Selasa, 5/02/2013 - 08:30 WIB
Tokoh | beonline - Bengkulu Ekspress

Dr. R.A Yeni Warningsih

Pengabdian Dokter  Teladan

CIMG0273 Dr Yeni Wardaningsih, sosok dokter  penuh inisiatif  yang  mempunyai ketekunan dan pemikiran-pemikiran yang inovatif sebagai terobosan perbaikan kesehatan dimasyarakat,  wajar saja kalau pemerintah dalam dua tahun terakhir menganugerahkan penghargaan sebagai dokter tedalan,  pada tahun 2011 sebagai dokter teladan tingkat Kota dan tahun  2012   mewakili Provinsi Bengkulu  ke tingkat nasional.

Perempuan asli kelahiran Bengkulu, 12 Februari 1976 tahun silam, ia  merupakan   putri ke-2 dari enam bersaudara  buah hati dari pasangan HR Yanuarsah BE S.Sos mantan wakil kepala Dinas PU provinsi dan Puteri Daraini, saat ini dipercaya menjadi kepala Puskesmas Ratu Agung,  Kecamatan Muarabangkahulu, yang sebelumnya pernah menjabat sebagai kepala Puskesmas Beringin, Unib depan.

Diceritakan Yeni,   menjadi  dokter bukanlah keinginanya, melainkan murni dorongan  dari ibunya Puteri Daraini, yang menginginkan   putri satu-satunya dari enam bersaudara itu menjadi dokter  yang bisa merawat    orang tua dan dicintai masyarakat. Selain itu  profesi dokter merupakan profesi yang mulia karena berusaha menyelamatkan nyawa dan menyembuhkan manusia.

Kemuliaannya sulit diukur dengan sesuatu yang berbau materiil.  Yeni sendiri awalnya bercita-cita menjadi   ahli bahasa Inggris, dan  bekerja di  salah satu kedutaan Asing.

CIMG0274Meski beserbangan pendapat, Yeni menghargai  keinginan orang tuanya untuk menjadi dokter, usia  lulus SMA  di   Margahayu Bandung, ia meneruskan  kuliahnya di Universitas Yarsi Jakarta mengambil jurusan kedokteran, meski tak begitu mecintai   jurusanya ia mencoba untuk menekuninya, usai  wisuda ia kemudian  meminta haknya untuk bisa kuliah  mengambil diploma  bahasa Inggris,  “Sistem demokrasi selalu di terapkan dalam keluarga, meski saya tidak suka kedokteran saya harus mengikuti dan mengejar cita-cita saya dengan  kuliah diploma III bahasa Inggris, ” katanya.

Dalam perjalanan waktu, cita-cita   saya ingin menjadi ahli bahasa pudar, dorongan menjadi dokter justru kian kuat dan  akhirnya  saya memutuskan mengambil kedokteran,  dengan melanjutkan  pendidikan Koas, selama lima semester  pendidikan Koasnya selesai.  Dalam perjalanan kuliah kedokteran itu, ia sangat dekat dengan  Mahasiswa yang juga satu almamater hanya beda jurusan  yakni Isnaini ia adalah mahasiswa dari fakultas Tehnik.

Usai kuliah, ia  langsung mengajukan  lamaran kerja dengan menjadi honor di salah satu puskesmas di Jakarta,  saat itu digaji Rp 500 ribu/bulan,  yeni ditugaskan menjaga  di unit Gawat Darurat (UGD)  karena jarangnya  dokter puskesmas hadir,  ia terpaksa merangkap sebagai  staf sekaligus dokter di  puskesmas itu.

Yeni sangat mecintai pekerjaan dan tugas yang diembankanya,   puskesmas diibaratkan sebagai  rumah pertama  dari rumah tinggalnya. ” Saya hampir setiap malam saat itu harus  nginap di puskesmas, ” cetusnya.

Kedekatan Isnaini dengan dirinya akhirnya mempunyai  hubungan  khusus dan berakhir dalam pernikahan, yang saat ini  memiliki tiga putri yakni  Afifah Naziha, Hanya Sakura, dan Aisya Amalia.   Suaminya  sangat pamah  atas kesibukan yang diemban  istrinya bahkan ia jarang bertemu dan  tinggal  bersama.  “Suami harus paham dan mengertiapa yang menjadi pekerjaan istrinya, ” jelasnya,  karena jarang bertemu akhirnya,  Yeni bertolak  dari Jakarta ke Bengkulu untuk mengabdi ditanah kelahiranya.

Setibanya di Bengkulu, ia tak langsung diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS), ia masih berstatus honor  dokter di puskesmas,  bermodalkan kepekaan dalam memberikan  layanan kesehatan kepada masyarakat saat di Jakarta,  banyak memberikan pelajaran  berharga sehingga ia enggan menjadi dokter Pegawai Tidak Tetap (PTT).

Dan saat tes CPNS di buka, yeni ikut serta  memperpanjang barisan, saat itu ada kuota  dan diikuti ratusan peserta,  keberuntungan  ada di tanganya  dari ratusan pelamar hanya lima dokter yang  dinyatakan lulus, ” Saya tes itu hanya coba-coba saja, eh malah lulus, ” kenangnya.

Pertama ditugaskan  selama menyandang PNS, ia diletakkan di staf dokter  pada puskesmas Sukamerindu, selama dua tahun menjadi staff  dokter puskesmas ini, ia kemudian dipindahtugaskan  pada posisi yang sama sebagai staff hanya saja  saat itu di Puskesmas Beringin Raya, Unib depan.

Selang beberapa tahun,di puskesmas perawatan itu  ia diberikan kepercayaan menjadi pelaksanan tugas (PLt) kepala puskesmas pada tahun 2010 selama dua tahun akhirnya ia didefenitifkan menjadi kepala puskesmas Beringin Raya.

Dokter Yeni merupakan pegawai yang selalu memegang Amanah, meski telah berubah statunya dari staf menjadi kepala puskesmas justru  tidak ada perubahan dalam memberikan pelayanan,    ibu tiga putri ini tetap mengendepankan pelayanan pasien dan  menghabiskan waktunya  dalam pekerjaan tanpa mengesampingkan kodratnya sebagai  istri dan ibu anak-anak.

CIMG0276Menurutnya  profesi dokter adalah pengabdian, dan pengabdian adalah panggilan. Pilihan hidupnya ini bisa ia lakoni tidak lepas dari dukungan suami dan anak-anaknya.

Nalurinya sebagai  dokter sangat terpanggil,   ia sangat terpanggil dalam penuntasan gizi buruk dikawasan Beringin Raya,   meski tidak didukung dengan anggaran, ia  bersama tim gizi puskesmas mencari jalan dan donatur untuk mengentaskan gizi buru,  penemuan gizi buruk sempat  membuat  gempar di media massa baik lokal maupun nasional, hingga akhirnya  gizi buruk ini  menjadi prioritas dan dikucurkan anggaran.  ” Kita harus selalu mencoba dan tidak mudah putus asa,  karena akan selalu ada jalan untuk mencari  solusi, ”  katanya.

Meski  tak menjadi  hingga saat ini  apa yang telah dirintis di tempat kerja lamanya seperti tugas jaga IGD  rawat Inap,sampai saat ini  masih  dilakukanya  setiap minggu ia berkeliling dari puskesmas  Sukamerindu  ke  IGD Puskesmas Beringin raya,  dan berakhir di Puskesmas Ratu Agung dimana saat ini ia ditugaskan,  ” Saya sangat sayang, kalau pekerjaan yang telah saya rintis kemudian terhenti begitu saja,” katanya.

Dengan  rencana Allah  jualah yang menjadikan ia bisa dikenal sebagai dokter  umum di  beringin,  selama  menjadi dokter banyak  pengalaman dramatis yang sulit untuk dilupakannya dalam mengobati pasien, dan tekadnya itu serta bekerja keras di puskesmas mendidik masyarakat  terhindar dari gizi buruk, ” Jelas tidak gampang dibutuhkan tim dalam menagani kasus gizi buruk,” katanya.

Ibu tiga putri ini  akhirnya mendapat predikat dokter teladan di kota Bengkulu  tahun 2011 dan pada tahun 2012 mewakili provinsi Bengkulu ke tingkat nasional.

Sebagai dokter umum, ia harus mampu memberikan kepuasan terhadap layanan yang diberikan, dengan cinta  dan senyuman  menjadikan pasien  nyaman dan cepat sembuh. Iapun harus terus belajar    karena yang dihadapi bukan hanya mengobati  mereka yang sakit batuk, pilek, dan demam,

 

Hidup Berpisah
Pengabdian dan tugasnya di   Bengkulu menyebabkan keluarganya harus terbagi dalam dua dapur, ia tinggal bersama orang tuanya di Bengkulu, sedangkan suaminya tinggal bersama orang tuanya di Jakarta begitu dengan pengasuhan anak-anaknya,  ia sendiri mengasuh dua anak  perempuanya sedangkan sang suami yang masih bertugas di Jakarta  yang bergabung dalam  perusahaan Asing  itu ditemani   anak   pertamanya. ” Kesibukan  jarang menyatukan kami,  namun kami disatukan dalam komunikasi, ” katanya.

Sebenarnya suaminya ingin bersama dengan dirinya, sayangnya di Bengkulu tidak ada anak cabang perusahaan  yang saat ini menjadi  tempat penghasilan   suaminya itu.

Pun begitu kepercayaan   suami istri ini patut diacungi jempol,  dalam kesebukan itu hanya ada satu bulan sekali bisa berkumpul  bersama keluarga. Sebagai obat rindu untuk berkumpul Yeni  dituntut untuk ingat akan  momen-momen besar keluarga dan  famili seperti ulang tahun, acara keluarga harus   hadir.” Momen inilah yang bisa menyatukan keluarga dan famili, ” bebernya.

Dalam keluarganya kepecayaan adalah utama, bahkan suaminya   sebagai suport dan memahami kinerjanya, dan tidak pernah protes dengan kesibukanya membantu  pasien. ” Dalam karier,  pasangan harus memahami dan mengerti dengan pekerjaan, ” terangnya.

Iapun mengajarkan  pemahaman dan menghargai  pasien terhadap anak-ananya, sesibuk apapun jika ada pasien maka  pasien  dijadikan prioritas, bahkan sang anak sering dilibatkan dalam melakukan perawatan, hasilnya anak justru lebih penasaran dengan apa yang dilihatnya.

Saat ditanya tentang anak-anak, dr yeni tambah bersemangat menjelaskan. ” saat anak masih kecil, ia sering melibatkan  dalam pekerjaanya, justru anak sangat penasaran dengan apa yang dilihatnya, ” katanya.

Yeni mengajak para perempuan  yang memiliki karier   untuk  pintar dalam membagi waktu, baik di rumah, karier dan  anak, diakui hal ini cukup berat dan cenderung tersita dalam  pekerjaan, namun jika ini dikerjakan dengan hati yang senang  maka pekerjaan itu akan semakin ringan, dan hasilnya akan luar biasa.

Dalam pekerjaan libatkan suami  untuk selalu paham dan mengerti apa yang menjadi tugas dalam pekerjaanya, sehingga dengan pemahaman  dan  pengertian yang ditanamkan maka akan tumbuh kekuatan dalam keluarga, dan meski banyak rintangan dan tumbuhnya isu  bisa teratasi. (edang)

adit

© 2005 - 2013 bengkuluekspress.com, All Rights Reserved