Dishutbun Kepahiang Launching Kimbun

kopi_bengkuluKEPAHIANG, Bengkulu Ekspress – Dinas Kehutanan dan Perkebunan (Dishutbun) Kabupaten Kepahiang menggelar launching kawasan industri masyarakat perkebunan kopi (Kimbun-Kopi), pada Selasa (1/11) di Aula Umro. Launching Kimbun sekaligus penutupan dan pelatihan serta penyerahan bantuan.

Kadis Hutbun Kepahiang, Ir Ris Irianto MSi menyampaikan, launching Kimbun-Kopi bertujuan mendorong terwujudnya Kimbun-Kopi jangka pendek. Dengan menggabungkan kelompok tani menjadi kelompok tani Kimbun. Serta mengintegrasikan stakeholder terkait untuk mendukung Kimbun Kopi dengan cara membuat Road Map agar dapat dipedomani bersama.

“Serta melaksanakan pelatihan pengolahan, penyambungan kopi serta pengendalian hama pada tanaman kopi,” ungkap Ris.

Dalam kesempatan itu juga dilakukan penyerahan bantuan secara simbolis berupa 1 unit rumah dan mesin serta 8 ekor sapi dari Dinas Perkebunan Provinsi Bengkulu. Kemudian bantuan mesin-mesin pengolahan Kopi dari Dinas UKM Perindagkop Kepahiang.

Dinas Hutbun Kepahiang menyerahkan Agensia Hayati Beauveria Bossiana untuk demplot pengendalian hama buah kopi dari BPTP Bengkulu. Bantuan penyambungan kopi dari Hutbun Kepahiang dan bantuan pupuk organik untuk demplot dari PT. Petro Kimia Kayaku Bengkulu.

“Tujuannya adalah mewujudkan pengolahan perkebunan rakyat secara terintegrasi mulai dari pertanaman (Hulu), budidaya, panen sampai pemasaran hasil,” lanjut Ris.

Sementara Bupati Kepahiang, Hidayatullah Sjahid menambahkan, jika peningkatan hasil perkebunan melalui program ekstensifikasi di Kabupatan Kepahiang terkendala minimnya ketersediaan lahan. Mengingat Kepahiang dikelilingi bukit barisan.

“Perlu kita ketahui bahwa Kabupaten Kepahiang mempunyai luas 66.50 ha, luas kawasan hutan mencapai 18.109,31 ha atau hampir sepertiga luas kabupaten, sedangkan selebihnya merupakan lahan budidaya seluas 48.177 ha. Dari luasan lahan budidaya tersebut, 35,493 ha merupakan lahan perkebunan yang didominasi lahan perkebunan kopi mencapai 24.659 ha. Lahan kopi robusta 24.100 ha dan kopi arabika 559 ha, jadi sulit jika mendandalkan ekstensipikasi,” terang Dayat.

Menurut Dayat, sejauh ini tanaman kopi di Kabupaten Kepahiang dinilai berhasil meningkatkan produksi dan produktivitas. Hanya saja, belum dapat meningkatkan pendapatan petani yang salah satunya disebabkan karena belum adanya kebersamaan usaha yang saling membutuhkan, saling memperkuat dan saling menguntungkan.

“Untuk itu perlu adanya reorientasi pembangunan perkebunan secara menyeluruh baik pada tingkat hulu, budidaya pengolahan maupun pemasaranya,” ujar Dayat. (320)