Disangka Anak, Rupanya Bantal

BENGKULU, BE – Informasi terbaru berhasil dihimpun Bengkulu Ekspress di lapangan, ternyata sebelum keluar kamar dan menembak, Aiptu BS sempat memeriksa keberadaan anaknya di dalam kamar.

Hal itu diungkapkan salah seorang tetangga korban, R, yang sempat ditemui BE di dekat rumah korban di Jalan Sumatera 5 Kelurahan Suka Merindu, Kota Bengkulu, kemarin (27/4).

R mangaku, pada saat peristiwa penembakan terjadi, ia memang sama sekali tidak mendengar adanya suara letusan pistol. Dia baru mengetahui bahwa BA tertembak oleh pistol ayahnya sendiri, Aiptu BS saat anak pertama Aiptu BS, Li menggedor pintu rumahnya.

Pada saat itu, Li hanya memberi tahu bahwa ada orang yang masuk kerumahnya.

“Saya tahu itu mereka sudah pergi ke rumah sakit. Dan diberi tahun bahwa BA itu meninggal jam 6 pagi” beber R.

R menceritakan, dari informasi yang dia dapat, sebelum Aiptu BS menembak anaknya itu, dia sempat memeriksa keberadaan anaknya di dalam kamar. Dalam keadaan baru bangun tidur itu, dia meraba-raba tempat tidurnya untuk memeriksa anaknya. Pada saat itu dia merasakan bahwa kedua anaknya yaitu BA dan Li masih tidur disebelahnya.

Sebab itu, Aiptu BA yakin bahwa suara pintu terbuka itu bersumber dari orang yang ingin masuk ke rumahnya. Untuk itu dia langsung mengambil pistol dan menembak ke arah suara pintu terbuka itu.
Namun sayangnya yang dia raba tadi ternyata bantal guling yang di peluk oleh anak pertamanya Li.

“Dia (Aiptu BS) sempat memeriksa, tapi ternyata yang dipegangnya itu bantal guling bukan anak bungsunya,” tandas R.

Tetangga Dilarang Bersihkan Rumah

Sementara itu, dari pantaua BE kemarin (27/4), rumah kediaman Aiptu BS yang berada di Jalan Sumatera 5, Suka Merindu tampak sepi dari aktifitas.
Hanya terlihat beberapa keluarga dan tetangga Aiptu BS yang sedang membersihkan halaman rumah.

Tetangga Aiptu BS, R menerangkan, setelah BA dimakamkan pada kemarin malam di Karang Tinggi, Kabupaten Bengkulu Tengah (Benteng), keluarga Aiptu BS fokus melakukan takziah di kediaman mertuanya di Karang Tinggi, Benteng.

Sementara, di rumah kediaman Aiptu BS di Jalan Sumatera 5, Suka Merindu juga dilakukan, namun hanya diikuti oleh warga RT 4 di lingkungan kediaman Aiptu BS saja.

“Malam tadi (kemarin malam, red) tetap dilakukan tablig musibah. Ini merulakan inisiatif dari warga sini. Ketua RT yang meminta supaya rumahnya tetap dibuka,” ungkap R kepada BE, kemarin (26/4).

Selain itu, R menyebutkan, bahwa setelah tragedi penembakan itu dilakukan, dirinya bersama tetangga yang lain diminta oleh salah satu anggota Polres Bengkulu untuk tidak membersihkan bagian dalam rumah. Akan tetapi, pantauan BE di lapangan tidak terlihat adanya police line terpasang di TKP penembakan itu.

“Kami tidak boleh membersihkan rumah yang di dalam. Katanya biarlah seperti itu saja tidak usah dipindahkan barang-barangnya,” tukasnya.

Tidak bolehnya dipindahkan barang-barang di dalam rumah itu, kata Riska, karena pihak kepolisian masih akan melakukan pemeriksaan di TKP penembakan itu. (311)