Ditengah Harga Karet Anjlok, Berburu Untung Jual Batu Akik

Lapak Batuk Akik dipenuhi pengunjung
FENOMENA   batu akik saat ini memang sedang trend dan naik daun,  dimana ada lapak batu akik, pasti akan diburu oleh pembeli dari semua kalangan. Mulai dari masyarakat biasa hingga pejabat sekalipun berebut berburu batu akik.  Di Terminal Arga Makmur, batu akik asal Napal Putih  dijual kiloan  oleh seorang pengumpul batu, Dedi Suprapto, telah menjual sejak 7 bulan lalu.
Ia memasarkan batu akik, tidak hanya di Bengkulu, tapi juga keluar daerah seperti Medan, Riau dan Bali.
“Kalau keluar provinsi kita pasarkan secara online, kalau di Bengkulu Utara ini kita pasarkan dengan membuka lapak seperti ini,” ungkapnya.
Ditambahkannya, ia mendapatkan batu akik ini langsung dari pencari batu akik di Desa Air Tenang Kecamatan Napal Putih. Di desa itulah banyak masyarakat yang bekerja menjadi pencari batu akik.  “Di Napal Putih itu banyak sekali jenis batu akik yang ada, mungkin ada 100 jenis, hampir semua batu yang ada di Indonesia juga ada di Napal Putih,” ujarnya.
Batu akik yang dijualnya ada bermacam-macam yakni batu akik jenis Cempaka atau yang dikenal dengan Red Raflesia, batu akik kecubung, batu akik kecubung ulu api, Teratai, Lavender, Giok Lumut, Giok Sabun, Giok Ijo Lumut, Sangkis dan lainnya. Dari semua jenis itu, jenis Cempaka atau Red Raflesia lah yang paling mahal dan banyak digemari oleh penggemar batu akik.  “Untuk cempaka kita jual Rp 300 ribu/ Kg, sedangkan batu akik lainnya kita jual mulai dari Rp 100 ribu/ Kg,” imbuhnya.
Namun untuk di luar Bengkulu, untuk per kilogram   dijual dengan harga Rp 700 ribu. Sebab, ongkos kirim keluar daerah juga mahal.
Eko, salah seorang PNS Ketahanan Pangan Bengkulu Utara mengatakan setiap ada penjual batu akik dirinya pasti akan selalu berburu batu akik. Sebab, ia memang suka sekali mengoleksi batu akik, hampir semua jenis batu akik yang ada dikoleksinya. “Saya beli batu jenis Lavender, karena saya belum punya batu jenis ini, jadi untuk menambah koleksi saja,” ungkapnya.
Tidak ada bosannya dalam mengoleksi batu akik, dari batu akik yang ia beli itu, pihaknya akan langsung mengasah batu tersebut menjadi liontin dan batu cincin.
Boomingnya batu akik, juga  juga dimanfaatkan oleh  masyarakat  Napal Putih,  untuk memenuhi kebutuhannya terlebih sejak harga karet turun drastis dari Rp 12 ribu anjlok ke harga Rp 4,5  ribu perkilo gramnya.  “Allah itu memang maha pengasih, karet murah, ada-ada saja jalan lain yang diberikan yaitu batu akik,” kata Camat Napal Putih M Sabi, SPd.
Ditambahkannya, desa di Kecamatan Napal Putih yang menjadi pemasok Batu akik yakni Desa Air Tenang, Desa Bandung Karya. Pencari batu akik ini tidak merusak alam, karena mereka mencari batu akik tersebut dengan cara menggali dialiran sungai. Saat batu akik tidak ditemukan, maka para pencari batu akik tersebut akan menimbun kembali lobang yang telah digalinya. Selain itu, lokasi pencarian batu akik ini juga tidak berada di kawasan hutan lindung.  ” Mencari batu akik itu lumayan susah, sampai 40 Kilo meter kedalam hutan,” imbuhnya.
Namun, dengan  mencari batu akik tersebut warga bisa menyambung hidupnya setelah harga hasil perkebunan. Terutama karet  mengalami perosotan yang signifikan. Masyarakat marak mencari batu akik ini sejak 3 bulan terakhir. “Mereka ini mencari di sungai-sungai kecil, kalau ada serpihan digali sampai satu meter, terkadang sudah 2  meter digali tapi tidak ditemukan, akhirnya di timbun kembali,” tuturnya.
Dengan mencari batu akik inilah, perekonomian Napal Putih kembali bangkit. Sebab, batu asal Napal Putih ini tidak hanya dipasarkan di Provinsi Bengkulu tapi juga luar Provinsi, bahkan hingga ke Bali. Diperkirakan batu akik asal Napal Putih ini telah mencapai 150 ton.  ” Memang saat ini satu-satunya potensi Napal Putih adalah batu akik,” pungkasnya. (927)