Gema Desak Kabut Asap Jadi Bencana Nasional

RIO-WALHI  BUKA POSKO BENGKULU MELAWAN ASAPP (1)

BENGKULU, BE – Gerakan Bengkulu Melawan Asap (GEMA) Provinsi Bengkulu mendesak Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo agar menetapkan status darurat nasional bencana asap.  Karena kasus kabut asap yang melanda beberapa provinsi besar di tanah air sudah sangat mengkhawatirkan.  Akibatnya banyak masyarakat yang menjadi korban terutama kalangan pelajar yang tidak dapat melaksanakan aktivitas belajar mengajar.
Aksi Gema dilaksanakan kemarin (1/10) di kantor Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Provinsi Bengkulu dengan menggendeng puluhan organisasi kemahasiswaan Universitas Bengkulu, Unived kelompok pemuda peduli lingkungan tersebut bersepakat untuk menggelar akhir lanjut hingga Minggu (5/10). Guna menggalang kekuatan dukungan untuk melawan kabut asap akibat pembakaran hutan.
“Ini baru deklarasi untuk pendirian posko, sehingga masyarakat dapat mencari informasi dan membuat laporan tentang kabut asap yang terjadi,” tegas Koordinator Aksi, Feri Vandalis kemarin.
Veri menyebutkan jika Posko pengaduan yang berada dikantor Walhi Provinsi Bengkulu tersebut merupakan sebagai penyedia informasi bagi masyarakat yang membutuhkan perkembangan bencana kabut asap diprovinsi tetangga seperi Jambi, Pekanbaru dan Sumatera Selatan. “Juga sebagai posko pengaduan masyarakat yang mengetahui adanya indikasi pembakaran lahan baik oleh perorangan maupun perusahaan besar sehingga perkara dapat diungkap tuntas dan pelaku dapat dijerat hukum,” terang Feri.
Ia mengatakan jika dalam waktu dekat Gema yang terdiri dari BEM Unib, BEM Unived, Walhi, Kelompok Mahasiswa KKN Kebangsaan Universitas Bengkulu tersebut akan bergerak untuk mendatangi Gubernur serta melaksanakan aksi jalanan untuk mendesak Pemerintah menatapkan status darurat nasional bencana asap. “Kita juga akan meminta Kapolda Bengkulu agar meminta kepada Kapolri supaya pelaku pembakaran lahan benar-benar ditindak dengan meringkus dalang untamanya bukan masyarakat kecil yang hanya menjalankan perintah,” tegasnya. (320)