Ciptakan Wirausaha untuk Kurangi Angka Pengangguran

222052_66900_raker_komite_3
Suasana Rapat Dengar Pendapat Antara Direktur Jenderal Industri Kecil dan Menengah (IKM) Kementerian Perindustrian dengan Komite III DPD RI di Komplek Parlemen RI Senayan, Jakarta, Selasa (22/11). FOTO: Dok. Humas DPD RI

JAKARTA – Direktur Jenderal Industri Kecil dan Menengah (IKM) Kementerian Perindustrian, Gati Wibawaningsih mengatakan angkatan kerja mencerminkan jumlah penduduk yang secara aktual siap memberikan kontribusi terhadap produksi barang dan jasa di suatu wilayah. Data menyatakan, pada awal 2016 terdapat 127,7 juta orang angkatan kerja, terdiri dari 120,7 juta orang penduduk bekerja dan 7 juta orang pengangguran.

“Untuk mengurangi jumlah pengangguran tersebut, Ditjen IKM memiliki suatu kegiatan penumbuhan wirausaha baru,” ucap Gati saat Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komite III DPD di Gedung DPD, Komplek Parlemen Senayan, Jakarta, Selasa (22/11).

Menurut Gati, jumlah wirausaha di Indonesia masih relatif rendah. Hal itu dibandingkan dengan negara-negara maju di dunia. Berdasarkan data Bank Indonesia, dari total penduduk Indonesia sebesar 237,64 juta jiwa atau sekitar 1,65 persen yang berwirausaha sebesar 3,9 juta jiwa.

“Angka itu jauh tertinggal dibandingkan dengan negara tetangga seperti Malaysia, Thailand, dan Singapura yang mencapai di atas 4 persen,” kata Gati.

Gati menilai bangsa yang makmur di suatu negara harus memiliki minimum 2 persen wirausaha dari total penduduknya. “Hal itulah yang masih terus diupayakan oleh pemerintah. Jadi negara kita harus memiliki minimun 2 persen wirausaha dari total jumlah penduduk,” ujarnya seperti rilis Humas DPD RI.

Anggota DPD RI Provinsi Banten, Ahmad Sadeli Karim mempertanyakan tentang sulitnya membuka industri kecil atau menengah. Pemerintah, menurut Sadeli Karim, seolah-olah mengabaikan kemampuan masyarakat menengah kebawa untuk membuka usaha baru.

“Apalagi saat ini Indonesia telah dibanjiri oleh produk impor dari Cina. Bahkan harganya jauh lebih murah ketimbang produk dalam negeri,” katanya.

Ia menilai, banjirnya produk impor di Indonesia mengakibatkan persaingan tidak sehat. Tentunya harus ada campur tangan pemerintah untuk mengatasi masalah ini.

“Kenapa pemerintah tidak menekan impor? Apa lagi sekarang sudah masuk Masyarakat Ekonomi Asean (MEA). Ini sangat merugikan usaha kecil dan menengah kita,” papar Sadeli.

Sementara itu, anggota DPD Provinsi Kalimantan Timur Muslihuddin Abdurrasyid mengatakan pemerintah harus memberdayakan siswa-siswa dari SMK guna mengurangi angka pengangguran. Sebab, SMK mempunyai potensi daya usaha untuk kepentingan bangsa.

“Lulusan SMK perlu layak dipertimbangkan untuk dunia usaha dan perekonomian kita,” sarannya.

Menanggapai masukan para Senator tersebut, Gati menjelaskan saat ini pemerintah telah menggabungkan sektor usaha secara konvensional. Konvensional dimaksud yaitu menggabungkan sektor usaha dengan digitalisasi dalam bentuk marketing.

“Sehingga produk-produk kita bisa segera terangkat seperti program E-Smart IKM,” tutur dia.

Sedangkan untuk produk impor seperti dari Cina. Pihaknya telah melakukan uji produk seperti Mocin (motor Cina) yang saat ini sudah tidak beredar di Indonesia. “Kami sudah melakukan uji produk,” terang Gati.(fri/jpnn)