Enam Titik Jalinbar Terancam Putus, Pengendara Diimbau Waspada

APRI/Bengkulu Ekspress Beginilah kondisi jalinbar di wilayah Kecamatan Ketahun, Bengkulu Utara yang terancam putus, kemarin (10/12).
APRI/Bengkulu Ekspress Beginilah kondisi jalinbar di wilayah Kecamatan Ketahun, Bengkulu Utara yang terancam putus, kemarin (10/12).

 

ARGA MAKMUR, Bengkulu Ekspress – Setidaknya ada 6 titik jalan lintas Sumatera (Jalinbar) di Kabupaten Bengkulu Utara (BU) yang perlu diwaspadai para pengendara. Sebab, jalinbar itu terancam putus akibat abrasi dan longsor.

Keenamnya adalah jalinbar di Kecamatan Air Napal, Lais, Air Padang, Ketahun hingga Putri Hijau. Bahkan, jika hujan deras disertai angin kencang, pengendara diminta menepi mencari tepat aman guna keselamatan.

‘’Memang sepanjang jalinbar di garis pantai wilayah Bengkulu Utara, ada beberapa titik yang rawan abrasi. Bahkan beberapa diantaranya sudah mengenai badan jalan,’’ ujar Kepala Pelaksana Harian (KPH) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (PBD) BU, Ir Made Astawa MM.

Tak hanya itu, di wilayah PTPN VII Ketahun dan PT Pamorganda serta PT Puding Mas juga rawan longsor. Bahkan, pada bulan Februari 2017 lalu, longsor yang terjadi di PTPN VII Ketahun membuat jalan lintas tertutup material longsor setinggi 5 meter. Akibatnya, pengendara terpaksa memutar arah melewati jalan di Desa Selolong.

‘’Selain abrasi pantai, tanah longsor juga perlu diwasadai di sepanjang jalinbar karena minimnya pengamanan tebing d isepanjang jalan. Untuk itu, para pengendara juga diimbau untuk waspada,’’ ungkapnya.

Ia menyampaikan, persoalan abrasi dan longsor bukan tidak ditanggapi BPBD. Hanya saja, keterbatasan anggaran membuat perbaikan dapat dilakukan serentak. Namun, ia terus memperjuangkan dengan melaporkan ke BNPB dan instansi terkait.

‘’Sudah kita laporkan ke provinsi dan BNPB. Sedangkan perbaikannya bisa saja dikerjakan langsung melalui BNPB atau melalui kementerian terkait,’’ terangnya.

Disinggung mengenai faktor penyebab terjadinya abrasi, ia menyebutkan selain disebabkan oleh masyarakat yang melakukan penambangan pasir dan tanah di sepanjang pantai secara ilegal, juga dikarenakan pemanasan global hingga membuat permukaan air laut semakin tinggi.

‘’Kalau memang disebabkan oleh alam, kita tidak dapat menghindarinya. Tapi yang disayangkan perbuatan manusia dengan sengaja membuat rusak sehingga dapat menimbulkan bencana,’’ pungkasnya.(816)