Dewan Hormati Upaya Hukum SDN 12

BENGKULU, BE – Komisi III DPRD Kota Bengkulu menghormati Kejaksaan Negeri (Kejari) Bengkulu yang melakukan pemeriksaan ke SDN 12 Kota Bengkulu. Secara internal kelembagaan, Komisi III DPRD Kota Bengkulu sendiri telah mengupayakan agar persoalan di SDN 12 tersebut dapat diselesaikan dengan jalan kekeluargaan.
“Kita sebagai Komisi III DPRD Kota Bengkulu telah menjalankan fungsi kami untuk melakukan pengawasan. Dan semua permasalahan disana telah kita selesaikan secara kekeluargaan,” kata Ketua Komisi III DPRD Kota Bengkulu, Mardensi SAg, Senin (22/12).
Ia menjelaskan, pertemuan segitiga antara Kepala Sekolah, para guru dan para wali murid telah menghasilkan konsensus adanya kesepakatan untuk menyelesaikan persoalan ini secara damai. Pun demikian, pihak dewan tetap menghargai proses hukum yang dilakukan oleh Kejari Bengkulu.
“Kalau yang kita tangani kemarin sudak klir. Kita bahkan sudah mendapatkan dokumen tertulis pernyataan dari wali murid bahwa tidak ada lagi persoalan yang belum tuntas,” ujarnya.
Uang dana beasiswa bagi warga miskin, lanjutnya, juga telah diserahkan kepada mereka yang berhak menerimanya. Kepada dewan, sambungnya, Kepala Sekolah juga telah menyatakan tidak akan lagi mengulangi perbuatan yang sama.
“Termasuk dari Diknas juga sudah ada pernyataan bahwa perkara ini telah selesai dengan baik. Memang kalau mau dibuka, banyak sekali persoalan di sekolah itu. Pada intinya, kepala sekolah sudah mengakui kesalahannya dan wali murid juga sudah memaafkan,” ucapnya.
Persoalan di SDN 12 Kota Bengkulu ini pertama kali mencuat sejak adanya laporan para guru sekolah tersebut mengenai kinerja Kepala Sekolah, Densiana MPd ke DPRD Kota Bengkulu pada 11 Desember 2014. Laporan itu disampaikan oleh 11 guru yang ada di sekolah yang terletak di Kelurahan Kebun Geran tersebut secara tertulis dan ditandatangani. Dalam laporan tersebut disebutkan, para guru kerapkali mengalami intimidasi dari Kepsek.
Disamping mengalami intimidasi, para guru juga mengeluhkan tentang adanya dugaan penyelewengan anggaran bantuan beasiswa bagi siswa miskin dan anggaran umum sekolah. Dilaporkan juga mengenai manipulasi data murid pada Dapodik, adu domba antar guru, hingga keadaan murid-murid SD yang kerapkali mengalami tekanan mental akibat perbuatan Sang Kepsek. Para guru meniliai, semua hal itu membuat tingkat kepercayaan masyarakat kepada sekolah menjadi menurun drastis. Padahal, sekolah ini sebentar lagi akan mengikuti proses penilaian akreditasi. (009)