Faperta Unib Awasi Replanting Sawit

REWA/Bengkulu Ekspress Dekan Fakultas Pertanian UNIB, Ir Fahrurrozi MSc PhD saat memberikan cinderamata kepada Direktur Perhimpunan Dana BPDPKS Kemenkeu RI, Dr Herdrajat Natawijaya pada Lokakarya Membangun Sinergi Replanting Sawit Rakyat di Provinsi Bengkulu 2018 di Hotel Santika Bengkulu, kemarin (3/4).
REWA/Bengkulu Ekspress Dekan Fakultas Pertanian UNIB, Ir Fahrurrozi MSc PhD saat memberikan cinderamata kepada Direktur Perhimpunan Dana BPDPKS Kemenkeu RI, Dr Herdrajat Natawijaya pada Lokakarya Membangun Sinergi Replanting Sawit Rakyat di Provinsi Bengkulu 2018 di Hotel Santika Bengkulu, kemarin (3/4).

BENGKULU, Bengkulu Ekspress – Program replanting atau peremajaan kelapa sawit sangat dibutuhkan untuk mendongkrak kesejahteraan rakyat.

Setidaknya ada 7.131 Ha kebun kelapa sawit rakyat di Provinsi Bengkulu yang tersebar di 3 kabupaten yakni Bengkulu Utara, Mukomuko, dan Seluma akan segera direplanting dari total 185.000 Ha sawit rakyat di 25 provinsi di Indonesia.

Dekan Fakultas Pertanian Universitas Bengkulu, Ir Fahrurrozi MSc PhD mengatakan, industri kelapa sawit sebagai suatu industri yang ramah lingkungan dan membantu penyerapan lapangan kerja.

“Industri kelapa sawit selain ramah lingkungan serta mampu menampung tenaga kerja, juga merupakan industri yang potensial karena mampu menjadi penopang ekonomi terbesar,” ujar Fahrurrozi dalam Lokakarya Membangun Sinergi Replanting Sawit Rakyat di Provinsi Bengkulu 2018 di Hotel Santika Bengkulu, kemarin (3/4).

Ia sangat mendukung pengembangan industri kelapa sawit di Bengkulu, diantaranya dengan melakukan program replanting. Program ini dinilai dapat efektif dan mampu membuat industri kelapa sawit semakin berkembang dan meningkat.

“Program pemerintah seperti replanting dan pengembangan industri kelapa sawit seperti hilirisasi sangat baik dan efektif bagi Bengkulu sehingga mampu menambah pendapatan Bengkulu,” jelas Fahrurrozi.

Tak hanya itu, pihaknya juga mempunyai tanggungjawab di bidang pertanian dan perkebunan terkait pelatihan penelitian kepada masyarakat. Pihaknya juga berupaya meningkatkan program-program tersebut untuk menjawab tantangan bidang industri perkelapasawitan.

“Keberadaan Universitas Bengkulu ini memiliki tanggung jawab untuk pengembangan dan meningkatkan kapasitas sumberdaya manusia agar mampu mengembangkan industri kelapa sawit,” terang Fahrurrozi.

Ia pun memberikan penghargaan dan ucapan terimakasih kepada Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) yang sudah mau bekerjasama melaksanakan kegiatan ini yang tujuannya agar semakin banyak yang memahami betapa vitalnya pengembangan industri kelapa sawit di Indonesia, khususnya di Bengkulu.

“Kami mengapresiasi BPDPKS karena telah mendukung kegiatan ini yang tujuannya agar industri kelapa sawit semakin berkembang dengan berbagai langkah yang bisa dilakukan diantaranya replanting,” tutup Fahrurrozi.
Sementara itu, Direktur Perhimpunan Dana BPDPKS Kementerian Keuangan Republik Indonesia, Dr Herdrajat Natawijaya mengatakan, replanting atau program peremajaan sawit akan dilakukan di 25 provinsi, terbesar ada di 20 provinsi. Di Bengkulu ada 3 Kabupaten yang akan di replanting yaitu Bengkulu Utara, Mukomuko, dan Seluma dengan total luas lahan mencapai 7.131 Ha.

“Kami akan memberikan prioritas peremajaan bagi pemerintah provinsi dan petani yang siap,” ujar Herdrajat.
Sesuai peraturan, lanjutnya, BPDPKS sebagai pengelola dana sawit memiliki kewajiban untuk membantu pendanaan program replanting. BPDPKS mengalokasikan dana sebesar Rp 25 juta per hektare bagi petani peserta replanting.

“Alokasi dana replanting diperkirakan Rp 4,6 triliun pada tahun ini,” sambung Herdrajat.

Untuk itu, ia meminta khususnya kepada Universitas Bengkulu agar terus mengawasi program ini. Sebab, tugas ini tidak hanya diserahkan ke dinas terkait saja, namun sudah menjadi tanggung jawab semua pihak.

“Tentu tidak bisa dilakukan sendiri, sehingga perlu dilakukan koordinasi dan pengawasan bersama agar program ini bisa berjalan dengan baik,” tukas Herdrajat.

Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Holtikultura Provinsi Bengkulu, Ir Ricky Gunarwan melalui Kabid Perkebunan, Ir Rasmawan MSi mengatakan, pihaknya menyambut baik rencana untuk meningkatkan replanting tanaman sawit di Bengkulu. Seperti diketahui, luas wilayah Bengkulu 1.9 juta Ha dengan luas perkebunan rakyat 435.723 Ha, Perkebunan Besar Swasta (PBS) 101.311 Ha dan PBN 12 ribu Ha. Sedangkan luas perkebunan sawit Rakyat dan PBS mencapai 289 Ribu Ha.

“Prospek replanting di Bengkulu sangat baik, mengingat luasan perkebunan sawit di Bengkulu cukup besar,” ujar Rasmawan.

Di Bengkulu, lanjutnya, untuk sawit rakyat masih tinggi yang menggunakan benih non sertifikat mencapai 30 persen, persyaratan replanting salah satunya adalah tanaman rakyat yang terindikasi bibit non sertifikat. Program replanting kelapa sawit nantinya akan menggunakan benih bersertifikat sehingga hasil produksi meningkat.

“Kedepannya kita harap melalui program replanting ini akan mampu meningkatkan produktivitas kelapa sawit di Bengkulu,” singkat Rasmawan.

Perwakilan Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Bengkulu, Ir Nurzam MM mengatakan, Gapki siap mensukseskan program replanting kelapa sawit di Bengkulu. Pihaknya juga siap meningkatkan produktivitas sawit rakyat dengan bibit unggul bersertifikat dari PPKS dan Sucfindo agar produksi meningkat.

“Gapki telah melakukan kegiatan ini di 3 kabupaten, yakni Bengkulu Utara, Seluma dan Bengkulu Tengah. Sebanyak 3000 bibit bersertifikat telah disiapkan oleh Gapki untuk mendukung replanting ini dan memajukan industri kelapa sawit di Bengkulu,” tutup Nurzam.(999/krn)