Dikenal Rawan, Tiap Hari Ada Perampokan (1)

binduriangMelihat Lebih Dekat Kawasan  Lembak, Rejang Lebong (1)

Lintas Kota Curup (Provinsi Bengkulu) – Lubuklinggau (Provinsi Sumsel) selama ini dikenal rawan tindak kejahatan. Tidak hanya merampok, tetapi juga tak segan-segan membunuh korbannya. Tapi kondisi sekarang jauh berbeda. Berikut laporan wartawan BE:

Mansyur, Binduriang

Lembak, inilah kawasan terkenal dengan kriminalitas tinggi. Kondisi keamanan jalan lintas Kota Curup (Provinsi Bengkulu) – Lubuklinggau (Provinsi Sumsel) selama ini dikenal rawan tindak kejahatan seperti perampokan sehingga membuat takut para pengguna jalan.

Saat lewat malam hari suasana jalanan mencekam dan terlihat banyak kendaraan pribadi, angkutan barang maupun travel berhenti di rumah makan, kantor polsek dan koramil. Sepinya arus lalulintas di jalan lintas Curup-Kota Lubuklinggau karena kendaraan melintas pada malam hari takut menjadi sasaran perampokan terutama di wilayah Kecamatan Sindang Kelingi dan Binduriang yang belakangan sering terjadi, dengan modus menebar paku ranjau di jalanan serta penghadangan.

Pada ruas Lubuklinggau-Curup sepanjang 56 km, terdapat sejumlah titik rawan, menurut sejumlah warga, sudah tak terhitung pengguna jalan menjadi korban. Wilayah ini dikenal dengan kawasan perampok dan begal yang tak segan-segan beraksi siang maupun malam. Kejam, penjahat disini tidak hanya merampok tapi membunuh.

Masih ingat dibenak masyarakat tahun 2012 lalu, mobil truk Diesel Colt 120 PS nopol BG 8249 LG yang dikemudikan Edi Supriyanto (35), warga Desa Sumber Agung, Kota Lubuk Linggau, Sumatera Selatan bermuatan 9 ton biji kopi kering, dijarah warga. Kopi yang dibawa dari Curup dengan tujuan Lampung itu ludes dijarah.

Aksi penjarahan tersebut terjadi tatkala truk kuning itu terguling di kawasan Desa Simpang Beliti, Kecamatan Binduriang, Rejang Lebong (RL) berjarak 80 meter dari Jembatan Dua Simpang Beliti. Aksi penjarahan itu berlangsung Sabtu malam (16/6/2013) pukul 23.00 WIB. Ditaksir, korban mengalami kerugian hingga Rp 1,5 miliar lebih.

Data terhimpun, sebelum truk yang dikendarai Edi ini terguling, bagian kaca sempat dilempar hingga pecah oleh oknum tak dikenal yang kesal lantaran Edi enggan menghentikan laju truk saat dicegat. Diduga pelaku yang melempar kaca truk ini adalah komplotan penodong yang kerap beraksi di jalur lintas ini.

Mendapati kaca dilempar, Edi memacu truknya dengan kecepatan tinggi bermaksud menghindar pelaku. Namun saat tiba di tikungan patah ke kiri, berjarak sekitar 100 meter dari aksi pelemparan, kembali truknya dihadang sekitar 5 orang pria yang menutup badan jalan. Tak ingin menabrak, Edi membanting setir ke kanan hingga truk terguling di siring pembatas sebelah kanan jalan dengan posisi roda menghadap ke atas. Naasnya saat truk terguling, posisi kaki dan badan Edi dan kernetnya, Din (30) terjepit kepala mobil yang penyok ke dalam.

Tak lama berselang muncul puluhan warga yang membantu kedua korban keluar dari truk. Setelah Edi dan kernetnya berhasil dikeluarkan, warga membawanya ke RSUD M Sobirin Lubuk Linggau lantaran mengalami luka cukup serius. Kondisi itulah yang mungkin dimanfaatkan penjarah untuk mengambil kopi dalam truk.

Kejadian tragis juga pernah dialami seorang kepala sekolah, Selasa (4/2/2014) siang sekitar pukul 12.30 WIB. Guru juga Kepala SDN 6 Padang Ulak Tanding (PUT), Kabupaten Rejang Lebong, Suparyono (55) dirampok, oleh dua perampok merampas motor Honda Revo milik kepsek tersebut.

Tak hanya itu, kawanan bandit kali ini tak segan-segan melukai korban. Suparyono mengalami cedera patah tulang di beberapa bagian tubuhnya akibat dipukul pelaku menggunakan benda tumpul. Korban menjalani perawatan medis di RSUD Sabirin Lubuk Linggau, Sumsel.

Tidak saja sepeda motor, mobil pun tak luput jadi korban. Modus operandinya, lubang-lubang yang banyak bertebaran di ruas jalan ini dipasangi ranjau paku oleh penyamun. Untuk mengelabui pengemudi calon korbannya, pelaku mengisi setiap lubang yang sudah dipasangi paku dengan air. “Jika melintas di ruas jalan ini hindari benar roda kendaraan melindas lubang yang berair. Apalagi jika tidak hujan, tapi lubang di jalan sini masih dipenuhi air, sudah pasti di dalamnya dipasangi ranjau paku,” cerita sopir mobil travel jurusan Bengkulu-Lubuklinggau.

Pernah, pada Selasa (24/6/2014) terjadi tiga kasus perampokan dan perampasan kendaraan bermotor, salah satunya ialah perampokan terhadap rombongan konvoi mahasiswa dari Bengkulu yang akan pulang ke Kota Lubuklinggau, Sumsel.

Aksi perampokan terhadap 10 motor rombongan mahasiswa ini kata dia, mendapatkan perlawanan dari mahasiswa sehingga mengakibatkan seorang pelaku perampokan terluka akibat bacokan senjata tajam yang dibawa rombongan mahasiswa. Kawanan perampok ini akhirnya gagal merampas sepeda motor mahasiswa.

Kasus kriminalitas membawa trauma sangat besar bagi masyarakat pengguna jalan di kawasan tersebut. Bahkan, menyarakat seolah frustasi dengan kondisi tidak aman ini. Cerita-cerita menyeramkan membuat pengguna jalan ketakutan, melewati jalan lintas Curup-Lubuklinggau, seolah melewati nelaka.

Pasca penangkapan terhadap enam orang diduga melakukan pemerasan di wilayah itu, dan beberapa kali operasi dilakukan pihak Kepolisian daerah (Polda) Bengkulu, situasi di wilayah tersebut menjadi kondusif. Seperti pepatah mengatakan, “habis gelap terbitlah terang”. Wilayah dulu dikenal menyeramkan itu, kini dalam kondisi aman dan kondusif. Jalan lintas Curup-Lubuk linggau, saat ini jauh lebih aman dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Aksi tindakan kriminalitas mulai berkurang 180 derajat di kawasan tersebut. Ini diakui salah satu pengemudi travel Bengkulu Wisata Travel, Erix (30), berkantor di Jalan Sutoyo Nomor 18 Tanah Patah, Kota Bengkulu.

“Sebulan, saya tiga hingga empat kali bolak-balik mengantarkan penumpang dari Kota Bengkulu ke Lubuk Linggau. Namun, dalam satu bulan ini belum ada kejadian aksi kriminalitas di jalan ini,” ungkap Alex, Minggu (13/4).

Ia mengatakan, banyaknya anggota berjaga di jalur tersebut, membuat jalan yang biasanya rawan, menjadi aman. Selain itu, langkah progresif dari pihak keamanan dengan membongkar pos jaga oleh kawanan preman. Sehingga preman tersebut tak berani lagi untuk meminta-minta kepada para sopir mobil travel saat melintas.

“Dulu disawangan dekat Jembatan dua wilayah Lembak, ada pos jaga untuk para preman. Sekarang sudah dibongkar oleh pihak Kepolisian ,” tambahnya.

Selain itu pemilik Bengkulu Wisata Travel Umar Ali, menambahkan, selama ini daerah tersebut memang terkenal dengan aksi kriminalitas. Namun, berkat tindakan preventif dari Polda Bengkulu, tingkat tindakan kriminalitas menurun dratis, bahkan sudah dikategorikan aman. “Kami tidak takut lagi melintasi jalan itu,” katanya.

Saat ini, tak perlu khawatir untuk melintasi jalan tersebut karena saat ini disetiap titik rawan kriminalitas, pihak kepolisan dan aparat lainnya sudah membuat pos-pos jaga. Sehingga bila terjadi tidak kriminalitas di jalan sepi, maka pihal keamanan dapat cepat membantu.

“Pengendara harus tetap waspada, kalau bisa para pengendara dapat berjalan konvoi. Baik pengedara roda dua maupun roda empat setiap melintasi daerah sepi atau sawangan,” tutupnya.

Kepala Desa Cahaya Negeri Kecamatan Sindang Kelingi, Rizal mengungkapkan, selama ini jalan lintas Curup – Lubuklinggau, khususnya sawangan desa dekat kuburan, perbatasan desa Cahaya Negeri dengan Desa Kepala Curup Kecamatan Binduriang, sangat rawan perampokan, yakni perampasan sepeda motor.

Tetapi, sejak adanya pendekatan persusif dari Polda Bengkulu dan TNI kepada warga serta tindakan tegas kepada pelaku kriminalitas di jalur itu, kriminalitas di wilayah itu sudah tidak terdengar lagi. “Semenjak ada upaya yang diakukan oleh pihak kepolisian dari Polda Bengkulu memberantas aksi kriminalitas di jalur lintas Curup-Lubuklinggau, keadaan wilayah Lembak menjadi agak kondusif.

Apalagi semenjak ditangkapnya beberapa orang yang kedapatan melakukan aksi kriminalitas, curas maupun aksi pungli jalur lintas Curup – Lubuklinggau menjadi menurun drastis. “Bisa terlihat dari dahulunya satu minggu bisa ada kejadian kriminalitas sebanyak 4 kali dan pernah satu hari ada 4 kali kejadian, dan tiap adanya kejadian korban selalu datang melapor ke rumah. Jadi saya merasa malu di mata umum. Tetapi semenjak adanya patroli rutin, baik siang maupun malam, kejadian kriminalitas jauh menurun. Untuk di bulan Febuari hingga Maret, baru ada kejadian curas, satu kali di sawangan Desa Cahaya Negeri,” ungkap Rizal.

Ia menambahkan, rawannya lokasi sawangan itu karena lokasinya yang sepi dan dekat dengan kuburan. Padahal, kata dia, pelakunya belum tentu orang dari Desa Cahaya Negeri. “Kami yang mendapatkan nama buruknya saja,” jelasnya .

Pernah ada kejadian di perbatasan Desa Cahaya Negeri yang lebih dikenal dengan Caneg tersebut, yang berbatasan dengan Desa Tanjung Aur, salah seorang sopir mobil dari wilayah Sumsel, berteriak karena hendak dirampok.

Mendengar teriakan itu, warga satu kampung keluar untuk mengamankan sopir dan penumpangnya dari aksi pelaku yang saat itu sudah berhasil merampas kunci kontak milik korban. “Melihat masyarakat desa tersebut keluar, pelakunya pun kabur,” imbuhnya.

Sementara itu, Rodiah (40), warga Desa Pelalo, pedagang jagung rebus di jalan lintas Curup – LubukLinggau, tepatnya di sawangan Desa Pelalo dengan Desa Beringin Tiga, mengatakan, semenjak 3 bulan terakhir dari Januari hingga Maret, tingkat kriminalitas di daerah itu menurun drastis. Itu bisa dilihat dari terlihat banyaknya pengendara yang melintas berani singgah di pondok jagung miliknya untuk membeli jagung, baik rebus maupun jagung mentah untuk oleh-oleh.

“Sekarang allhamdulilah, semenjak patroli polisi ditingkatkan, jalur Curup – Lubuklinggau aman. Omset kami penjual jagung pun bertambah, karena banyak pengendara yang berhenti untuk membeli atau singgah ke tempat kami. Jadi, kami harap keaman di Lembak bisa bertahan dan lebih kondusif,” harap Rodiah.

Sementara itu, Wajirin (50), warga Merasi Kabupaten Musirawas, saat ditemui BE, sedang membeli jagung di sawangan Pelalo. Ia mengaku, saat ini tidak lagi merasa was-was melintasi jalur Curup – Lubuklinggau, karena kemanan yang diperketat oleh pihak kemanan. “Sebelum pelakunya banyak tertangkap, kami selalu merasa was-was saat melintasi jalur ini. Namun, kini sudah lebih aman dan mudah-mudahan aman untuk selamanya,” kata Wajirin

Pantuan BE pada malam hari sebelum jalur tersebut aman, kendaraan yang melintas di jalur tersebut baik roda dua maupun roda empat dari Kecamatan Sindang Kelingi hingga ke Perbatasan Lubuklinggau dapat di hitung dengan jari kendaraan yang melintas dari pukul 20.00 hingga malam hampir tidak ada yang melintas dan jalan pun sangat sepi, tidak ada kendaraan dari luar kota melintas hanya kendaraan penduduk lokal yang lalu lalang di jalan tersebut .

Setelah kurun waktu tiga bulan terakhir jalur lintas Curup Lubuklinggau sudah kembali normal dan sangat jarang terdengar adanya aksi kriminalitas di jalur tersebut baik kendaraan penumpang travel, perampasan sepeda motor bahkan tidak terdengar lagi aksi pemalakan dan pungli di jalur tersebut.

Sejak, Januari hingga Maret hanya ada beberapa kaus curas saja dan bloeh dikatakan sangatlah sedikit dan menurun drastis, semenjak banyak di tagkapnya pelaku kriminal sering beraksi di jalur tersebut jalan lintas Curup- Lubuklinggau kembali kondusif dan mulai ramai di lintasi kendaraan. Terlihat puncak ramainya kendaraan yang melintas pada hari libur, kendaraan dari luar kota banyak yang melintas untuk berwisata ke Curup karena sudah aman .

Sekarang jalur lintas tersebut kian hari kian aman dikarenkan patroli dari pihak Kepolisian baik dari Polres RL ,Polsek Sindang Kelingi dan Polsek Padang Ulak Tanding yang melakukan patroli baik siang maupun malam hampir setiap jam sehingga mempersempit gerak pelaku kriminal yang akan beraksi di jalur tersebut. (bersambung)