ini turun menjadi Rp 3 ribu kg dari sebelumnya Rp 4 ribu sehingga petani semakin kesulitan memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari dan biaya sekolah anak.

“Dari pada nyadap karet mas mending kerja bangunan saja, karena harga karet sekarang ini murah sekali,” ujar Fahrianto (48), petani karet  di Kecamatan Maje, kemarin (25/11).

Dikatakanya, selain itu. Juga hasil karet mengalami penurunan akibat kondisi cuaca yang sedang tidak menentu. Terkadang cuaca panas, namun tiba-tiba terjadi hujan lebat yang menyebabkan hasil sadapan karet yang ada di mangkuk penampungan tumpah ke tanah. Dengan kondisi yang semacam ini, petani akan menjadi semakin sulit dan terpaksa memilih untuk menghentikan aktivitas menyadap untuk mencari pekerjaan lain.

“Semenjak musim hujan ini, getah bercampur air dan mengurangi kualitas karet. Getah juga sulit membeku, karena bercampur air hujan makanya kita malas nyadapnya,” ujarnya.

Demikian juga disampaikan Basir (44), salah seorang petani karet di Kecamatan Kaur Selatan. Ia mengaku sudah beberapa pekan ini cuaca tak menentu. Sehingga dengan kondisi cuaca yang tidak mendukung, petani karet di daerah itu menjadi kebingungan. Sebab setiap harinya dirinya dan petani karet lainnya mengandalkan hasil karet untuk memenuhi kebutuhan keluarga

“Kami kesulitan mengolah getah karet jika, dipaksakan getah akan mencair hancur. Ditambah lagi sekarang ini harga harga jual karet ini terus anjlok hingga Rp 3 ribu per kilogram, kadang kita mending cari kerja lain,” keluhnya. (618)